Judul Buku, Ulama dan Orientalis

by
Kitab-kitab. Foto : Suria Amelati

Wartapilihan.com – Cara yang terbaik mengetahui tujuan penulis adalah melihat judul bukunya. Orientalis Bernard Lewis menulis The Roots of Muslim Rage dan The Crisis of Islam. Leonard Binder menulis Islamic Liberalism. Lewis ingin menyatakan Muslim itu penuh kekerasan dan Islam itu penuh masalah alias krisis. Binder ingin menyatakan bahwa Islam itu harus liberal atau harus diliberalkan agar tidak radikal.

Para ulama juga menulis judul sangat menarik. Lihatlah Imam al Ghazali menulis judul Ihya’ Uluumud Diin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama. Ibnu Rusyd menulis Bidaayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid, Permulaan Mujtahid dan Tujuan Akhir. Sayid Qutb, ulama yang sangat dibenci Lewis, Binder dan para orientalis menulis Fi Zhilaalil Qur’aan dan Tashwiirul Fan fil Qur’aanil Kariim. Di bawah Bayang-Bayang Al Qur’an dan Keindahan Seni dalam Al Qur’an yang Mulia.

Waktu saya kecil pernah diajar oleh seorang Ustadz kampung -Ustadz Kahar- kitab Ushfuuriyah. Tentang kisah burung kecil. Yaitu diantaranya kisah bagaimana Sayidina Umar ra membebaskan burung-burung kecil yang dibuat mainan anak-anak, karena luka di tubuhnya. Ketika ngaji di Pesantren Sendang Tuban, sang kiyai mengajari kitab Nashaaihul Ibaad. Nasehat-nasehat untuk hamba Allah.

Ketika saya mahasiswa di IPB,  Ustadz Mustafa Abdullah bin Nuh mengajar kitab at Tafkiir (Pemikiran) karya Taqiyudin an Nabhani. Atau bacalah karya dia yang lain seperti Sur’atul Badiihah (Pemikiran Cepat yang Menyambar). Dan tulisan-tulisannya yang bermutu lainnya seperti Sistem Politik dalam Islam, Sistem Ekonomi dalam Islam, Sistem Kemasyarakatan dalam Islam dan lain-lain. Sayang kalau kita membaca karya-karya bermutu dari ulama hebat ini.

Ibnu Katsir menulis kitab hebat Al Bidaayah wan Nihaayah (Permulaan dan Akhir). Tentang sejarah manusia. Dengan hafalan yang luar biasa dia menulis fakta-fakta sejarah. Atau bacalah karya-karya ensiklopedik Ibnu Taimiyah. Baik Majmuuul Fataawa (Kumpulan Fatwa), Ashaarimul Mashluul ilaa Syattir Rasuul (Pedang Yang Terhunus untuk Penghina Rasulullah saw) dan sebagainya.

Ulama-ulama mutakhir seperti Imam Hasan al Banna. Syekh Yusuf al Qaradhawi, Syekh Muhammad al Ghazali, Syekh Mustafa Azami, Syekh Abdurrahman al Baghdadi, Syekh Naquib al Attas juga menulis karya-karya yang luar biasa mendalam dan ilmiahnya. Maka bila kita bandingkan secara jernih dan obyektif karya para ulama-ulama Islam dengan orientalis Barat seperti Snouck Hugronje, Bernard Lewis, Atrhur Jefery dan lain sebagainya, maka mereka tidak ada apa-apanya.

Para ulama Islam yang berilmu mendalam –baik dulu maupun sekarang– bila menulis sangat tajam, jujur dan ‘obyektif’. Tidak seperti para orientalis Barat yang kebanyakan tidak jujur, hanya kumpulan fakta-fakta yang kadang tidak sistematis dan subyektif. Para orientalis non Islam -apalagi Yahudi- bila menulis Islam mesti tendensius mengritisi Islam isinya atau menghabisi ‘kelemahan-kelemahan kecil’ yang dimiliki ulama penulisnya. Ilmuwan non Islam itu, dalam istilah Al Qur’an, telah terjangkit virus sangat berbahaya bagi manusia, yaitu hasad dan sombong.

Beda dengan para ulama. Meski para ulama –pewaris Nabi saw dan peniru sahabat Rasulullah saw yang mulia– meski mempunyai ilmu yang mendalam, jernih dan sangat kaya, tetap tawadhu’ (rendah hati), hormat kepada orang lain, sabar bila dikritik dan senang saling nasehat menasehati. Mereka sering menyebut dirinya dengan al faqiir ila Llaah, orang miskin yang membutuhkan Allah.

Maka sabda Nabi saw ulama adalah pewaris Nabi, maknanya mewarisi ilmu-ilmunya dan akhlaqnya. Yakni mencakup seluruh ilmu yang diperlukan dalam kehidupan manusia. Baik ilmu yang diperlukan otak (tentang alam yang nampak) maupun ilmu yang diperlukan jiwa (alam yang tidak nampak atau ‘samar’).

Maka sebutan ulama adalah khusus kepada mereka yang mempunyai pemahaman mendalam dan jernih tentang suatu masalah. Yakni seseorang yang mengaitkan peristiwa-peristiwa alam semua ini dengan Tauhid (keyakinan adanya Allah SWT). Maka Al Qur’an menyatakan : ‘Innamaa yakhsyaLlaaha min ibaadihil ulamaa’u’ (bahwasanya yang takut kepada Allah adalah ulama).

Seorang ilmuwan meski dia ahli nuklir, ahli pesawat terbang, ahli neuron, ahli fisika dan lain-lain, bila membahas sesuatu melupakan keberadaan Allah SWT (Tauhid) maka ia tidak berhak menyandang gelar ulama. Bila ia mengaitkan itu semua dengan Tauhid –apalagi ia memahami kaitan ayat Al Qur’an dan as Sunnah berkaitan dengan bidang keahliannya– maka ia berhak menjadi Ulama.

Sebaliknya ulama juga bukan hanya mereka yang hafal Al Qur’an atau Hadits belaka. Apalagi tidak faham maknanya. Seorang ulama mesti faham makna-makna yang ia kaji/baca dalam Al Qur’an dan Hadits. Bila ia tidak faham –misalnya karena kelemahan bahasa Arabnya– maka ia harus sekuat tenaga mencari artinya.

Selain itu ia selalu mengaitkan Al Qur’an dan as Sunnah ini dalam kehidupan manusia. Karena al Quran dan as Sunnah bukanlah teori belaka untuk dihafal atau diulang-ulangi bacaannya belaka (meski ini penting dan berpahala dan perlu bagi anak-anak kecil atau remaja), tapi ia mesti dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa atau fakta-fakta kehidupan.

Dalam bahasa ulama, Al Qur’an dan as Sunnah adalah solusi bagi kehidupan atau permasalahan manusia (muaalajatul masyaakilil insaan). Maka dalam Islam, tidak dipisahkan antara ulama dengan eksekutif atau pejabat negara. Dalam Islam, mereka yang mengurusi masalah masyarakat, baik mulai tingkat kelurahan, kabupaten, negara atau dunia, haruslah ulama. Yakni mereka yang faham terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan masalah pemerintahan itu dan faham terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan as Sunnah yang terkait dengan bidangnya.

Begitu juga seorang guru. Mereka harus faham ayat-ayat Al Qur’an dan as Sunnah berkaitan dengan akhlaq guru, akhlaq murid, metode mengajar yang tepat dan sebagainya. Begitu juga seorang pedagang, mesti faham terhadap ayat-ayat Al Qur’an as Sunnah yang berkaitan dengan hukum-hukum dagang dan seterusnya. Bila mereka faham mendalam tentang bidang yang digelutinya dan kaitannya dengan Al Qur’an dan as Sunnah maka mereka ulama.

Jadi dalam Islam tidak ada ulama yang hanya menjadi peneliti belaka, seperti yang terjadi dalam tradisi Barat. Atau tradisi universitas-universitas kita, yang memisahkan antara ilmu Islam dan ilmu umum. Saat ini banyak yang telah menjadi sarjana, puas setelah menjadi peneliti belaka.

Apalagi bila telah mendapat gaji yang besar. Seolah-olah tidak ada kewajiban bidang garapan ilmu yang ditelitinya harus diterapkan dalam masyarakat (yakni diambil kebijakan). Apa artinya ilmu bila hanya menjadi percakapan belaka? Hanya menjadi tulisan-tulisan yang tersimpan dalam rak-rak perpustakaan universitas?

Maka Rasulullah saw mengajarkan pada kita doa yang bagusnya tiap hari kita baca, “Allaahumma inni auudzu bika minal ilmi laa yanfa’” (Ya Allah jauhkanlah aku dari ilmu yang tidak bermanfaat) atau Rabbii zidnii ilma, warzuqni fahma wajalni min abaadikash shaalihiin (Ya Rabbi tambahkanlah ilmu padaku, berikanlah aku pemahaman dan jadikanlah aku sebagai hamba-hambaMu yang shaleh).

Kembali ke masalah ulama dan orientalis, maka dibolehkan kita membaca buku-buku orientalis asal kita bisa menyaringnya. Bila tidak, maka fikiran kita bisa membenarkan orientalis itu. Karena mereka sering pintar dalam menyajikan fakta atau kesimpulan yang setelah dikaji mendalam, ternyata keliru. Karena itu, buku-buku para ulama mesti dibaca dulu sebelum meneropong karya-karya orientalis. Selamat membaca. |

Penulis : Nuim Hidayat