Din Syamsuddin: Proxy War Direkayasa Pihak Lain

by
Din Syamsuddin. Pemotret: Ahmad Zuhdi/Warta Pilihan

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia yang juga Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Din Syamsuddin menuturkan, bahwa organisasi Islam internasional seperti Rabithah Alam Islami bisa lebih meningkatkan perannya dalam rangka mempersatukan negara Islam dan umat Islam.

Wartapilihan.com, Jakarta –Usai mengikuti seminar sesi pertama penguatan pemikiran lslam moderat di tingkat Perguruan Tinggi, Din mengatakan, akhir-akhir ini kasus yang terjadi karena ada konflik internal, bahkan antar negara juga terjadi dalam bentuk proxy war yang mungkin saja dapat direkayasa oleh pihak-pihak lain.

“Jadi salah satu jalan keluar¬† yaitu adanya revitalisasi dari organisasi Islam seperti Liga Islam ini. Sekjen yang baru saya optimis pemikiran beliau memang berwawasan moderat seperti tadi disampaikan dalam ceramahnya,” kata Din kepada wartawan di depan Auditorium Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar lndonesia, Senin (l4/8).

Lebih lanjut, video yang viral karena ratusan santri yang melakukan demo dan mengatakan dalam orasinya ‘bunuh menterinya’, kata Din, hal itu terjadi karena salah paham saja. Sebab, Pemerintah tidak ada niat sama sekali untuk mematikan Madrasah Diniyah karena itu merupakan aset umat.

“Sementara disisi lain full day school istilahnya disampingkan menjadi rancu. Tidak ada istilah full day school, masa sehari penuh di sekolah. Kalau full day itu dari jam 06.00 sampai jam 06.00. Sebab, yang selama ini dilakukan belum setengah hari juga,” ungkapnya.

Artinya, terang Din, lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren lebih maju daripada full day school karena pesantren-pesantren sudah full day and night school.

“Mari kita pahami keinginan pemerintah agar siswa-siswa melakukan penanaman nilai-nilai akhlak dan karakter bangsa. Di sisi lain, harus punya waktu untuk keluarga pada akhir pekan. Runtuhnya akhlak ini karena keluarga-keluarga tidak punya waktu banyak,” jelas Din.

Selain itu, ia mengingatkan, Madrasah Diniyah bukan hanya milik satu atau dua organisasi, tetapi milik semua organisasi Islam. Tidak ada satu organisasi Islam yang dia mengklaim hanya memiliki Madrasah Diniyah. Madrasah Islam itu salah satunya Madrasah Diniyah. Sebab, waktunya sangat bervariasi, ada yang mulai jam 14.00, jam 16.00, bahkan malam. Sehingga tidak dapat dipukul rata.

“Pada hemat saya, cobalah disikapi dengan jernih, dengan cara beradab, jangan pakai demo-demo apalagi teriak-teriakannya bunuh menteri, bunuh menteri, itu radikal. Itulah watak-watak radikal yang sebetulnya perlu diatasi. Oleh karena itu jangan masalah ini di bawa ke dalam politik,” sarannya.

Umat Islam, simpul dia, apabila berbicara perjuangan akan malu ketika membicarakan tentang posisi politik. “Ini menurut saya sudah di rasuki oleh pikiran-pikiran radikalis. Kalau kita bicara jangan radikal tetapi perilaku kita radikal kan aneh. Bicarakan saja masalah ini baik-baik. Jangan main pokok-e, kalau sudah main pokok-e itu pikiran radikal, masih bisa di diskusikan. Kalau di kita adalah tabayun (klarifikasi),” tutupnya.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *