Asmat Butuh Air Bersih

by
Anak-anak Asmat. Foto: Zuhdi

Jika masyarakat Asmat menginginkan air bersih, maka harus menempuh jarak 100 km di perairan Agats.

Wartapilihan.com, Agats – Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat beberapa waktu lalu menjadi sorotan semua pihak. Kabupaten Asmat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Agats. Kabupaten Asmat adalah kabupaten yang pemusatan penduduknya berada di pesisir pantai atau di pinggir sungai.

Tokoh masyarakat Asmat Norbertus Kamona menjelaskan, salah satu permasalahan mendasar masyarakat Asmat terutama di Kota Agats adalah ketersediaan air bersih. Pasalnya, kata Nor, masyarakat sudah tidak lagi bersahabat dengan alam melalui penebangan pohon secara masif, sehingga mengurangi penyerapan air.

“Kami waktu kecil tergantung pada alam. Di rumah saya ada 12 drum besar untuk menadah air hujan. Dulu, pernah ada program dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) untuk air bersih. Tapi entah kenapa tidak diizinkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Jika masyarakat Asmat menginginkan air bersih, terang Nor, maka harus menempuh jarak 100 km di perairan Agats. Air tersebut nantinya digunakan untuk kebutuhan rumah sakit, sarana ibadah, keperluan rumah tangga, dan air minum masyarakat.

“Kita ambil sesuai dengan kapasitas kapal yaitu dua ratus ton. Dua ratus ton di supplai untuk satu minggu dan didistribusikan di tiap dermaga. Ke depan kami butuh (air bersih) untuk per-RT (rukun tetangga),” kata Kepala Stasiun Navigasi Radio Laut ini.

Nor mengeluhkan proyek pipanisasi yang dibangun pemerintah sejak tahun 2008 sampai hari ini belum terealisasi. Padahal, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih sangat tinggi.

“Selain itu, para pemuka agama juga harus diperhatikan karena mereka membangun moral manusia. ACT luar biasa. Kami percaya program ACT bukan hanya beras 100 ton, tapi bagaimana pemulihan psikologis, pendampingan, membangun kesadaran, dan pemberdayaan masyarakat juga di implementasikan,” ungkap Kasi Perizinan dan Keselamatan Dishub Darat Agats itu.

Ia berharap lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dapat membuat program air bersih yang nantinya akan didistribusikan di tempat-tempat ibadah warga Asmat. Sehingga ada pesan moral yang disampaikan untuk membangun spiritualitas masyarakat.

“(sejak 2008 pipa) belum difungsikan. Kami berharap ACT dapat membantu masyarakat Kabupaten Asmat. Air bersih bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari tapi juga untuk antisipasi jika suatu saat terjadi kebakaran. Disini rawan karena semuanya papan,” tandasnya.

Wakil Bupati Kabupaten Asmat Thomas E. Safanpo mengatakan, pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Asmat melakukan survey geolistrik sumber air bersih yang layak dikonsumsi dikedalaman 220 meter di bawah permukaan tanah. Ia mengaku hal itu sulit dilakukan karena berpotensi tertanam di dalam rawa-rawa. Kendati demikian, pihaknya terus mengupayakan untuk mengelola air bersih.

“Kalaupun dilakukan pemboran itu membutuhkan teknologi yang tinggi dan mahal. Kita pernah lakukan kerja sama dengan TNI, mereka menawarkan mesin pengolah air, seperti air laut bisa dikelola menjadi air bersih. Tapi alatnya sangat berat, tidak bisa didorong. Kondisi di Asmat tanah berlumpur,” tuturnya

Saat ini, kata dia, Pemerintah Kabupaten Agats tengah melakukan instalasi di rawa, dan menghitung kebutuhan masyarakat. Sebab, rawa di Agats volumenya tidak terlalu besar dan tidak ada mata air.

“Jadi dia semacam rawa penampung air hujan saja. Kalau hujan, air tertampung disitu. Itu yang menjadi kendala kita,” pungkasnya.

Kabid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan Kamaruzzaman mewakili Kemenkes menambahkan, ketersediaan air bersih di Asmat akan terus ditingkatkan melalui kerjasama dengan lintas sektor seperti lembaga filantropi, Kementerian Pekerjaan Umum, Satgas TNI-Polri, dan pemerintah daerah.

“Dalam sinergi kita memiliki tiga prinsip. Koordinasi, kolaborasi dan integrasi. Kolaborasi agar tidak tumpang tindih pekerjaan. Koordinasi berarti kewenangan. Integrasi program itu harus fokus anggaran, target dan sasaran,” ujar dia.

Menurutnya, air bersih menjadi kunci mendasar pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Saat ini, masyarakat Asmat tetap menggunakan filterisasi air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. “Kita ingin mengupayakan bagaimana air bersih yang murah, mudah dan bisa di akses oleh semua masyarakat,” pungkasnya.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *