Mengambil Hikmah Dari Ustazah Nani

by
Ustazah Nani Handayani. Foto: Zuhdi

Berdakwah merupakan perintah Allah dan Rasulullah kepada umat Islam dimanapun berada untuk mengajak kepada ma’ruf (kebaikan) dan mencegah kemungkaran. Meskipun hanya disampaikan satu ayat saja.

Wartapilihan.com, Jakarta –-Namanya sempat viral di media sosial setelah mengisi taushiyah keagaaman di salah satu stasiun televisi. Pasalnya, publik sempat dihebohkan dengan tulisan Ustazah yang salah terkait ayat Al-Qur’an. Yaitu Ustazah Nani Handayani.

Aktivis dakwah kelahiran Jakarta tahun 1961 ini rutin mengisi kajian di BDI perkantoran seperti di Sekretariat Jenderal DPR RI,
IIP (Ikatan Istri Pimpinan) BUMN, Bank Indonesia, Bank Mandiri Syariah, BCA, Telkomsel, Indosat, Astra Honda Motor, Lintas Artha, Toyota, Protellindo, dan Nokia.

Wartawan Warta Pilihan (wartapilihan.com) Ahmad Zuhdi bersama rekan-rekan media melakukan kunjungan shilaturahim sekaligus mendengarkan penjelasan berita yang viral di media sosial terkait kesalahan penulisan ayat Al-Qur’an, bertempat di bilangan Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (21/12). Berikut kutipannya:

Mengapa Ustazah lebih tertarik memilih jalur dakwah?

Sejak tahun 1980, saya dengan teman-teman HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sudah menyampaikan dakwah dari panggung ke panggung. Bang Eggi (Eggi Sudjana), Kaban (M.S Kaban), Bursah (Bursah Zarnubi) menyemangati saya untuk terus berdakwah. Padahal, saat itu saya kuliah jurusan Kimia di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

Terkait tulisan ayat Al-Qur’an di media sosial yang ramai, bagaimana tanggapannya?

Iya, jadi memang saat itu saya dikejar target lima episode harus selesai dalam satu pertemuan. Sebelum rekaman saya nulis (ayat Al-Qur’an), namun begitu saya mencoba nulis tidak ada artinya. Akhirnya, saya menggunakan tangan yang langsung terhubung ke layar, tetapi jadi berantakan. Huruf yang seharusnya tidak sambung, malah sambung. Termasuk titik-titiknya malah tidak bersesuaian. Karena susah, sementara posisi screen di belakang, saat itu Crew yang menuliskan, bukan saya.

Bagaimana respon keluarga dan orang terdekat Ustazah mengetahui hal itu?

Memang awalnya suami menolak saya untuk mengisi dakwah di sana (Metro TV), karena kita tahu juga selama ini bagaimana pemberitaannya. Tetapi karena saya orangnya sekali maju, tidak pantang mundur, dan demi kebaikan, akhirnya saya ambil tawaran tersebut.

Lantas apa motivasinya menerima tawaran tersebut?

Saya tidak tega, tipikal orang tidak tegaan ketika ada yang memintakan sesuatu untuk kebaikan, kemudian saya menolak. Dan Masya Allah, disana orangnya sangat ramah. Mulai dari resepsionis, programmer sampai kameramen semuanya baik. Tetapi yang membuat saya ilfeel ketika disuruh make up berlebih dan menulis dengan alat screen.

Namun alhamdulillah, setelah kejadian itu, Metro TV lebih memperhatikan program religi dan sekarang hampir semua TV harus memiliki editor syariah. Sebelumnya juga empat orang datang ke rumah saya dari Metro TV dan meminta maaf.

Bagaimana respon dari masjid dan majelis taklim dimana Anda sudah terjadwal pasca kejadian ini?

Atas izin Allah, aktivitas saya menjadi positif tetapi ada juga yang negatif. Sebelumnya saya pernah sampai 100 episode di MNC. Pernah juga di Indosiar sebelum Mamah Dedeh bersama host Irfan Hakim.

Alhamdulillah setelah kejadian di Metro TV tidak ada satu jadwal pun yang menolak. Bahkan, di Bank Mandiri Syariah tetap dilanjutkan dan saya menjadi satu-satunya pemateri dari kalangan perempuan di seluruh Bank Mandiri Syariah se-Indonesia.

Bagaimana proyeksi Ustazah ke depan, sudah ada proses regenerasi?

Alhamdulillah selain mengisi di BDI perkantoran. Saya juga mengisi 38 Majelis taklim di masyarakat dan membentuk Sekolah Dakwah. Disinilah para muslimah diajarkan materi aqidah, ibadah, fiqih, muamalah, dan tsaqofah islamiyah dengan mengusung tagline “Belajar Berdakwah bersama Bu Nani”.

Materi apa yang banyak diminati oleh jamaah ?

Rata-rata materi yang disukai adalah materi rumah tangga. Bagaimana kewajiban istri terhadap suami begitupun sebaliknya, cara mengajarkan kepada sang buah hati dan lain sebagainya.

Apa hikmah setelah ini?

Saya melihat TV lebih kepada entertain dan hiburan, tidak terlalu mengedepankan kualitas. Hikmahnya saya harus lebih berhati-hati lagi, sehingga pesan dakwah tidak putus dan sampai kepada masyarakat.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *