Bijak Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi COVID-19

by

Studi Kasus Manaemen Keuangan Keluarga di Seputar Kampus IPB University Dramaga

Saat pandemi covid-19 ini, banyak keluarga yang kesulitan untuk mengelola keuangan. Padahal rata-rata mereka memiliki penghasilan yang cukup. Banyak keluarga saat pandemi ini ceroboh dalam mengelola keuangan seperti fenomena panic buying. Tiap keluarga sebaiknya dapat mengelola keuangan dengan baik di kala pandemi maupun suasana normal. Seperti apa manajemen keuangan yang baik itu?

Wartapilihan.com Bogor– Manajemen keuangan keluarga yang optimal akan menghasilkan tingkat kesejahteraan yang maksimal. Pengelolaan keuangan keluarga sangat memerlukan keterampilan untuk mengatur dan memanajemennya dengan cermat dan baik. Namun banyak keluarga yang belum mengoptimalkan manajemen keuangan keluarganya. Guhardja et al. (1992) menyatakan bahwa berkembangnya kehidupan keluarga maka berkembang pula kebutuhan dan keinginan keluarga yang semakin hari semakin tak terbatas sedangkan sumberdaya yang dimiliki setiap keluarga terbatas.

Bahkan kebutuhan dan keinginan tersebut selalu berubah dan cenderung bertambah banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu manajemen sumberdaya keluarga yang baik, khususnya sumberdaya keuangan keluarga. Menurut OJK bahwa Perencanaan keuangan merupakan seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh individu atau keluarga untuk mencapai tujuan yang efektif, efisien, dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera.

Secara umum, aktivitas yang dilakukan adalah proses pengelolaan penghasilan untuk mencapai tujuan finansial seperti keinginan memiliki dana pernikahan, dana kelahiran anak dan lain- lain. Dalam mengelola manajemen keluarga, yang bertindak sebagai manager biasanya  adalah   ibu   rumah   tangga, namun di beberapa kasus yang kami temukan tidak selalu ibu rumah tangga bertindak sebagai manager, bapak yang menjadi kepala keluarga turut ikut serta dalam mengatur keuangan.

Ada beberapa hal-hal yang dapat diterapkan dalam mengelola keuangan keluarga.

Pertama, menyusun anggaran dengan membuat konsep / format pos-pos    penerimaan, dan pengeluaran yang disesuaikan dengan kebutuhan yang selama ini terjadi.

Kedua, membiasakan untuk menabung, maka kemampuan rumah tangga dalam mengelola keuangannya akan lebih mudah dan semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Ketiga, membeli barang produktif bertujuan untuk efisiensi dana keluar yang juga bisa dana tersebut dialihkan kebarang yang darurat dan sangat dibutuhkan, sehingga lebih produktif, berdaya guna dan berhasil guna.

Keempat, memiliki bisnis sampingan dengan memiliki sebuah usaha atau sampingan maka akan memperluas dan memperlunak gerak dari konsumsi dan pengeluaran keuangan rumah tangga.

Kelima, memiliki proteksi sebuah tindakan pencegahan atau preventif akan sebuah resiko yang mungkin akan terjadi didalam rumah tangga dan keluarga sangatlah penting dilakukan dan di pertimbangkan. Yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap keuangan rumah tangga jika resiko terus berdatangan namun kita tidak mempunyai tameng atau senjata untuk mengatasinya. Namun tetap dalam konteks seperlunya dan seefisien mungkin.

Keenam, investasi pasif income dan pasif amal Salah satu investasi yang tergolong pasif income adalah barang ciptaan yaitu harta produktif yang bisa kita buat dengan modal sendiri atau dengan modal orang lain dan memproduksinya secara masal dan mendapatkan pendapatan atau royalti. Kemudian pasif amal, yaitu bersedekah. Dengan bersedekah tidak akan menjadikan seseorang menjadi miskin.

Ketujuh, menghindari hutang-piutang yang sebenarnya harus diimbangi dengan menabung, akan sangat menjadi masalah jika lebih besar hutang daripada tabungan yang dimiliki. Jadi hutang sebisanya harus diminimalisasi, atau tidak ada sama sekali.

Berdasarkan hasil wawancara enam keluarga di Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, tiga keluarga termasuk ke dalam Keluarga Sejahtera Tahap I yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya (socio psychological needs), seperti kebutuhan ibadah, makan protein hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dan keadaan sehat, mempunyai penghasilan, bisa baca tulis latin dan ikut keluarga berencana. Rata-rata pengeluaran yang dibayar oleh keluarga sejahtera tahap I yaitu pengeluaran untuk biaya listrik dan air, di dalam mengatur keuangan dan permasalahan yang ada dilakukan secara berdiskusi bersama untuk mendapatkan jawaban.

Lalu dua keluarga termasuk Keluarga Sejahtera Tahap III yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan kebutuhan pengembangannya, namun belum dapat memberikan sumbagan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat, seperti secara teratur (waktu tertentu) memberikan sumbangan dalam bentuk material dan keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta berperan secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan atau yayasan-yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olah-raga, pendidikan dan sebagainya. didalam mengatur keuangan dan permasalahan yang ada dilakukan secara berdiskusi  bersama untuk mendapatkan jawaban dan lebih mementingkan tabungan untuk masa depan anak-anaknya.

Dalam mewujudkan perencanaan, dibutuhkan pengambilan keputusan mengenai bagaimana merubah permintaan dan bagaimana meningkatkan sumberdaya atau menggunakannya dengan berbeda untuk menghasilkan tujuan yang optimal. Dalam mengontrol perencanaan, dibutuhkan pelaksanaan, pengelolaan, dan pengecekkan yang pada akhirnya akan menghasilkan feedback atau hubungan timbal balik.

Keluarga Sejahtera menjadi dambaan setiap keluarga, untuk mencapai kesejahteraan tersebut berarti keluarga tercukupi kebutuhan materil, spiritual, mendapat kesempatan untuk berkembang sesuai potensi , bakat dan kemampuan masing-masing.

Penulis:

  Fahma Zakiya Zulfi
Azqia Maulida Darda

Mahasiswa Tingkat 3, Jurusan Proteksi Tanaman, IPB University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *