Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

by
Foto: hotelmadanis.com.

Suami dan istri harus semakin pandai mengenali pasangan setiap hari. Hal ini diperlukan dalam rangka menjaga keutuhan keluarga, agar tidak mudah goyah bahkan karam oleh ombak permasalahan.

Wartapilihan.com, Jakarta — Tidak jarang keutuhan rumah tangga terkoyak oleh pihak ketiga. Sudah sering saya sampaikan tentang fenomena “tiba-tiba” dalam kehidupan rumah tangga yang menghancurkan keluarga. Di ruang konseling, sering djumpai suami yang menyatakan kekagetan, karena “tiba-tiba istrinya selingkuh”.

Sering pula dijumpai istri yang menyatakan terkejut karena “tiba-tiba suaminya selingkuh”, atau bahkan karena ternyata “suami saya sudah menikah lagi”.

Menurut Cahayadi Takariawan selaku konsultan keluarga, sungguh aneh komentar “tiba-tiba” tersebut. Tidak bisa dimengerti bagaimana selingkuh dikatakan sebagai tiba-tiba. Hubungan hati suami dengan perempuan lain, atau seorang istri dengan lelaki lain, tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang sudah berjalan berminggu atau berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, namun tidak dirasakan gejalanya oleh pasangan.

“Padahal mereka hidup bersama dalam satu rumah, hampir setiap hari bertemu dan berkomunikasi sebagai suami isteri. Seakan semua tampak biasa saja, seperti tidak ada gejala yang berbeda,” kata Cahayadi, berdasarkan laman pakcah.id, Jum’at, (5/10/2018).

Menurut dia, sebetulnya yang terjadi bukanlah ketiba-tibaan, namun tidak dikenalinya perubahan-perubahan yang ada pada diri pasangan. Pasangan suami istri itu sudah lama berhenti saling mengenali, sehingga terkejut dengan kondisi yang ada pada pasangannya saat ini.

“Ternyata pasangan sudah melakukan hal yang tidak dikenal dan tidak diketahui, dalam waktu cukup lama,” ia menjelaskan.

Maka dari itu, penting untuk menjaga ketahanan keluarga. Yang paling penting menurut dia ialah menguatkan pondasi hidup berumah tangga yang berupa motivasi atau niat.

“Kokohkan motivasi bahwa hidup berumah tangga adalah ibadah, bukan permainan atau sekedar bersenang-senang. Keluarga adalah unit yang sangat mendasar dalam membentuk peradaban kemanusiaan,”

Selain hal yang bersifat pondasi tersebut, paling tidak ada empat hal praktis yang harus dilakukan suami dan isteri untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan rumah tangga, yaitu yang pertama meningkatkan kondisi ruhaniyah keluarga.

“Hal yang sangat fundamental dalam kehidupan berumah tangga adalah pondasinya. Pondasi hidup berumah tangga bercorak ruhaniyah, yaitu taqwa. Maka memupuk kecintaan kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, mentaati aturan Allah, meneladani kehidupan Rasul mulia Saw, adalah pondasi kebahagiaan dan keutuhan berumah tangga.

Tidak akan ada kebahagiaan dalam kemaksiatan. Tidak ada kemuliaan hidup dalam pelanggaran,” jelasnya.

Selain itu menguatkan bonding bersama pasangan. Kelekatan (bonding) yang kuat antara suami dan istri, menyebabkan mereka tidak mudah dipisahkan oleh peristiwa apapun. Bonding muncul dari kedekatan emosional antara suami dan istri.

“Apabila suami dan istri memiliki kelekatan secara emosional, membuat mereka selalu nyaman dan tersatukan. Berbagai percekcokan, pertengkaran, hingga perselingkuhan, adalah pertanda melemahnya bahkan hilangnya bonding antara suami dan istri,” jelas dia.

Fenomena pelakor (perebut laki orang) dan pebinor (perebut bini orang) menurut dia merupakan istilah sarkasme yang tidak perlu ada, sepanjang bonding antara suami dan istri selalu terjaga.

“Bagaimana mungkin ada orang lain bisa masuk dan bahkan merebut suami, apabila ikatan dengan istri demikian lekat. Bagaimana pula ada orang lain bisa masuk dan bahkan merebut istri, apabila ikatan dengan suami demikian lekat. Tidak akan terjadi,” tutur dia.

Hal lainnya yang sangat penting bagi suami dan isteri yaitu selalu merajut komunikasi setiap hari. Kehangatan komunikasi akan menyebabkan suami dan istri selalu terhubung setiap saat. Jika tidak bisa komunikasi secara langsung karena sedang berpisah tempat, bisa lewat sarana teknologi seperti telepon, sms, chatting, email dan lain sebagainya. Harus ada ikatan hati dan rajutan perasaan, yang dibangun melalui proses komunikasi setiap hari.

“Sekedar menyapa, “Apa yang sedang kau lakukan sekarang ? Bagaimana kabar anak-anak kita? Engkau sudah makan siang? Jangan lupa obatnya diminum siang ini”, dan semacamnya, sangatlah penting. Komunikasi rutin ini akan membuat suasana kedekatan antara suami dengan isteri, walaupun mereka sedang berada di tempat yang tidak sama,” imbuh Cahayadi.

Selanjutnya, Cahayadi menambahkan, penting bagi semua keluarga untuk “berhenti sejenak” guna melakukan evaluasi dan introspeksi. Kehidupan rumah tangga akan berjalan monoton dan mekanis, jika tidak ada kesempatan evaluasi. Suami dan isteri harus meluangkan waktu untuk berbicara berdua, melakukan evaluasi terhadap berbagai kondisi dalam kehidupan rumah tangga.

“Mungkin ada harapan suami yang tidak terkomunikasikan selama ini, mungkin ada harapan isteri yang belum tersampaikan kepada suami. Kesempatan itu harus dimanfaatkan untuk momentum memperbaiki diri, dan berusaha menyesuaikan dengan harapan dari pasangan,” kata dia.

Cara melakukan evaluasi ini tidak mesti dalam bentuk formal seperti dalam organisasi dengan membuat forum resmi. Bisa saja dilakukan sambil rekreasi, sambil mengisi waktu dalam perjalanan, sambil mengobrol saat ada kesempatan berdua di rumah, sambil berbaring sebelum tidur, dan sebagainya. Bukan soal bentuk ‘forum’nya, namun lebih kepada esensinya.

Kehidupan berumah tangga bisa juga mengalami titik kejenuhan. Tidak ada gairah, semangat dan kehangatan dalam menjalani kehidupan keluarga, karena terkikis oleh kesibakan masing-masing. Semuanya berjalan rutin dan mengalir begitu saja tanpa irama. Suami dan istri melakukan aktivitas rutin setiap hari, begitu saja setiap harinya.

“Jika mengalami titik jenuh seperti ini, harus segera melakukan refreshing cinta. Gergaji saja harus sering diasah agar tidak tumpul dan selalu memiliki energi tinggi untuk menggergaji. Maka rumah tangga juga harus sering melakukan refreshing cinta agar tidak mengalami kejumudan dan kejenuhan,” katanya.

Ketika menghadapi konflik atau masalah dalam kehidupan berumah tangga, dia menyarankan, suami dan istri pandai menempatkan diri. Sikap yang tepat dalam menghadapi setiap masalah adalah “kita hadapi bersama”. Suami dan istri menempatkan diri dalam posisi yang sama, dan menganggap bahwa itu adalah masalah mereka berdua yang harus dihadapi secara bersama. Tidak bijak seorang suami menyatakan, “Itu masalahmu, bukan masalahku”. Tidak bijak seorang istri menyatakan, “Itu masalahmu sendiri, aku tidak punya masalah itu”.

“Kesediaan untuk menghadapi masalah secara bersama, membuat mereka berdua selalu disatukan oleh sikap dan posisi. Tidak berdiri berhadap-hadapan pada dua posisi yang terpisah, lalu saling menyerang secara kasar dan brutal, seakan-akan tidak ada lagi kasih sayang di antara mereka.

Bukankah pernikahan mereka lakukan dengan sepenuh kesadaran dan tanggung jawab? Maka jika ada masalah juga harus dihadapi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” pungkas Cahayadi.

 

Eveline Ramadhini