Penjajahan Israel atas Palestina

by
Aksi Al Aqsa Working Group (AWG) di depan Kedubes Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/4).

Jutaan orang Palestina menderita ketika cinta dan kerinduan mereka kandas karena tanah air mereka dirampas dan diduduki oleh bangsa Israel sejak tahun 1948. Sejak saat itu, Israel memenuhi tanah yang Allah berkahi itu dengan kebencian, kemarahan dan kezaliman.

Wartapilihan.com, Jakarta –AWG sebagai penggagas dan panitia pelaksana aksi ini mengajak kepada para ulama dan umat Islam serta organisasi masa, para mahasiswa, pelajar, awak media massa dan semua komponen masyarakat yang peduli kepada keselamatan Masjid Al Aqsha dan perjuangan bangsa Palestina untuk menghadiri aksi damai ini.

“Aksi ini merupakan bentuk dukungan moral dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang ingin kembali ke kampung halamannya, tanah kelahirannya, tempat mereka bersujud dan memakmurkan masjidil Aqsha sebagai masjid yang Allah muliakan, kiblat pertama umat Islam,” kata Ketua AWG Sudarmaji di Jakarta, Selasa (3/4).

Sebagaimana diketahui, aksi GRM telah dimulai sejak Jumat, 30 Maret 2018 lalu dan akan terus dilakukan hingga 15 April mendatang. Dalam aksi Jumat (30/3) lalu sedikitnya 17 orang menemui syahid dan lebih dari 1.400 orang terluka oleh penembakan militer Israel, di antaranya 179 anak-anak, 37 wanita. Tragedi ini mendorong keprihatinan yang mendalam dan tanggung jawab sesama Muslim.

“Great Return March (GRM) adalah sebuah gerakan rakyat Palestina untuk mendapatkan kembali hak mereka untuk pulang ke tanah airnya setelah hampir 70 tahun dirampas oleh penjajah Zionis Israel,” tuturnya.

Kerinduan untuk Pulang ke tanah air dan hidup damai beserta sanak keluarga serta untuk mencapai akhir usia di sana, imbuh dia adalah fitrah manusia. Jutaan orang Palestina menderita ketika cinta dan kerinduan mereka kandas karena tanah air mereka dirampas dan diduduki oleh bangsa Israel sejak tahun 1948. Sejak saat itu, Israel memenuhi tanah yang Allah berkahi itu dengan kebencian, kemarahan dan kezaliman.

“Saat 88 persen tanah Palestina sepenuhnya dikuasai kaum penjajah Israel, maka warga Palestina tidak lagi merasakan cinta, kasih sayang, perlindungan, keamanan, ketentraman bahkan untuk sekadar rasa damai di tengah tidur siang yang sekejap,” terang dia.

Jutaan orang Palestina yang terusir dari tanah airnya kini terlunta-lunta dan menjadi pengungsi di berbagai penjuru dunia selama puluhan tahun. Selama itu pula, mereka tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sebagai bangsa yang merdeka, sebagai warga dunia dengan hak-hak dan kehidupan normal sebagaimana lazimnya.

“Tak ada kesempatan berkarir pada profesi yang normal, berpencaharian hanya pada lahan dan bidang yang terbatas, bahkan dilarang memasuki negeri-negeri tertentu. Sungguh ketidakadilan melekat kepada bangsa Palestina, di dalam dan di luar negeri Palestina,” ungkapnya.

Karena itu, tambah Sudarmaji, rakyat Indonesia harus tampil mendukung gerakan GRM ini sebagai wujud cinta kasih kepada saudara-saudaranya di Palestina yang teraniaya. Lebih dari itu, aksi ini pun sebagai wujud melaksanakan amanat UUD 45 untuk mewujudkan terbebasnya dunia dari penjajahan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“Jutaan orang Palestina ingin pulang kembali ke Palestina karena rindu kepada Masjidil Aqsa, mereka ingin bersujud bersama sesama saudara muslim yang lainnya di masjid mereka tercinta. Ironis sekali ketika semua orang dari berbagai negara boleh berziarah dan sholat di Al Aqsa namun sebagian besar warga Palestina diharamkan untuk memasuki ke masjid yang justru ada di kampung mereka,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Komisi 1 DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mengutuk keras serangan oleh tentara Israel kepada warga Palestina yang sedang berdemo di perbatasan Gaza dan Israel.

“Kebiadaban dan apalagi kata yang tepat buat negara zionis yang membantai ribuan demonstrasi damai di Gaza, terkutuklah Israel dan pendukungnya” tegas Kharis di Jakarta (1/4).

Atas peristiwa tersebut, Kharis menyampaikan duka cita mendalam dan solidaritas penuh kepada korban dan keluarga korban akibat aksi serangan biadab tentara Israel. Ia juga amat kecewa dengan sikap dan langkah Amerika Serikat terkait penembakan yang dilakukan Israel kepada demonstran

“Amerika seperti menutup mata akan tingkah biadab zionis yang menembakkan peluru tajam ke arah demonstran, memalukan,” kutuk Kharis.

Ia kembali mengingatkan bahwa ada amanah Konstitusi dalam kaitan kemerdekaan Paletina dan penembakan brutal Israel terjadi salah satunya karena Palestina belum merdeka.

“Dalam Pembukaan UUD 45 jelas sekali amanat Konstitusi kita menyatakan dan menegaskan bahwa Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena itu soal Palestina bukan sekedar isu agama, tapi Indonesia melihatnya sebagai isu kemerdekaan, kemerdekaan Palestina,” jelas legislator asal Jawa Tengah, Solo.

Kharis meminta agar Indonesia mendorong Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar rapat darurat, dan dibentuk tim independen dan melaporkan hasilnya kepada dunia atas kejadian di Gaza kemarin.

“Israel memiliki tanggung jawab dibawah hukum Hak Asasi Manusia dan kemanusiaan internasional untuk melindungi warga sipil, karena itu PBB harus mengusut hingga tuntas dan jangan biarkan pelanggaran HAM didepan mata rakyat dunia terjadi di Gaza Palestina,” tutup Kharis.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *