INFORMASI DAN PENDIDIKAN

by
foto:istimewa

Oleh: Dr. Adian Husaini
(Direktur At-Taqwa College, PP At-Taqwa Depok)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang fasik yang membawa berita, maka lakukanlah penelitian (tabayyun); agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum dengan tidak mengatahui (fakta yang sebenarnya), sehingga jadilah kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujurat:6).

Pesan ayat al-Quran itu begitu jelas: dalam menerima informasi, perhatikan kredibilitas sumber berita! Waspadai jika berita itu bersumber dari orang fasik. Asbabun Nuzul QS 49:6 ini berkaitan dengan kisah al-Walid bin Uqbah. Ia diutus Nabi Muhammad saw untuk menarik zakat dari Bani Musthaliq yang telah menyatakan masuk Islam. Al-Walid tidak berhasil menarik zakat dan pulang kembali ke Madinah dengan mambawa laporan bahwa Bani Mushthaliq telah murtad dari Islam.
Nabi pun bersiap-siap mengirimkan pasukan ke Bani Musthaliq. Tapi, sebelum itu terjadi, datanglah utusan Bani Mushthaliq dan membantah berita al-Walid. Maka turunlah ayat itu. Bahkan ayat tersebut memberi julukan yang hina kepada Al Walid, yaitu si “fasik”, tegasnya seorang pembohong. Ibnu Zaid, Muqatil, dan Sahl bin Abdullah memberi arti orang fasik sebagai pembohong (kadzdzaab). Sedangkan Abul Hasan al Warraq memberi arti orang fasik sebagai orang yang tidak segan-segan menyatakan suatu perbuatan dosa. (Lihat, Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al Azhar, Juzu’ XXVI, hal. 191-192).

Senjata Setan

Kisah itu mengisyaratkan betapa pentingnya kaum Muslim sangat berhati-hati dalam menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi. Silakan menerima informasi dari kaum fasik, tapi harus dilakukan tabayyun terlebih dahulu. Lakukan cek dan ricek. Jangan percaya begitu saja informasi dari kaum fasik, apalagi kaum kafir.
Bahkan, secara khusus, al-Quran mengingatkan bahwa musuh utama para Nabi – dan tentu juga para pengikut Nabi – adalah setan-setan jenis manusia dan setan-setan jenis jin yang senantiasa menyebarkan ”kata-kata indah” (zukhrufal qaul), dengan tujuan untuk menipu manusia. (QS 6: 112).
Iblis pun menggoda Adam dan Hawa dengan kata-kata indah dan ungkapan yang menawan, bukan dengan kata-kata kasar, sehingga berhasil membujuk Adam dan Hawa melanggar larangan Allah. (QS 7:20-22).
Henry Martyn, tokoh misionaris terkenal dengan ungkapannya, “Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta.”

Perang Salib telah gagal, begitu kata Henry Martyn. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu resep lain: gunakan “kata, logika, dan kasih”. Bukan kekuatan senjata atau kekerasan. Hal senada dikatakan misionaris lain, Raymond Lull, “Saya melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci, dan berpikir bahwa mereka dapat menguasainya dengan kekuatan senjata, tetapi pada akhirnya semua hancur sebelum mereka mencapai apa yang mereka pikir bisa diperoleh.”

Lull mengeluarkan resep: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan darah dan air mata, tetapi dengan cinta kasih dan doa. Menurut Eugene Stock, mantan sekretaris redaksi Church Missionary Society, tidak ada figur yang lebih heroik dalam sejarah Kristen dibandingkan Raymond Lull. Lull adalah misionaris pertama dan mungkin terbesar yang menghadapi para pengikut Muhammad.

Ungkapan Lull dan Martyn itu ditulis oleh Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, dalam bukunya yang berjudul Islam: A Challenge to Faith (1907). Buku yang berisi resep untuk “menaklukkan” dunia Islam itu disebut Zwemmer sebagai “beberapa kajian tentang kebutuhan dan kesempatan di dunia para pengikut Muhammad dari sudut pandang missi Kristen”.

Informasi memang hal teramat penting dalam kehidupan manusia. Dan Nabi Muhammad saw telah memerintahkan: Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu, dan lidahmu. Kini, apa yang sudah dilakukan oleh umat Islam dalam berjuang dalam menghadapi penyesatan informasi di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan?

Informasi Pendidikan

Tanyakanlah kepada para pelajar kita, ”Sebutkan contoh satu negara maju!” Apa jawaban yang keluar dari mulut mereka? Adakah mereka menyebut bahwa negara terbaik dan termaju adalah negara Madinah di masa Nabi Muhammad saw! Beliau pernah bersabda, bahwa zaman terbaik adalah zamanku.

Anak-anak sekolah sudah dijejali informasi bahwa negara maju adalah negara yang pendapatan perkapitanya tinggi, dan ukuran-ukuran materi lainnya. Tidak ada kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia untuk menentukan kemajuan suatu bangsa! Padahal, QS 7:96 sudah menentukan, bahwa jika penduduk satu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Allah kucurkan berkah dari langit dan dari bumi.

Begitu banyak anak-anak yang menghafal al-Quran, tetapi mereka tidak paham bahwa Nabi Muhammad saw memiliki prestasi peradaban yang sangat tinggi dalam membangun satu negara pertama yang punya konstitusi tertulis. Beliau saw juga berhasil mewujudkan masyarakat pembelajar, masyarakat benci miras, dan nyaris bebas korupsi. Sebab, informasi yang mereka terima tentang kriteria kemajuan satu negara selama ini adalah versi sekuler dan materialis!

Anak-anak pelajar juga dijejali dengan informasi bahwa manusia itu merupakan tahapan tertinggi dari makhluk bernama Hominid, sebangsa monyet. Karena merupakan jenis binatang, maka manusia pun – kata mereka — memiliki kebutuhan primer berupa sandang, papan, dan perumahan. Tidak ada kebutuhan primer berupa ibadah dan berzikir kepada Allah!

Apa akibatnya? Jangan heran, jika begitu banyak pelajar yang memiliki persepsi bahwa tujuan hidup itu adalah untuk cari makan (liya’kuluun). Bahwa, sukses itu adalah sukses materi. Bahwa sukses yang utama adalah sukses di dunia; bukan sukses di akhirat. Akhirnya, mereka didorong untuk menjadi pemuja jabatan, pemuja kekayaan, pemuja kecantikan, kepopuleran, dan sebagainya.

Mereka dilupakan oleh tipudaya dunia, sehingga tidak menjadikan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan hidup yang utama. Begitu deras informasi dalam dunia pendidikan yang mengarahkan mereka untuk berpikir secara empiris-rasional, melupakan ilmu wahyu (revealed knowledge), sehingga memunculkan sikap cinta dunia dan melupakan akhirat!

Mengapa begitu banyak kasus pelecehan terhadap guru terjadi di dunia pendidikan? Tak perlu heran, sebab para pelajar dan wali murid mendapatkan informasi bahwa guru adalah ”tukang ngajar bayaran”. Dan dunia pendidikan menempatkan murid sebagai konsumen! Konsumen adalah raja! Karena merekalah yang membayari sekolah dan guru-gurunya. Jadi, wali murid dan murid merasa berhak mengatur dan mendiktekan kemauan mereka kepada para guru!

Padahal, seharusnya, kedudukan guru adalah mujahid intelektual! Guru adalah pejuang intelektual. Guru bukan ”tukang ngajar bayaran”. Tapi, itu pun tergantung pada cara lembaga pendidikan memandang dan memperlakukan guru-guru mereka; dan juga tergantung pada guru itu sendiri. Apakah dia memahami dirinya sebagai pejuang intelektual atau ”tukang ngajar bayaran”?

Contoh terakhir, kini beredar begitu banyak daftar ranking sekolah dan universitas terbaik. Anehnya, banyak kaum muslim terpelajar menerima daftar ranking sekolah dan universitas itu sebagai kebenaran. Padahal, kriteria iman, taqwa, dan akhlak mulia, tidak dimasukkan dalam kriteria penilaian ranking sekolah atau kampus tersebut.
Setiap muslim, seyogyanya memiliki cara pandang Islami terhadap realitas (Islamic Worldview). Al-Quran sudah mengajarkan, bahwa orang paling mulia adalah yang bertaqwa. Sekaya apa pun seorang pelacur atau koruptor, sepopuler apa pun pelaku maksiyat, dan setinggi apa pun jabatan orang kafir, fasik dan zalim, derajat mereka tidak lebih tinggi dari seorang guru ngaji yang ikhlas dan soleh di pelosok-pelosok kampung!

Bagi seorang muslim, sekolah dan kampus terbaik adalah yang mendidik para murid dan mahasiswanya menjadi manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan pejuang penegak kebenaran di tengah masyarakat! Itu kriteria utama. Yang lain adalah tambahan.

Maka, sungguh sangat bermakna pesan KH Imam Zarkasyi, pendiri pesantren Gontor Ponorogo: “Kalian akan kami didik menjadi kader-kader pemimpin dan juga belajar menjadi orang besar. Apa itu orang besar? Apakah mereka yang jadi pengusaha besar? Atau jadi ketua partai; ketua oramas Islam yang besar? Bukan itu yang saya maksud orang besar. Orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren ini kemudian dengan ikhlas mengajarkan ilmunya kepada orang-orang di pelosok-pelosok desa, sampai di kaki-kaki gunung, di mana pun mereka berada, di bukit-bukit, atau di kolong-kolong jembatan sekali pun. Itu yang saya maksud orang besar!” (https://www.youtube.com/watch?v=tM961vN8SQA).

Maka, kita ingat sekali lagi peringatan Allah SWT: “Dan demikianlah kami jadikan untuk setiap nabi ada musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin, yang mereka membisikkan kata-kata indah (zukhrufal qauli) untuk menipu manusia!” (QS 6:112).

Perintah Nabi Muhammad saw sangatlah jelas: ”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim!” Maksudnya, carilah ilmu yang bermanfaat (al-Ilmu al-nafi’)! Agar mendapat ilmu yang bermanfaat; dan agar tidak tertipu oleh informasi menyesatkan, carilah ilmu yang benar, dengan cara yang benar, dan kepada guru-guru yang benar pula!
Sebab, berguru itu belajar adab dan ilmu kepada guru, bukan kepada tembok! (Depok, 27 Februari 2019).