KIAT SUKSES KULIAH ISLAM DI TIMUR TENGAH

by

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Dalam beberapa bulan ini, saya menerima kunjungan sejumlah sarjana yang lulus dari kampus-kampus di Timur Tengah. Kepada mereka saya sarankan agar terjun ke dunia dakwah sebagai guru atau sebagai dai ke daerah-daerah, sebelum melanjutkan studi ke jenjang magister atau doktor.

Mengapa saya memberikan saran seperti itu? Tujuannya agar benar-benar mengenal dan merasakan problematika umat dan memahami solusinya. Sebab, biasanya kurikulum pendidikan di kampus-kampus di Timur Tengah itu bersifat linier.

Misalnya, yang kuliah Ilmu Hadits, maka ia diajar secara mendalam tentang Ilmu Hadits tetapi kurang dibekali dengan wawasan keilmuan dalam bidang-bidang ilmu lain serta kurang memiliki kemampuan analisis dan problem solving. Lulusannya terutama diharapkan memiliki kompetensi ilmu hadits dan mampu mengajarkannya. Artinya, ia disiapkan menjadi seorang mu’allim.

Maka, alangkah baiknya, sebelum melanjutkan kuliah tingkat pasca sarjana, ia menambah wawasannya dengan berbagai keilmuan di bidang lain dan meningkatkan ketrampilannya dalam komunikasi lisan dan tulisan. Bekal ini sangat diperlukan untuk pendalaman ilmu pada tahap berikutnya. Juga, itu diperlukan untuk mendapatkan hikmah agar dapat mengamalkan dan mengajarkan ilmunya dengan benar dan bijak.

Tujuan utama belajar ulumuddin adalah agar seorang bisa menjadi ulama pejuang atau ulama pewaris nabi. Karena itu, niat dan tujuan mencari ilmu itu harus benar. Jangan sampai mencari ilmu untuk mencari keuntungan dunia dan melupakan tujuan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan agar menjadi orang yang bermanfaat.

Sebenarnya, sebelum mahasiswa memilih untuk kuliah Islam di Timur Tengah, maka yang diperlukan adalah pemahaman yang benar tentang ilmu dan dakwah serta memiliki ketrampilan menulis yang baik. Sayangnya, dua hal ini biasanya kurang diperhatikan. Yang lebih dominan adalah persiapan untuk berkemampuan dalam bahasa Arab.

Faktanya, hingga kini, kampus-kampus di Timur Tengah masih menjadi tujuan utama bagi para santri untuk melanjutkan kuliah dalam bidang ilmu-ilmu keislaman (ulumuddin), seperti ilmu-ilmu al-Quran, Ilmu bahasa Arab, Ilmu hadits, ilmu syariat, ilmu sejarah Islam, dan sebagainya. Ini tantangan bagi kampus-kampus Islam di Indonesia untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikannya.

Biasanya, para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Timur Tengah tidak mendapatkan kuliah tentang sejarah, budaya, dan politik di Indonesia. Mereka juga tidak atau kurang mendapatkan pembinaan ketrampilan menulis. Akibatnya, ketika balik ke Indonesia, biasanya tidak memiliki pemahaman tentang sejarah, budaya, dan politik Indonesia dengan memadai. Ini terkait dengan kebijakan dalam melaksanakan dakwah di Indonesia.

Ketiadaan ketrampilan menulis akan menyebabkan mahasiswa atau sarjana tidak dapat merumuskan gagasannya dengan baik dalam bentuk tulisan. Berdakwah itu wajib. Maka, segala ilmu dan ketrampilan yang diperlukan untuk terlaksananya dakwah dengan baik, maka wajib pula hukumnya. Termasuk dalam hal ini adalah ketrampilan menulis dan public speaking.

Ketrampilan menulis tidak dapat diraih dengan instan. Perlu kesabaran dan kesungguhan dalam memiliki ketrampilan menulis. Perlu semangat dan latihan yang terus-menerus untuk mengasah ketajaman pena agar dapat melahirkan karya-karya tulis yang baik, yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan dakwah.

Karena itu, patut disayangkan, banyaknya santri atau pelajar yang mencari ilmu ke Timur Tengah, tetapi kurang bekal wawasan keilmuan dakwah dan kurang kemampuan yang baik dalam menulis. Sayang sekali. Lebih disayangkan, jika mereka mencari ilmu tanpa niat yang benar dan salah pergaulan.

Jadi, ringkasnya, agar sukses mencari ilmu-ilmu keislaman di Timur Tengah, disamping penguasaan bahasa Arab, maka berniatlah yang benar, siapkanlah wawasan keilmuan tentang ilmu dan dakwah yang memadai, ditambah dengan ketrampilan menulis yang baik. InsyaAllah dengan itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan menjadi orang berguna, saat kembali ke tanah air Indonesia! Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 31 Mei 2024).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *