Invasi Senyap Dracin: Mengapa Drama Pendek China Kini Menjadi Ancaman Nyata bagi Drakor dan Sinetron TV Indonesia?

by

Pernahkah Anda memperhatikan penumpang KRL, pekerja kantoran di waktu istirahat, atau anak muda di kafe yang sedang asyik menatap layar ponsel mereka dalam posisi vertikal?

Wartapilihan.com, Jakarta– Jika Anda mengira mereka hanya sedang berselancar di TikTok atau Instagram, Anda mungkin keliru. Sangat mungkin mereka sedang tenggelam dalam drama pendek China—atau yang akrab disebut “dracin”.

Dengan format vertikal yang cepat dan adiktif, dracin kini bukan lagi sekadar alternatif hiburan, melainkan raksasa baru yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran di Indonesia. Laju pertumbuhannya yang luar biasa saat ini mengirimkan sinyal bahaya yang nyata bagi hegemoni drama Korea (drakor) dan kelangsungan hidup sinetron televisi nasional.

Angka yang Bikin Merinding: Laju Pertumbuhan yang Eksponensial

Jika Anda berpikir popularitas dracin hanya sekadar rumor, mari kita bedah datanya. Laporan tahunan State of Mobile 2026 dari Sensor Tower menunjukkan lonjakan statistik yang mencengangkan: jumlah unduhan aplikasi drama pendek di Indonesia melesat hingga 329% hanya dalam kurun waktu satu tahun! Angka pertumbuhan ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 278%.

Bahkan, dalam ekosistem video streaming di tanah air, peta persaingan telah berubah secara drastis:

  • Melolo, aplikasi drama pendek asal China, sukses bertengger di posisi nomor satu sebagai aplikasi streaming yang paling banyak diunduh di Indonesia.
  • Posisi ini disusul oleh aplikasi sejenis seperti DramaBox, FreeReels, dan Dramawave.
  • Raksasa global seperti Netflix bahkan terpaksa gigit jari dan terlempar ke posisi nomor sembilan dalam daftar unduhan nasional.

Dari sisi preferensi penonton, survei menunjukkan bahwa dracin kini mengamankan pangsa pasar sebesar 31%. Meski drakor masih memimpin dengan 64% dan konten lokal dengan 47%, laju penetrasi dracin yang masif berpotensi membalikkan keadaan dalam waktu dekat.

Mengapa Dracin Begitu Adiktif? (Seni Menjual “Mimpi” dalam 2 Menit)

Kunci kekuatan dracin, terutama format drama pendek vertikal (micro-drama), terletak pada adaptasi radikal terhadap menyusutnya rentang perhatian (attention span) manusia modern. Setiap episode dikemas sangat singkat—hanya berkisar 1 hingga 3 menit—dengan alur super cepat yang dipenuhi plot twist ekstrem dan adegan menggantung (cliffhanger) di akhir cerita.

Tidak hanya itu, dracin menawarkan “next level of romance” yang eskapistik. Berbeda dengan drakor yang cenderung realistis dan menyentuh isu sosial yang berat, dracin memanjakan imajinasi penonton dengan fantasi romansa klise yang adiktif, seperti kisah cinta tokoh sederhana dengan CEO kaya raya.

Strategi monetisasinya pun sangat cerdik. Aplikasi seperti Melolo menawarkan akses gratis berbalas iklan yang dibalut program “nonton dapat cuan” (koin emas yang bisa dicairkan ke saldo DANA atau OVO). Di sisi lain, aplikasi seperti DramaBox menerapkan pembelian dalam aplikasi (in-app purchases) mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah bagi penonton yang tidak sabar membuka kelanjutan episode.

Sisi Gelap: Ancaman Keamanan Siber dan Hukum

Namun, popularitas yang meroket ini menyimpan celah kerentanan yang serius. Banyak penonton yang enggan membayar atau menonton iklan memilih mengakses dracin melalui situs-situs tidak resmi atau aplikasi bajakan.

Padahal, ada bahaya besar yang mengintai di balik layar gratisan tersebut. Menurut laporan Kaspersky Lab Asia Pasifik, sebanyak 40% pengguna situs streaming ilegal mengalami infeksi virus atau malware pada perangkat mereka. Ancaman ini tidak main-main, mulai dari pencurian data pribadi, pembajakan kredensial perbankan, hingga kebocoran kuota internet secara terselubung. Selain risiko siber, tindakan konsumsi ilegal ini juga melanggar UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang mengancam pelakunya dengan denda finansial hingga ratusan juta rupiah.

Lonceng Kematian bagi Sinetron Televisi?

Pertumbuhan dracin digital yang begitu agresif merupakan hantaman telak bagi industri televisi terestrial nasional. Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, mengungkapkan bahwa jumlah penonton televisi konvensional di Indonesia terus merosot konsisten sebesar 4% setiap tahunnya. “Sekarang adalah era TikTok,” ujarnya, menggambarkan bagaimana konsumsi informasi dan hiburan kini sepenuhnya bergeser ke media sosial.

Sinetron TV konvensional terjebak dalam masalah klasik: durasi iklan yang terlalu panjang, jadwal tayang yang kaku, dan formula cerita harian (stripping) yang mulai dinilai monoton oleh generasi muda. Sementara itu, dracin menawarkan fleksibilitas penuh di genggaman tangan kapan saja dan di mana saja.

Menyadari ancaman kepunahan ini, raksasa media lokal mulai dipaksa melakukan manuver ekstrem. Salah satu contoh paling nyata adalah langkah PT MD Entertainment Tbk yang dipimpin Manoj Punjabi. Mereka melakukan akuisisi strategis terhadap NET TV senilai 105 juta USD pada akhir tahun 2024 dan secara resmi me-rebrand stasiun tersebut menjadi MDTV pada akhir Februari 2025 dengan slogan “TV Paling Drama”. Strategi mereka adalah membawa kualitas produksi layar lebar ke layar kaca televisi nasional guna merebut kembali pemirsa yang bermigrasi ke ranah digital.

Beradaptasi atau Tergilas

Laju pertumbuhan dracin saat ini bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan tsunami digital yang siap menyapu pemain media tradisional. Jika industri kreatif dalam negeri dan stasiun televisi lokal tidak segera beradaptasi dengan model distribusi digital yang lincah, interaktif, dan premium, sinetron Indonesia yang kita kenal hari ini mungkin hanya akan menjadi catatan sejarah masa lalu.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)