Dr Syamsuddin Arif : Masyarakat Rusak Karena Pemikiran Rusak

by
Dr Syamsuddin Arif, Direktur Eksekutif INSISTS. Foto : Aila

Wartapilihan.com, Jakarta – Di usianya ke-14, Insititute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) telah dan akan melakukan kerja-kerja intelektual. Lembaga ini memilih bidang pemikiran Islam sebagai perhatian utamanya. Menurut Direktur Eksekutif INSISTS, Syamsuddin Arif, apa yang dimaksud dengan pemikiran Islam adalah pemikiran umat Islam. “Saat ini, ada banyak masalah yang mengelirukan isi pikiran umat Islam. Sesuatu yang harusnya benar menjadi dianggap salah, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya kepada Warta Pilihan, saat ditemui di kantornya di Kalibata, Jakarta, Selasa (21/3) kemarin.

Dalam keadaan seperti itu, tantangan bagi INSISTS adalah menunjukkan yang benar. “Seperti dalam istilah ‘kafir’ dan ‘bukan kafir’, atau ‘munafik’ dan ‘bukan munafik’, yang sering disinggung di situasi politik saat ini,” kata pria dengan sapaan Ustadz Syam ini. Kyai Hasyim Muzadi (alm.), sambung Ustadz Syam, dalam sebuah ceramahnya pernah menyinggung persoalan ini. “Walisongo di masa dahulu mengislamkan orang kafir, bukan mengkafirkan orang Islam,” tutur Ustadz Syam meniru perkataan Kyai Hasyim.

Meski begitu, konsep kafir atau kekufuran juga mengalami perancuan makna. “Seorang tokoh Syi’ah, Jalaluddin Rakhmat, mengatakan bahwa makna kafir hanya berlaku bagi keadaan moral, yakni orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu membalas budi.” terang doktor di bidang filsafat Islam ini. Perancuan konsep-konsep seperti itu akan berimbas pada masyarakat.

“Saat ini sedang digembar-gemborkan ungkapan ‘kafir minoritas’, namun apakah ia bermakna minoritas dalam aqidah, politik, atau keduanya?” kata Ustadz Syam. Jawaban dari pertanyaan konseptual tersebut akan menentukan hak-hak orang kafir sebagai warganegara. “Kalau konsepnya keliru, akan muncul di pikiran masyarakat bahwa penerapan syariat Islam akan berdampak bagi diusirnya orang-orang kafir dari negara,” terangnya. Hal inilah yang mengharuskan kerja-kerja intelektual meluruskan kekeliruan pemahaman, dan memberikan penjelasan tentang konsep yang benar.

Contoh konsep lain yang perlu untuk diterangkan ke tengah masyarakat adalah konsep manusia dalam Islam. “Konsep manusia amat menentukan perumusan kebijakan publik, seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan,” kata mantan dosen pemikiran Islam di beberapa kampus di Malaysia ini.

Sebagai contoh, konsep manusia yang sekular akan memberi dampak bagi arah pembangunan suatu negara. “Apa yang disebut dengan ‘negara maju’ pada akhirnya hanya melihat manusia sebagai warganegara, dan ukuran kemajuan menyempit pada pencapaian ekonomis saja,” terang Ustadz Syam.

Hal yang sama terjadi di dunia kesehatan. “Kalau ilmu-ilmu kesehatan memandang manusia terbatas secara fisiologis saja, manusia yang sakit akan diperlakukan seperti mesin rusak. Tubuh manusia dipandang seperti komponen-komponen mesin yang perlu diperbaiki,” ucapnya. Pandangan ini menghilangkan hakikat manusia sebagai ruh, sehingga ilmu-ilmu kesehatan tidak dimulai dan diakhiri dengan pembahasan tentang kesehatan ruh manusia. |

Reporter : Ismail al Alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *