Pernahkah Anda melihat video di media sosial yang memperlihatkan tanaman tumbuh begitu subur saat diperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an (murottal) atau musik klasik? Narasi dalam video-video tersebut sering kali mengeklaim bahwa tanaman memiliki “perasaan”, menyukai keindahan nada, atau bahkan merasakan kedamaian dari ayat-ayat yang dibacakan.
Wartapilihan.com, Depok– Klaim ini tentu sangat menarik dan menyentuh sisi emosional kita. Namun, bagaimana jika kita membedah fenomena ini melalui kacamata sains modern? Apakah tanaman benar-benar bisa “mendengar” dan memilih genre atau bacaan apa yang ingin mereka dengarkan?
Mitos “Telinga” Tanaman dan Selera Musik
Gagasan bahwa tanaman memiliki preferensi estetika audio sebenarnya bukan hal baru. Pada dekade 1970-an, sebuah buku karya Dorothy Retallack mengeklaim bahwa tanaman menyukai musik klasik karya Bach dan membenci musik heavy metal. Namun, komunitas ilmiah modern mengelompokkan klaim Retallack sebagai bentuk pseudosains karena eksperimennya tidak memiliki kontrol laboratorium yang ketat.
Pakar genetika molekuler Daniel Chamovitz, dalam bukunya What a Plant Knows, menegaskan bahwa secara anatomi dan biologis, tanaman tidak memiliki organ pendengaran seperti gendang telinga, tidak memiliki otak, dan tidak memiliki sistem saraf pusat. Tanaman tidak memiliki kemampuan kognitif untuk mencerna estetika musik, apalagi memahami makna bahasa, pesan moral, dan nilai spiritual.
Memang benar bahwa tanaman memiliki gen myosin—gen yang pada manusia berperan membentuk sel rambut pendengaran di telinga dalam. Namun pada tanaman, gen tersebut berfungsi secara eksklusif untuk membentuk bulu-bulu akar (root hairs) yang berguna menyerap air dan hara dari tanah.
Anggapan bahwa tanaman “menikmati” genre musik tertentu atau “memahami” ayat suci murni merupakan bentuk antropomorfisme manusia, yaitu kecenderungan kita memproyeksikan perasaan, logika, dan kecenderungan emosional manusia kepada makhluk non-manusia.
Mengapa Tanaman Merespons Suara? Rahasia Bioakustik Seluler
Jika tanaman tidak bisa mendengar dan tidak memahami isi bacaan, mengapa dalam berbagai eksperimen tanaman yang dipaparkan suara tetap menunjukkan respons pertumbuhan yang positif?
Jawabannya terletak pada cabang ilmu bioakustik tumbuhan (plant bioacoustics). Di alam fisika, suara bukanlah sekadar nada atau bahasa, melainkan gelombang kompresi mekanis longitudinal yang merambat membawa getaran kinetik melalui udara. Ketika gelombang getaran fisik ini mengenai permukaan daun dan batang, terjadilah proses biologi molekuler yang disebut mechanotransduction (transduksi sinyal mekanis).
Sains menguraikan proses ini dalam beberapa tahapan seluler:
- Pemicuan Saluran Ion Mekanosensitif: Getaran fisik gelombang suara merenggangkan membran sel tanaman, sehingga membuka saluran ion mekanosensitif (seperti protein MSL dan MCA). Pintu saluran ini memicu lonjakan fluks kationik dan ion kalsium sitosolik ($Ca^{2+}$) di dalam sel. Ion kalsium bertindak sebagai penyampai sinyal sekunder yang merangsang hormon pertumbuhan seperti asam indol-3-asetat (IAA) dan giberelin.
- “Pijatan” Mekanis pada Stomata: Getaran gelombang suara menciptakan efek penyapuan (scrubbing action) di permukaan daun. Getaran ini mengikis lapisan udara stagnan (boundary layer) di sekitar lamina daun dan merangsang sel penjaga untuk membuka pori-pori stomata lebih lebar—mencapai rentang 145–206 mm.
- Peningkatan Aliran Protoplasma: Getaran suara mempercepat pergerakan cairan sitoplasma di dalam sel, sehingga distribusi nutrisi, enzim, dan metabolit menjadi lebih efisien.
Akibatnya, stomata yang terbuka lebar memungkinkan tanaman menyerap lebih banyak gas karbon dioksida (CO2) dari udara serta mengoptimalkan penyerapan pupuk daun. Inilah yang membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan berdaun lebih lebat.
Fenomena Murottal Al-Qur’an dan Musik Klasik: Mengapa Efeknya Positif?
Lantas, bagaimana fakta ilmiah terkait pengujian yang secara khusus memperdengarkan rekaman pembacaan Al-Qur’an (murottal) pada tanaman?
Sejumlah penelitian laboratorium—seperti pengujian pada benih sawi hijau (Brassica juncea), bayam hijau (Amaranthus tricolor), tanaman kelor, dan bunga krisan—mencatat bahwa pemaparan audio murottal Al-Qur’an (seperti bacaan Surah Al-Fatihah pada frekuensi rata-rata ~1,2 kHz) mampu meningkatkan tinggi tunas, jumlah daun, luas daun, hingga bobot basah tanaman secara signifikan dibandingkan tanaman kontrol tanpa suara.
Namun, analisis biofisika mengungkapkan alasan sebenarnya di balik fenomena ini:
- Karakteristik Gelombang yang Harmonis: Bacaan murottal Al-Qur’an dilantunkan dengan ritme yang tenang, teratur, dan berada pada rentang frekuensi rendah hingga sedang yang relatif stabil. Gelombang mekanis yang teratur ini memberikan “pijatan” fisik yang pas bagi sel-sel daun tanpa memicu stres mekanis.
- Hasil Uji Statistik Komparatif: Ketika para peneliti membandingkan dampak murottal Al-Qur’an dengan musik klasik menggunakan analisis varians statistik (ANOVA), hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05) antara kedua perlakuan tersebut. Kedua jenis suara harmonis tersebut menghasilkan pacuan pertumbuhan vegetatif yang setara.
Temuan ini membuktikan secara ilmiah bahwa tanaman merespons parameter fisik gelombang suara (frekuensi dalam Hertz, tingkat desibel, dan kontinuitas ritme), bukan karena pemahaman spiritual, makna bahasa, atau sakralitas isi bacaan.
Suara Sebagai Biostimulan, Bukan Pengganti Cahaya dan Air
Di dunia pertanian modern, pemanfaatan gelombang suara telah dikembangkan melalui teknologi Plant Acoustic Frequency Technology (PAFT) atau Sonic Bloom. Di dalam rumah kaca atau sistem hidroponik, pemaparan gelombang suara frekuensi 1–5 kHz selama 1 hingga 2 jam sehari terbukti mampu meningkatkan hasil panen tomat, cabai, dan sayuran hingga 13–37%.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa suara bukanlah faktor pertumbuhan utama. Suara hanya bertindak sebagai biostimulan fisika sekunder. Tanaman tetap membutuhkan foton cahaya matahari sebagai sumber energi fotosintesis, serta air dan nutrisi tanah untuk penyusun sel.
Selain itu, respons tanaman terhadap suara memiliki batas ambang. Pemaparan suara dengan intensitas desibel yang terlalu keras (>110 dB) atau frekuensi ekstrem (>4 kHz) justru dapat merusak dinding sel, memicu stres oksidatif, dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Fakta bahwa tanaman tidak memiliki telinga, otak, atau pemahaman bahasa sama sekali tidak mengurangi keajaiban alam hayati. Sains menunjukkan betapa luar biasanya arsitektur sel tumbuhan yang mampu memproses getaran mekanis gelombang suara di udara menjadi sinyal biokimia pertumbuhan.
Jadi, ketika Anda memperdengarkan murottal Al-Qur’an atau musik klasik di dekat tanaman dan melihatnya tumbuh subur, ingatlah sains di baliknya: tanaman tersebut tidak sedang “berkontemplasi” atau “menikmati musik”, melainkan sedang merespons pijatan gelombang mekanis yang membantunya bernapas dan menyerap nutrisi secara optimal.
Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)
Dukung Jurnalisme cerdas & bijak, https://sociabuzz.com/warta_pilihan/tribe

