Momentum Pergantian Kepemimpinan

by
Mardani Ali Sera. Foto: Istimewa

“Inti hastag ini (#2019GantiPresiden) adalah agar elite memahami ada harapan umat untuk berjuang bersama. Tetapi, ada prasyarat. Yaitu mereka yang diusung harus sesuai dengan keinginan umat dan ulama. Serta diamini oleh partai pengusung,” ujar Mardani Ali Sera.

Wartapilihan.com, Bekasi — 72 tahun Indonesia merdeka masih menyimpan banyak problematika kebangsaan dan kenegaraan. Eksploitasi alam yang serakah, disparitas yang dalam, tata kelola pemerintahan yang lemah, meningkatnya eksponensial penduduk, keterbatasan sumber daya energi, dan sejumlah persoalan lain menjadi catatan kepemimpinan Indonesia saat ini.

Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun konstelasi untuk menentukan pemimpin Indonesia ke depan. Hajat lima tahunan itu harus mampu mewujudkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia serta kesiapan dalam menghadapi kemajuan teknologi dan bonus demografi pada 2024 mendatang.

Merespon hal tersebut, dalam rangka mensyukuri perjalanan 26 tahun, Dakta Media Network menggelar Mudzakarah Kebangsaan guna ikhtiar mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab. Sekjen PKS Mardani Ali Sera dalam kesempatan tersebut menuturkan, salah satu hilangnya keberkahan dan datangnya kehancuran suatu negara adalah menyerahkan amanah (kekuasaan) kepada orang yang bukan ahlinya.

“Sudah terlalu lama negara ini diserahkan kepada orang yang tidak berhak. Maka, tahun 2019 mendatang adalah momentum bangsa ini melakukan perubahan besar dengan mengganti pemimpin secara sah dan konstitusional,” ujar Madani di Hotel Horison, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/3).

Terlebih, lanjut Mardani, Pilpres (pemilihan presiden) pada 17 April 2019 mendatang dilakukan secara serentak dengan Pileg (pemilihan legislatif). Menurutnya, 84% masyarakat Indonesia akan tertuju perhatiannya kepada Pilpres. Hanya 11% yang melihat Pileg baik karena kedekatan emosional, profesi ataupun hubungan sosial.

“Artinya, jika umat Islam solid, insya Allah kemenangan akan mudah diraih. Momentum 212 tidak boleh hilang. Dan partai yang memiliki keberpihakan terhadap Islam dan umat Islam harus patuh terhadap titah alumni 212,” seru Anggota DPR dari Dapil Jawa Barat VII ini.

Guna merealisasikan hal tersebut, Mardani terus mengkampanyekan hastag #2019GantiPresiden. Ia melihat animo masyarakat lebih besar untuk terwujudnya perubahan secara kolosal dibandingkan kampanye belaka dalam menentukan pilihan.

“Inti hastag ini adalah agar elite memahami ada harapan umat untuk berjuang bersama. Tetapi, ada prasyarat. Yaitu mereka yang diusung harus sesuai dengan keinginan umat dan ulama. Serta diamini oleh partai pengusung,” paparnya.

Selain itu, simpul Mardani, seluruh gerakan umat harus bekerjasama dalam suksesi kepemimpinan nasional yang direkomendasikan ulama. Sehingga, di tahun 2019 mendatang negara Indonesia diberikan seorang pemimpin yang memegang teguh nilai-nilai keislaman dalam menjalankan amanahnya.

“Tidak saatnya lagi umat Islam ini memberikan cek kosong kepada pemimpin yang tidak peduli kepada aspirasi umat. Saatnya kedaulatan politik dipimpin umum Islam,” tutup Mardani.

Dalam kesempatan sama, penasihat persaudaraan alumni 212 (PA 212) Eggi Sudjana mengingatkan peserta mudzakarah kebangsaan dengan surat Al-Fatihah tentang jalan yang lurus (shiratal mustaqim). Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau (Allah Swt) beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

“Maka, pilihlah pemimpin yang menegakkan hukum Allah. Jika Prabowo mau maju, kita tanyakan apakah hendak menegakan hukum Allah atau tidak. Jika tidak, ya jangan dipilih,” kata Eggi menegaskan.

Selain itu, Eggi mengingatkan Surah Ali Imran ayat 142. Dalam konteks merawat Indonesia, meskipun banyak perbedaan pendapat, namun Allah telah memberikan warning (peringatan) untuk tetap membangun generasi taqwa, bersikap keras terhadap orang kafir dan berjihad di jalan Allah Swt.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا
مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ () وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya. Q.S 3: 142-143.

“Kunci persaudaraan di antara umat Islam adalah selalu bersangka baik, empati, solidaritas, dan menjaga hubungan fungsional yang dinamis,” tandasnya.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *