Konsep Pendidikan Imam Syafi’i

by
Muhammad Ardiansyah. Foto: Eveline

Selain dikenal sebagai ulama fiqih, sebetulnya Imam Syafi’i (50 H/767 M – 204 H/819 M) juga pakar hadits, pakar bahasa Arab dan sastrawan ulung. Kiprahnya sebagai ulama multidisiplin tak lupa membuatnya konsern di bidang pendidikan yang tercantum dalam syair-syairnya.

Wartapilihan.com, Jakarta– Hal tersebut disampaikan Muhammad Ardiansyah, dalam acara INSISTS Saturday Forum bertajuk ‘Konsep Pendidikan dalam Syair-syair Imam Syafi’I, beberapa waktu lalu, di Gedung INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan, tujuan pendidikan bukan untuk mendapatkan pekerjaan yang bergaji besar ataupun berkarir mapan, melainkan menjadi orang yang bertambah kebaikannya, adil dan juga mulia.

Dalam syairnya dikatakan, “Jika ilmu seseorang tidak membuat hatinya semakin bertambah hidayah, tidak membuatnya menjadi orang yang adil dan tidak membuatnya beradab mulia, maka berilah kabar gembira kepadanya bahwa Allah telah menyiapkan baginya adzab seperti mereka yang menyembah berhala.”

“Salah satu tujuan pendidikan nasional adalah menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, tetapi realitanya nggak demikian. Seharusnya jika memang tujuannya demikian, misalnya ketika sidang skripsi sudah bagus, tetapi harus ditanya, ‘Sudah shalat subuh belum?’ Jika belum, dia harusnya tidak boleh lulus, karena belum sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional” terang Ardiansyah.

Hal paling utama untuk dipraktikkan dalam konsep pendidikan Imam Syafi’I, Ardiansyah mengatakan, yaitu ilmu akidah. Seperti yang tertuang dalam syairnya, “Diriku sungguh merasa aneh bagaimana mungkin Allah ditentang, dan bagaimana mungkin ada orang yang mengingkari wujudNya. Padahal semua yang bergerak ataupun yang diam selamanya menjadi saksi akan wujudNya. Dan dalam setiap sesuatu, ada tanda yang menunjukkan bahwa Dia-lah Tuhan yang Esa.”

“Melalui syair ini, secara tidak langsung Imam Syafi’i mengatakan pentingnya mempelajari ilmu akidah demi menyelamatkan diri dari kekufuran. Ia mengajak para penuntut ilmu untuk mengenal dan meyakini wujud Allah dari berbagai ciptaanNya,” ujar Ardiansyah.

Menyempurnakan Fiqih dengan Tasawuf

Lebih lanjut Ardiansyah menuturkan, Imam Syafi’i kendati merupakan imam di bidang fikih, ia sangat menekankan agar belajar ilmu tasawuf juga. Dalam salah satu syairnya dikatakan, “Berusahalah engkau menjadi seseorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga tasawuf, dan janganlah kamu hanya mengambil salah satunya.

“Orang yang hanya mempelajari ilmu fikih tetapi tidak mau menjalankan tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mempelajari ilmu fikih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?” tutur Ardiansyah mengutip syair Imam Syafi’i.

Secara sederhana, yang dimaksud tasawuf adalah adab terhadap Allah. Misalnya, di dalam fikih boleh laki-laki shalat menjadi imam dengan menggunakan batasan dari pusat hingga lutut. Tetapi, aspek tasawuf melihat hal tersebut tidak dimungkinkan karena menghilangkan adab terhadap Allah.

“Contoh lain, misalnya antum sedekah. Nggak mungkin kan sedekah pakai kaki? Meski hal tersebut sah-sah saja, tapi kan nggak ada adabnya,” tukas dia.

Adapun ilmu yang berbahaya menurut Imam Syafi’i yaitu mengenai ilmu nujum atau sihir, seperti perbintangan atau ramalan kehidupan. Hal tersebut dusta karena ia yakin bahwa qada dan takdir Allah lebih wajib dipercayai dibandingkan perkataan ahli nujum.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *