Menteri Kesehatan Nila F Moeloek bertemu dengan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) membahas soal imunisasi Measles Rubella (MR) yang banyak diperbincangkan karena diragukan kehalalannya.
Wartapilihan.com, Jakarta –“Menkes RI menunda pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat Muslim sampai ada kejelasan hasil pemeriksaan dari produksen (SII) dan ditetapkan fatwa (halal) MUI,” kata Sekretaris Komisi Fatwa Asrorun Niam Sholeh, Sabtu (4/8/2018).
Ia menyampaikan, dari hasil pertemuan tersebut, Kemenkes beserta PT Biofarma sebagai importir vaksin MR dari SII berkomitmen untuk segera mengajukan sertifikasi halal dan permohonan fatwa untuk imunisasi dari MUI.
“Keresahan yang muncul di tengah masyarakat mengenai kesimpangsiuran informasi tentang kehalalan perlu segera direspon secara bijak dan agar ada kepastian serta ada panduan keagamaan yang tepat,” tutur Niam.
Nila sendiri berkata, pihak Kemenkes akan memberikan surat kepada Serum Institute of India (SII) untuk menyanyakan sekali lagi bahan-bahan dari MR tersebut.
“Sebenarnya ini sudah dilakukan sejak tahun lalu tapi masih dalam proses
kami tetap melakukan imunisasi bagi orang yang tidak terkait dengan isu halal,” kata Nila.
Kemenkes berkomitmen untuk tetap melindungi masyarakat dari penyakit dengan memberikan vaksin kepada masyarakat yang tidak mempermasalahkan kehalalan.
“Yang menolak boleh menunggu fatwa dari MUI, insyaallah tidak terlalu dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena ini berjalan dalam waktu dua bulan, kita akan lakukan pada Agustus dan September,” tegas dia.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Bio Farma, Rahman Rustam juga turut berkomentar. Vaksin MR, kata dia, diproduksi dari India yang masih dalam tahap riset pengembangan yang akan selesai di tahun 2020 dan selesai dengan tuntas pada 2024.
“Yang sudah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) itu adalah India, Serum Institute of India. Nah itu sudah diaudit mengenai kuality savety.
Nah biofarma konsen terhadap isu halal. Oleh karena itu kita minta dari tahun lalu ke pihak produsen untuk segera menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan terkait halal. Nah memang membutuhkan waktu karena kompleks, kita terus intens kepada mereka untuk segera menyiapkan,” tutur Rahman.
Ia menjelaskan, vaksin MR dari India ini sudah digunakan di 141 negara karena sudah diakui oleh WHO; termasuk negara negara Islam, Arab Saudi yang telah menggunakan vaksin MR dari India.
“Nah itu yang menjadi dasar bagi kita untuk meminta India untuk membantu negara kita untuk program imunisasi daerah. Dari India masih berproses di Indianya untuk menyiapkan dokumen-dokumen itu, tapi kita fasilitasi, kita akan bantu ngepush temen-temen dari India ini untuk segera menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan,” tukasnya.
Kalau produk biofarma sendiri ada berapa banyak sih pak yang mendapat sertifikasi halal?
Dia mengaku, untuk mengumpulkan dokumen-dokumen soal kehalalan merupakan hal yang kompleks karena dikembangkan dari virus dan bakteri yang dilemahkan; proses tersebut menggunakan material impor.
“Nah ketika kita mengejar dokumen dari impor, itu yang menjadi tantangan kita semua karena menyampaikan oemahaman halal ke negara negara lain itu tidak secepat di negara kita ya karena konsen halal di India di China itu mungkin belum terlalu besar,” terang dia.
Eveline Ramadhini

