Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Jadilah Bagian dari Solusi

by
Berbagi dengan Adil, Siput hanya perlu sedikit

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali komitmen kita untuk meringankan ‘beban lingkungan’. Penetapan tanggal ini diputuskan Majelis Umum PBB pada 15 Desember 1972.

Wartapilihan.com, Depok– Dikutip dari laman resmi Badan PBB yang membidangi lingkungan, UNEP (United Nation of Enviromental Program), tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah Restorasi Ekosistem . Pakistan akan bertindak sebagai tuan rumah peringatan global ini.

Restorasi ekosistem berarti membantu pemulihan ekosistem yang telah rusak atau dalam proses perusakan, serta melestarikan ekosistem yang masih utuh. Ekosistem yang lebih sehat, dengan keanekaragaman hayati yang lebih kaya, menghasilkan manfaat yang lebih besar seperti tanah yang lebih subur, hasil kayu dan ikan yang lebih besar, dan simpanan gas rumah kaca yang lebih besar. (https://www.decadeonrestoration.org/)

Apa yang bisa kita lakukan dalam merestorasi ekosistem ini? Banyak cara sederhana, misalnya melalui aktif menanam pohon atau cukup dengan tidak mengganggu alam sehingga alam dapat pulih dengan sendirinya. Atau, sampah yang kita hasilkan, dikelola sebaik-baiknya supaya tidak menjadi factor ‘penggangu’ lingkungan. Memang tidak mungkin untuk mengembalikan ekosistem ke keadaan semula. Kita masih membutuhkan lahan pertanian dan infrastruktur di lahan yang dulunya hutan, misalnya.  Dan ekosistem, seperti masyarakat, perlu beradaptasi dengan perubahan iklim.

Di masa pandemic covid-19 ini, semakin diakui bahwa penyembuhan dari pandemi ini terkait erat dengan penyembuhan bumi. Karena itu, mengatur ulang hubungan manusia dengan alam akan menjadi fokus Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni kali ini. Sekaligus menandai peluncuran  Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem. Program ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan global untuk mencegah, menghentikan, dan membalikkan penurunan kualitas ekosistem Terhitung dari saat ini sampai  2030, restorasi 350 juta hektar ekosistem darat dan perairan yang terdegradasi dapat menghasilkan US$9 triliun dalam bentuk jasa ekosistem. Restorasi juga dapat menghilangkan 13 hingga 26 gigaton gas rumah kaca dari atmosfer.  Manfaat ekonominya sepuluh kali lebih besar daripada biaya investasi. Bila kita tidak melakukan restorasi ini, biayanya setidaknya tiga kali lebih mahal daripada restorasi ekosistem. (https://www.unep.org/)

Rencana pemulihan dari dampak pandemi menawarkan peluang sekali seumur hidup untuk memetakan jalur baru dengan mengalihkan investasi ke “ekonomi pemulihan” yang dapat menyediakan jutaan pekerjaan ramah lingkungan.

Pada tanggal 5 Juni ini, orang-orang di seluruh dunia akan memamerkan upaya mereka untuk memulihkan alam, mulai dari  penanaman pohon di India hingga pembersihan pantai di Hong Kong dan pembersihan lingkungan di Kenya . Banyak lagi yang bergabung di media sosial, mengambil bagian dalam Snap Challenge untuk menunjukkan bagaimana mereka akan mengubah perilaku untuk menjadi bagian dari #GenerationRestoration . (https://www.unep.org/).

Di Indonesia sendiri, berbagai komunitas peduli lingkungan melakukan berbagai aktifitas serupa. Salah satunya adalah komunitas Eco Enzym Nusantara. Komunitas ini berencana akan melakukan kegiatan penyemprotan eco enzym ke udara di lingkungan masing-masing anggotanya.

Di Bali, Acara penyemprotan ECO Enzyme serentak dilakukan di 9 kabupaten. Dibuka oleh pimpinan daerah masing-masing ( Walikota/Bupati) dan juga di dukung oleh KAPOLDA BALI yg menginstruksikan ke semua POLRES dengan menurunkan mobil Water Cannon nya serta PMI PROPINSI BALI juga menginstruksikan semua kabupaten turut mendukung dengan mobil penyemprotan di setiap kabupaten dan terakhir PANGDAM IX UDAYANA BALI menginstruksikan semua KODIM untuk mendukung dan mensukseskan acara penyemprotan di tgl 5 Juni 2021 dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia ini.

Mengapa dilakukan penyemprotan ke udara? Salah satu pengurus komunitas ini, Pa Pius Wisnu menyampaikan bahwa dengan menyemprotkan Eco Enzym yang sudah dicairkan dengan air 1:1000, bahkan1:5000-10.000 akan membuat kandungan mikroba positif dan zat-zat yang ada dalam Eco Enzym akan menyerap zat-zat polutan di udara dan menguraikannya dengan memecahnya menjadi molekul yang bermanfaat seperti air dan oksigen, sekaligus mengurangi potensi bagi bakteri patogen untuk mendapat ruang/tempat/media yg tepat untuk bertahan hidup.

“Jadi, jangan ragu untuk menyemprotkan larutan EE ke udara krn dengan demikian kita sdh menciptakan lingkungan yg lebih bersih dan sehat di sekitar kita. Semakin sering kita lakukan, semakin besar kita mewujudkan cinta kita kepada keluarga kita dan alam semesta”, sambungnya.

“Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni ini, kami akan meluncurkan secara resmi Bank Eco Enzyme Nusantara di berbagai daerah di Sumatra, Jawa (termasuk Depok), Kalimantan, Bali, menyusul nantinya diharapkan segera juga di Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Selain acara seremonial utama yg dilakukan di Bali, juga akan diadakan acara simbolis berupa penyemprotan Eco Enzyme di berbagai daerah oleh komunitas-komunitas yang bergabung di Komunitas Eco Enzyme Nusantara.”, demikian disampaikan Pak Pius Wisnu di Depok.

Apa inisiatif kita sendiri di lingkungan kita sendiri? Apapun itu, sekecil apapun inisiatif itu, jangan tunda. Yakinlah kita dapat membalikkan kerusakan yang telah kita lakukan. Kita bisa menjadi generasi pertama yang menata ulang, menciptakan kembali, dan memulihkan alam untuk memulai tindakan demi dunia yang lebih baik. Jadilah bagian dari solusi pemulihan lingkungan!

Wallahu A’lam

 

Abu Faris

Praktisi Kebun, Alumni 7th Permaculture Design Course, Bumi Langit Institute, Imogiri, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *