Anak-Anak Mencintai Sungai Ciliwung

by
foto:istimewa

Dalam rangka memperingati hari Bumi yang bertepatan pada tanggal 22 April, Sekolah Kampung Sawah bekerjasama dengan Komunitas Ciliwung Depok bergerak memunguti sampah bersama di pinggiran kali.

Wartapilihan.com, Jakarta –Pagi-pagi sekali, anak-anak usia tujuh hingga sembilan tahunan sudah berpakaian oranye tanda siaga. Tak hanya anak-anak, mereka juga didampingi kedua orangtuanya masing-masing. Baik anak maupun orangtua, mereka sama-sama berantusias pada Ahad ceria ini, (22/4/2018).

Tepat di bawah jembatan Grand Depok City (GDC), pukul 8 anak-anak dan para orangtua murid Sekolah Kampung Sawah sudah berkumpul untuk belajar sambil bermain. Para panitia bergegas mengatur jalannya acara. Berbagai cemilan untuk sarapan dan minuman ada di atas meja.

Tetapi ada yang beda, di bawah jembatan serta pinggir sungai Ciliwung itu. Kali atau sungai yang sering distigma sebagai sesuatu yang kotor dan bau, tetapi tidak di bawah jembatan GDC itu. Justru ada mural cat warna-warni yang merona-merekah.

Sungai Ciliwung, meski deras kecokelatan namun tak tercium aroma sampah yang menyengat. Semua itu hasil kerja keras dari kawan-kawan Komunitas Ciliwung Depok yang sangat apik menyulap sungai menjadi instagramable.

Bambang Widjiatmoko selaku pegiat Komunitas Ciliwung Depok ini mengatakan, hampir setiap hari kawasan pinggiran sungai Ciliwung ini dibersihkan bersama anggota komunitas. Ia mengaku, awalnya tempat ini tak seindah sekarang, bahkan sempat dijadikan ‘markas’ bagi para pemulung, dan bahkan sebagai tempat untuk berbuat asusila.

“Awalnya tidak begini tempatnya, tempat orang buang sampah, tempat pemulung, kadang dipakai asusila. Malam sudah ada yang tinggal di sini (sekarang), jadi terjaga ya,” tutur Bambang, kepada Warta Pilihan.

Sudah berdiri sejak 2010, komunitas ini tidak hanya melakukan gerakan pembersihan sungai, namun juga tak lelah memberikan sosialisasi kepada masyarakat setempat agar tak lagi membuang sampah ke sungai.

“Kita terus bergerak, tak mengenal lelah mengajarkan masyarakat agar tidak mengotori sungai. Karena mengotori sungai mengotori laut juga. Sampah siapapun baik sadar maupun tidak sadar akan sampai ke laut. Jika jadi mikroplastik, kasihan kalau dimakan ikan tidak terurai, akhirnya dimakan kita sendiri,” tukas lelaki yang sudah bergabung dua tahun di komunitas ini.

Sementara itu, Yuli Pinasti selaku penggagas Sekolah Kampung Sawah mengatakan, tujuan dari kegiatan ini ialah untuk pembelajaran bagi para siswa untuk menjelajahi kota Depok.

“Dengan menginventarisasi kekayaan hayati Depok diharapkan dapat menambah rasa cinta anak-anak terhadap lingkungan,” ucap Yuli dengan semangat.

Operasi semut yang dilakukan oleh anak-anak saat ini, Yuli mengatakan, dapat disosialisasikan juga dari menonton video, dan berdiskusi bersama anak.

“Mereka ketika kelak jadi pemimpin bisa menjadi problem solver yang handal untuk memperbaiki keadaan bangsa,” imbuhnya.

Hal yang disosialisasikan pada kegiatan hari ini, selain melakukan operasi semut membersihkan sampah sekitaran sungai Ciliwung, juga mengajarkan pada anak dimana hulu dan hilir sungai Ciliwung.

“Kami memberitahukan pada anak, apa problematika Ciliwung, salah satunya di benak mereka adalah banjir. Dan penyebabnya adalah sampah,” tukas Yuli.

Di sisi lain, Vega Gusti Ranov, mahasiswa Bina Sarana Informatika (BSI) bersama 5 kawan lainnya turut menyertai gerakan bersih-bersih sampah ini. Vega dengan bersemangat memungut sampah seraya tak lupa mengenakan jaket universitasnya mengatakan, ia dan kawan-kawannya sangat berminat untuk bergabung di Komunitas Ciliwung Depok ini.

“Kita ingin ambil sesuatu yang beda, gabung kegiatan ini. Kalau kegiatan biasa, sekedar ikut habis itu hilang (tidak berkepanjangan). Apalagi kali Ciliwung ini banyak sampah berasal dari Bogor,” papar mahasiswa asal Bogor ini.

Kendati mengikuti program ini karena tugas pengabdian masyarakat dari tempat kuliahnya, namun Vega mengaku tanpa tugas pun hendak mengikutinya lagi dalam jangka waktu yang panjang.

“Dari pihak sini (Komunitas Ciliwung Depok) welcome ya, jadi kita berminat.
Langsung berminat, tanpa ada tugas dari kampus pengen ikut lagi,” tutur Vega.

“Ciliwung terkenal dengan sampah, dulu bersih. Kita harus lebih peduli terhadap lingkungan karena baik ke depannya. Sungai pasti berpengaruh, kalo bisa sih kembali ke jernih. Kita harus melakukan kegiatan berkepanjangan, harus rutin,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *