Berkebun, Sebuah Revolusi Sunyi

by
Hasil panen tanaman di Sendalu Permaculture. Foto: gibran

Dalam perjalanan pemikirannya di bidang perkebunan, Gibran mengaku terpengaruh dari sebuah film berjudul ‘Quite Revolution’ dan juga buku-buku gubahan Michael Pollan seperti ‘Second Nature’, ‘In Defense of Food’, ‘Second Nature’, ”The Omnivore’s Dilemma’, dan ‘The Botany of Desire’.

Permakultur yang notabene berasal dari frasa Permanent Agriculture merupakan konsep yang sudah lama ada, bertujuan tidak hanya perkebunan sesaat melainkan permanen. Berasaskan kembali pada alam, konsep perkebunan ini membawa harapan baru, terkhusus bagi alam.

“Tujuan saya melakukan ini awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja. Hal yang terlihat sederhana, tetapi tidak mudah dalam kenyataannya,” cerita Gibran.

Gibran Tragari, aktivis Sendalu Permaculture. Foto: Eveline

Ia pun mafhum bahwa dengan segala keterbatasannya, kesulitan dan cobaan ia alami. Seperti buah yang tumbuhnya tak besar, panen yang kadang gagal. Tetapi, tak seperti pemuda pada umumnya, bukannya menyerah, ia justru semakin menekuni bidang tersebut dengan kebahagiaan yang menyala di dada.

“Saya merasa ini passion saya. Dan saya akan menjalaninya meski tidak semua dapat dipenuhi (kebutuhan makanan diri-sendiri),” ungkap dia.

Dalam membedakan Permakultur dan teknik perkebunan lainnya, Gibran menjelaskan ada tiga etika utama yang ia pegang dalam melakukan perkebunan ini, yaitu (1) Peduli terhadap manusia, (2) Peduli terhadap alam, dan (3) Berbagi adil untuk alam dan manusia.

“Misalnya, pada ayam, kita harus adil terhadap mereka. Kita mengambil dagingnya, tapi jangan sampai ayam itu tersiksa. Yang terjadi di industri ayam, ayam dinyalakan terus lampunya agar terus makan dan tidak tidur. Kan kasihan ayamnya, tidak adil jika kita demikian,” tukas dia.

Delapan tahun ia berkelana di Jerman, ia mengatakan sudah banyak merasakan menjadi pekerja semasa kuliah. Alih-alih bekerja di perusahaan bonafit Indonesia, kini ia memilih menggarap lahan milik orang tuanya yang luasnya tak lebih dari 200 meter. Dengan areal yang tak begitu luas, Gibran optimis berkebun maupun beternak bisa dijalankan.

“Kata siapa berkebun itu harus punya lahan dulu? Semuanya bisa, dimulai dari diri-sendiri dulu. Merubah sesuatu mulai dari yang kecil, semuanya akan kembali ke kita,” tukas Gibran.

Ia mengkritik industri pertanian dan perkebunan yang telah ‘memperkosa tanah’ dengan mengambil unsur haranya, kemudian ketika sudah selesai menanam tidak ada ‘recovery’ melainkan meninggalkan begitu saja dan malah membuka lahan yang baru.

“Pertanian secara intensif itu dapat merusak tanah, dan dampaknya akan dilakukan perluasan lahan. Dan begitu seterusnya, hutan akan habis,” tuturnya prihatin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *