Jual-Beli Yang Terlarang Dalam Islam

by
Ustaz Amin Muchtar sedang memaparkan kajian fiqih jual beli yang terlarang dalam Islam. Foto: Istimewa

Rasulullah mengatakan, Antum a’lamu bi umuuri duniakum (kamu lebih tahu urusan dunia), namun ada batasan-batasan yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuk me-rem agar kita tidak tergelincir pada perkara yang diharamkan.

Wartapilihan.com, Jakarta — Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, jual beli diistilahkan dengan tijarah dan al-buyu’. Pengasuh Pesantren Ibnu Hajar Ustaz Amin Muchtar menjelaskan, kata tijarah menunjukkan dua pengertian. Pertama, aktivitas jual beli atau al-buyu’ bentuk jama dari al-bay’. Kedua, tijarah dalam pengertian barang dagangan (komoditas) yang diistilahkan dengan ‘urudh at-tijarah.

Dalam Al-Qur’an kata tijarah dan bai’ sama-sama diulang sebanyak tujuh kali. Diantaranya terdapat dalam Surat An-Nisa Ayat 29 dan Surat Al-Jumuah Ayat 9. Adapun dalam As-Sunnah, kata tijarah dalam pengertian aktivitas jual beli digunakan ratusan kali, antara lain:

“Dari Ali, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Profesi kamu terbaik adalah penjual sutera, bisnis yang terbaik adalah jual kain, dan 90% rezeki ada pada perdagangan, 10% ada pada berbagai profesi”. HR. Ad-Dailami, Al-Firdaus bima’tsur al-Khithab, 11:176, No. Hadis 2879.

“Secara filosofis, penggunaan bentuk kata al-buyu’ (jamak atau plural) karena memperhatikan keragaman jenis perdagangan atau jual beli,” ujar Ustaz Amin dalam Majelis Tazkiyah dan Ta’lim yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PD Persis) Jakarta Utara di Masjid Al-A’raf, Jakarta Utara, Ahad (21/10).

Secara umum, lanjut Ustaz Amin, jual beli dibagi menjadi dua bagian. Pertama, berkenaan dengan mutsamman (barang/objek) dan tsaman (harga). Kedua, terkait hukum syar’i. Dilihat dari aspek mutsamman dan tsaman al-bai’ dapat diklasifikasikan menjadi beberapa aspek. Pertama, aspek objek dagangan. Kedua, aspek standarisasi harga. Dan ketiga, aspek pembayaran.

“Sedangkan dilihat dari aspek hukum syar’i, jual beli terbagi dalam ragam jenis, namun secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama jual beli dibolehkan atau halal secara syariat, kedua jual beli terlarang secara syariat,” Ustaz Amin memaparkan.

Mengutip kaidah usul fiqih yang menyatakan asal muamalah adalah mubah (dibolehkan/halal) sampai ada dalil yang mengharamkan, jual beli harus memenuhi rukun dan syarat yang telah ditetapkan oleh syariat.

“Meskipun kata Rasul, Antum a’lamu bi umuuri duniakum (kamu lebih tahu urusan dunia), ada batasan-batasan yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuk me-rem agar kita tidak tergelincir pada perkara yang diharamkan,” kata Ustaz Amin.

Diantara rukun jual beli yaitu akad (skim transaksi seperti jual-beli, jasa dan lain lain, aqidain (kedua belah pihak yang bertransaksi), seperti waras dan dewasa, maq’ud ‘alaih (barang atau jasa yang ditransaksikan beserta harganya), dan shigah aqd (bentuk ijab-qabul/serah terima).

“Sedangkan syaratnya harus terbebas dari unsur riba, ghasy (tipuan), dharar (merugikan pihak lain), gharar (spekulatif), jahalah (tidak jelas dalam hal aqad, aqidain, maq’ud alaih, dan shigah aqad), dan maisir (gambling, judi). Selama ada unsur tersebut, maka jual beli dilarang oleh agama,” jelasnya.

Ustaz Amin menuturkan, jual-beli yang mengandung syarat-syarat terlarang itu, terkadang disebut tanpa istilah khusus, seperti jual-beli gharar, sebagaimana hadis berikut: عن أبي هريرةقال: نهئ رسول الله ص عن بيع الحصاةوعن بيع الغرر — رواه مسلم —

Dari Abi Hurairah radhiallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual beli gharar,” HR. Muslim.

“Seperti dalam jual-beli pertanahan, kita punya duit 100 juta, ada tanah seluas 10 hektar, kemudian dengan melempar batu atau melempar barang lain dimana objek tersebut jatuh, maka tanah tersebut milik kita. Nah, ini disebut gharar dan dilarang,” kata Ustaz Amin.

Gharar mengandung arti keraguan, tipuan atau tindakan yang bertujuan merugikan orang lain (tagrir). Tagrir dapat meliputi empat bentuk yang menyangkut quantity (jumlah barang), quality (mutu barang), price (harga barang), dan time of delivery (waktu penyerahan barang).

“Tuan (Ahmad) Hassan menjelaskan gharar yaitu jual beli yang belum tentu harganya, rupanya waktunya dan tempatnya (jual kucing di dalam karung),” katanya.

Ustaz Amin menjelaskan, terkadang digunakan istilah khusus, antara lain: نهئ رسو ل الله ص، عن المحاقلة والمحلضرة والملامسةوالمنابذة والمزابنة.

Rasulullah melarang jual beli buah pada tangkainya (untung-untungan, kemplangan), jual beli buah belum nyata matangnya (untung-untungan karena buahnya masih muda), jual beli yang barangnya hanya boleh diraba tak boleh dilihat, lempar-lempar (lemparkan baju tukar dengan bajuku dengan segala isinya, untung-untungan), dan menukarkan yang kering dengan yang basah (pinjam padi yang basah sepikul, membayarnya dengan padi kering). HR. Al-Bukhati. Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, V: 391.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ

“Dari Jabir bin Abdillah, beliau bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli air yang bersisa.” (HR. Muslim, no. 4087).

وعن ابي هريرة ان رسول الله ص قال: من اشترئ طعاما فلا يبعه حتئ يكتا له. رواه مسلم.

Dari Abu Huraerah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membeli suatu makanan maka janganlah ia menjualnya sehingga ia menimbangnya”. HR. Muslim.

وعن ابي هريرة قال: نهئ رسول الله ص عن بيعتين في بيعة. رواه احمد، و النساءي، وصححه الترمذي، وابن حبان

Dari Abu Huraerah ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jual-beli dalam satu transaksi jual-beli. HR Ahmad dan An-Nasai, dan hadis itu dinilai shahih oleh At Tirmidzi dan Ibnu Hiban.

Berbagi jual-beli tersebut pada dasarnya hendak menunjukkan jual beli terlarang karena mengandung salah satu diantara unsur riba, ghasy (tipuan), dharar (merugikan pihak lain), gharar (spekulatif), jahalah (tidak jelas dalam hal aqad, aqidain, maq’ud alaih, dan shigah aqad), dan maisir (gambling, judi).

Ahmad Zuhdi