Disiplin dengan Kasih Sayang

by
foto:istimewa

Kadang orang tua sering kesulitan membuat anak berbicara lebih sopan, merasa harus terus-menerus mengulangi perintah yang sama lagi, harus terus-menerus mengingatkan anak tentang batasan nonton tv atau main gadget. Atau merasa pusing karena adik dan kakak bertengkar lagi karena alasan yang menurut orang tua sesuatu yang sepele. Mengapa demikian?

Wartapilihan.com, Jakarta – Saat anak berperilaku buruk, seringkali orang tua terbawa emosi. Akibatnya orang tua cenderung menghukum anak, bukan mendisiplinkannya. Dalam buku No-Drama Discipline, Daniel J. Siegel menekankan pentingnya mendisiplinkan dengan cara mengajari anak, bukan dengan memberi hukuman.

Hal tersebut disampaikan Elly Risman, pakar parenting. Ia mengatakan, disiplin harus dengan kasih sayang. Yaitu memahami bahwa otak anak sedang berkembang sehingga anak perlu aturan dan kesepakatan yang jelas sejak kecil, memberikan kasih sayang yang cukup seiring aturan yang disepakati, dan bertujuan menumbuhkan kontrol dari dalam diri anak (internal control).

“Untuk mengubah perilaku buruk, anak-anak perlu belajar untuk menahan diri, mengelola emosi yang berlebihan, dan memikirkan dampak perilaku mereka terhadap orang lain,” tutur Elly, di Facebook Yayasan Kita dan Buah Hati, Selasa, (15/5/2018).

Meski tidak ada cara yang ampuh yang bisa dipakai untuk segala situasi dan bisa digunakan untuk semua anak, Daniel J. Siegel mengungkapkan pentingnya berhenti bereaksi dalam mengubah perilaku anak.

“Saat ingin marah, berhentilah sejenak. Saat ingin berteriak, berhentilah sejenak. Saat ingin menghukum, berhentilah sejenak. Jangan terbawa oleh emosi sesaat,” terang Elly mengutip kata-kata Siegel.

Setelah itu, Siegel menyarankan orang tua untuk mengajukan 3 pertanyaan ini pada diri sendiri, yaitu mengapa anak saya berperilaku seperti itu? “Saat kita sedang marah, seringkali kita menjawab, ‘Karena ia memang nakal.’ Namun kalau kita mencoba menjawabnya dengan rasa ingin tahu bukannya asumsi, kita bisa memahami anak lebih dalam,” tukas psikolog ini.

Selanjutnya, hal yang harus ditanyakan adalah ‘apa yang ingin saya ajari pada anak saya?’. Elly menjelaskan, tujuan disiplin bukanlah untuk menghukum anak, tapi mengajari anak agar tumbuh kontrol diri yang baik dari dalam diri anak.

“Jawaban untuk pertanyaan ini bisa jadi: mengendalikan diri, berbagi, bertanggung jawab, atau perilaku positif lainnya,”

Adapun cara terbaik yang bisa saya gunakan untuk mendidik anak ialah metode yang digunakan perlu disesuaikan dengan usia dan perkembangan emosional anak. Selain itu, perhatikan juga konteks kejadian, misalnya apakah anak menyadari bahwa ia salah atau tidak.

“Selalu ada cara yang lebih baik untuk mengubah perilaku buruk anak. Dengan menerapkan disiplin dengan kasih sayang, Ayah Bunda bisa jadi orang tua yang mendisiplinkan anak sekaligus memiliki anak yang merasa diperhatikan dan disayangi,” pungkas Elly.

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *