Menakar Bahaya Pemahaman Murji’ah Kontemporer: Ketika “Label Sunnah” Menjadi Kedok

by

Oleh: Iwan Hasanul Akmal

Manusia tidak akan pernah berada di atas jalan yang benar dalam Islam sebelum ia belajar kepada guru yang melandasi dirinya pada akidah dan syariat yang lurus. Guru yang paling utama dan mutlak kebenarannya adalah Kitabullah (Al-Qur’an). Jika merujuk pada sosok manusia, maka guru terbaik itu adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun di era kontemporer ini, representasi guru yang benar berada pada pundak para ulama warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang tulus dan murni—bukan mereka yang sekadar mengandalkan gelar akademis mentereng dari dada hingga melilit pinggang.

Sayangnya, realitas hari ini menyuguhkan fenomena yang miris. Seruan untuk kembali pada pemahaman generasi Salafus Shalih kerap kali berakhir menjadi jargon belaka. Pada praktiknya, apa yang disampaikan sebagai “As-Sunnah” justru sering kali berupa pemidahan atau distorsi yang esensinya murni merupakan pemahaman kelompok mereka sendiri. Fenomena ini bagaikan pedagang yang menjajakan buah dengan kulit hijau cemerlang, namun bagian dalamnya merah kecoklatan dan berulat. Mereka menampilkan kemasan Sunnah, tetapi memalsukan isinya; bungkusnya Sunnah, namun di dalamnya adalah pemahaman Murji’ah.

Perlu disadari bahwa dalam sejarah pemikiran Islam, aliran Murji’ah sejatinya jauh lebih berbahaya daripada Khawarij. Jika kaum Khawarij dimurkai karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam kecemburuan beragama, maka kaum Murji’ah dimurkai karena cenderung meremehkan dan mempermainkan agama. Kedua pemahaman ini sama-sama menyimpang, namun Murji’ah memiliki daya rusak yang lebih laten dan kini polanya kian mendunia.

Karakteristik penyimpangan Khawarij cenderung keras dan vulgar, sehingga lebih mudah dideteksi. Sebaliknya, “kuman” Murji’ah bergerak secara halus dan lembut di balik jubah Sunnah. Ia menikam dan menggerogoti keyakinan umat dari dalam, kanan, kiri, dan belakang, hingga tanpa sadar membuat pengidapnya mati rasa dalam kekafiran. Demi mencari aman dari jeruji penjara dan demi meraih kemewahan di lingkaran penguasa, oknum ulama berpemahaman ini tak segan meringan-ringankan hukum agama. Ironisnya, jemari mereka justru dengan mudah menuding para ulama yang lurus sebagai kelompok “Khawarij”.

Jika kaum Murji’ah masa lampau berprinsip bahwa kemaksiatan dan kekufuran anggota badan tidak membatalkan keislaman sepanjang hati masih beriman, maka kaum Murji’ah hari ini jauh lebih ekstrem. Perbuatan lisan dan anggota badan sejatinya adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati, dan penilaian di dunia didasarkan pada apa yang tampak (zahir), sementara urusan hati diserahkan kepada Allah. Namun saat ini, kaum sekular yang anti-tauhid, anti-syariat, bahkan yang menumpahkan darah umat Islam pun, oleh mereka masih dipandang sebagai mukmin sejati yang wajib ditaati.

Mereka kerap menyitir hadis tentang kewajiban menaati pemimpin—meski pemimpin tersebut merampas harta atau mencambuk punggung—secara keliru. Hadis tersebut secara konteks ditujukan untuk sistem pemerintahan Islam yang sah, namun dipaksakan secara serampangan untuk melegitimasi pemerintahan yang sekular.

Puncak bahayanya adalah lahirnya metamorfosis pemikiran baru di era modern: sekelompok orang yang secara paradoks merupakan perpaduan antara Murji’ah sekaligus Khawarij. Di satu sisi, mereka bersikap Murji’ah dengan menjilat pihak-pihak yang memusuhi umat Islam menggunakan dalil yang diputarbalikkan sesuai selera. Namun di sisi lain, mereka bertindak layaknya Khawarij karena memisahkan diri dan keluar dari jemaah kaum muslimin yang sedang berjuang melawan penjajahan.

Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengenali dengan saksama siapa gurunya sebelum memercayai apa yang diajarkannya. Sebab, kemasan Sunnah yang kehilangan ruhnya tidak lain adalah racun berbahaya yang diberi label madu. [AF]