Ketika Kata Kehilangan Kelembutan: Melacak Runtuhnya Kesantunan Bahasa dan Matinya Jiwa Peradaban

by

Catatan Kebudayaan: Refleksi Kritis atas Puisi Iwan Wientania tentang Pentingnya Merawat Sastra di Tengah Era Digital

KETIKA KATA KEHILANGAN KELEMBUTAN

Oleh: Iwan Wientania

Maju atau mundurnya suatu bangsa
tidak hanya diukur dari sains dan teknologi,
tapi juga dari literasi dan kesusasteraannya.

Apabila literasi dan kesusasteraan stagnan,
maka sulit membayangkan sains dan teknologi seperti apa yang akan dicapai.

Dan kalaupun sains dan teknologinya maju,
mampukah manusia selamat
dari efek negatif kemajuan itu sendiri?

Lihatlah,
bangsa ini di hari ini.
Pendidikan nyaris mengeliminasi
sejarah, budaya, literasi, dan kesusasteraan.

Yang diagungkan dan dipuja:
matematika, fisika, dan teknologi informasi digital.
Sementara mencintai sejarah, pantun, sajak, puisi…
bukan hanya stagnan,
tapi ada yang menghilang dan ditinggalkan.

Akibatnya,
dalam berbicara pun masyarakat kehilangan kelembutan,
kehilangan kesantunan, kehilangan keromantisan.

Bayangkan…
seorang presiden, pejabat, bahkan pemuka masyarakat
berbicara dengan “Lu-Gue”.

Di syair lagu pun,
cinta berubah jadi kasar dan vulgar:
_”Kuremas jarinya, kukecup bibirnya, kupeluk tubuhnya.”_
Sehingga cinta kehilangan romansanya.

Kata-kata “Sialan!”, “Brengsek!”, “Bunuh!”, “Hancurkan!”
sudah jadi makanan sehari-hari.

Sampai seorang ayah dari Malaysia bertanya kepada saya:
_”Apa arti ‘brengsek’, Pak?
Anak saya bilang, ‘Ayah brengsek!’
karena suka nonton sinetron Indonesia.”_

Semoga pena-pena kita mengembalikan kelembutan pada kata dan budaya._

_Agustus 2025_

Teras Berita (Lead)

Di era di mana gedung-gedung tinggi, kecerdasan buatan, dan akselerasi teknologi digital dipatok sebagai tolok ukur utama kemajuan, ada sesuatu yang sunyi namun mendasar sedang tanggal dari jiwa masyarakat kita: kelembutan bahasa. Melalui puisinya yang bernada gugatan sosial bertajuk “Ketika Kata Kehilangan Kelembutan” (Agustus 2025), penyair Iwan Wientania menyuarakan kecemasan mendalam atas krisis humaniora yang tengah melanda peradaban modern—sebuah kondisi di mana teknologi melaju pesat, namun empati dan kesantunan bertutur justru mengalami kemerosotan tajam.

1. Kemajuan Tanpa Kompas Moral: Dilema Sains dan Humaniora

Penyair mengawali bait puisinya dengan sebuah premis mendasar yang menantang definisi arus utama mengenai kemajuan suatu bangsa:

Maju atau mundurnya suatu bangsa

tidak hanya diukur dari sains dan teknologi,

tapi juga dari literasi dan kesusasteraannya…

Dalam diskursus pembangunan modern, kuantifikasi keberhasilan sering kali terfokus pada angka-angka pertumbuhan ekonomi, kecanggihan infrastruktur digital, serta penguasaan sains teknis. Namun, Iwan Wientania mengingatkan bahwa sains dan teknologi hanyalah mesin penggerak, sementara sastra dan literasi adalah kompas moralnya.

Ketika literasi dan kesusasteraan stagnan, sains dan teknologi berisiko kehilangan landasan etis. Sebuah bangsa mungkin sanggup menciptakan perangkat digital maha-canggih atau algoritma cerdas, namun tanpa kepekaan humaniora yang dibentuk oleh sastra, hasil ciptaan tersebut berpotensi menjadi bumerang. Pertanyaan reflektif penyair—“mampukah manusia selamat dari efek negatif kemajuan itu sendiri?”—menjadi peringatan nyata akan bahaya disrupsi teknologi yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan.

2. Ketimpangan Orientasi Pendidikan: Matinya Pelajaran Rasa

Mengapa kelembutan itu menguap dari kehidupan bermasyarakat? Puisi ini menunjuk langsung pada akar masalahnya: sistem pendidikan yang timpang.

Pendidikan nyaris mengeliminasi

sejarah, budaya, literasi, dan kesusasteraan.

Yang diagungkan dan dipuja: matematika, fisika, dan teknologi informasi digital…

Kritik ini mencerminkan realitas sosial di mana kurikulum dan orientasi belajar masyarakat modern cenderung mengagungkan mata pelajaran kuantitatif (STEM: Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sembari mengesampingkan pelajaran-pelajaran yang mengasah intuisi, sejarah, rasa, dan seni bertutur.

Pendidikan yang terlalu mengosongkan nilai-nilai kebudayaan melahirkan generasi yang mahir secara teknis, namun asing terhadap sejarah biologis bangsanya sendiri. Ketika sajak, pantun, dan puisi dianggap sebagai pelengkap yang tak berguna di pasar kerja digital, masyarakat kehilangan ruang untuk melatih rasa kepekaan batin (empathy building).

3. Runtuhnya Kesantunan di Ruang Publik dan Popular Culture

Dampak dari pengabaian sastra dan literasi tidak hanya berhenti di dalam kelas, melainkan menjalar luas ke ruang-ruang publik. Iwan Wientania menggarisbawahi tiga manifestasi utama kemunduran bahasa dalam kehidupan sehari-hari:

A. Defisit Teladan Kesantunan Pejabat Publik

Bayangkan… seorang presiden, pejabat, bahkan pemuka masyarakat berbicara dengan “Lu-Gue”.

Penggunaan ragam bahasa santai atau pergaulan informal (“Lu-Gue”) oleh figur otoritas di panggung formal menandakan kaburnya garis batas antara keakraban pribadi dan penghormatan institusional. Bahasa pejabat publik bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin martabat budaya. Ketika pemimpin kehilangan kelembutan dan etika berbahasa, ruang publik terdegradasi menjadi arena bertutur yang serampangan.

B. Vulgarisasi Makna Cinta dan Romantisme

Di syair lagu pun, cinta berubah jadi kasar dan vulgar…

Sehingga cinta kehilangan romansanya.

Sastra klasik mengajarkan bahwa cinta adalah pengalaman spiritual dan emosional yang agung. Namun, dalam arus budaya populer masa kini, ekspresi cinta kerap disederhanakan menjadi transaksi fisik yang gamblang dan eksplisit. Penyair mengkritik bagaimana lirik-lirik lagu modern mengikis kedalaman rasa romantis menjadi sekadar deskripsi mekanis yang kehilangan estetika dan keindahan.

C. Normalisasi Kekerasan Verbal

Kata-kata “Sialan!”, “Brengsek!”, “Bunuh!”, “Hancurkan!” sudah jadi makanan sehari-hari.

Bahasa menunjukkan tingkat kesehatan emosional suatu masyarakat. Ketika kosa kata yang bernada permusuhan, makian, dan ancaman menjadi norma percakapan sehari-hari di media sosial maupun di jalanan, hal ini menandakan bahwa daya tahan emosional masyarakat sedang rapuh dan mudah terprovokasi.

4. Cermin Budaya yang Menyeberang Batas: Anedot dari Negeri Tetangga

Salah satu bagian paling berkesan dari puisi Iwan Wientania adalah penyajian anedot nyata yang menyentuh hati sekaligus memprihatinkan:

Sampai seorang ayah dari Malaysia bertanya kepada saya:

“Apa arti ‘brengsek’, Pak? Anak saya bilang, ‘Ayah brengsek!’ karena suka nonton sinetron Indonesia.”

Bait ini menyajikan tamparan keras bagi industri media dan hiburan nasional. Produk budaya pop seperti sinetron atau tayangan hiburan tidak lagi hanya dikonsumsi di dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditas ekspor budaya ke negara-negara tetangga. Ketika konten hiburan kita menormalisasi umpatan dan tutur kata yang kasar, kita bukan hanya merusak etika anak-anak bangsa sendiri, melainkan juga mengekspor degrasi moral ke ruang keluarga masyarakat serumpun.

Kisah anak yang mengumpati ayahnya sendiri memperlihatkan betapa dahsyatnya racun bahasa yang kasar dalam merusak ikatan paling suci dalam keluarga.

5. Penutup: Seruan Memulihkan Kelembutan Melalui Pena

Di akhir puisinya, Iwan Wientania tidak membiarkan pembaca tenggelam dalam keputusasaan. Ia menutup karyanya dengan sebuah harapan dan panggilan kesadaran:

Semoga pena-pena kita mengembalikan kelembutan pada kata dan budaya.

“Pena” dalam konteks peradaban hari ini merujuk pada siapa saja yang memiliki akses dan kekuatan suara: para penulis, pendidik, jurnalis, pembuat kebijakan, kreator konten, hingga pengguna media sosial. Puisi ini menjadi ajakan kolektif untuk melakukan restorasi budaya.

Menyelamatkan jiwa bangsa tidak selalu dimulai dari proyek mega-infrastruktur, melainkan dari hal paling sederhana yang kita ucapkan dan tuliskan setiap hari. Dengan mengembalikan kelembutan pada kata, kita sedang merawat empati, menjaga kesantunan, dan membangun kembali fondasi peradaban bangsa yang beradab.