Amerika di Titik Didih: Antara Operasi “Epic Fury” di Teheran dan Kebangkitan “No Kings” di Rumah Sendiri

by

Lanskap global pada awal April 2026 ini diguncang oleh dua kekuatan besar yang saling berbenturan: gemuruh mesin perang Amerika Serikat-Israel di langit Iran dan gelombang massa “No Kings” yang membanjiri jalan-jalan kota di Amerika.

Wartapilihan.com, Washington D.C., 3 April 2026– Sebulan setelah Operasi Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari 2026, dunia menyaksikan krisis yang tidak hanya mengubah peta militer di Timur Tengah, tetapi juga menggoyang fondasi politik domestik Amerika Serikat.

Operasi militer yang diawali dengan serangan dekapitasi terhadap kepemimpinan Iran—termasuk tewasnya Ali Khamenei—awalnya diprediksi akan meruntuhkan rezim dalam hitungan hari. 1 Namun, realitas di lapangan menunjukkan ketahanan yang tak terduga. Meskipun militer AS mengklaim telah melenyapkan sepertiga kemampuan rudal Iran, Teheran masih mampu membalas dengan rentetan serangan ke Israel dan pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Transisi kekuasaan ke tangan Mojtaba Khamenei justru membawa garis kebijakan yang lebih keras. Iran kini memfokuskan kekuatannya pada satu titik lemah global: ekonomi.

Iran telah berhasil menerapkan kontrol efektif atas Selat Hormuz, jalur yang sangat vital bagi pasokan minyak dunia. Sejak awal Maret, arus lalu lintas komersial turun drastis hingga 94%.

Dalam langkah yang mengejutkan tatanan finansial, Teheran mulai memungut biaya tol bagi kapal-kapal yang diizinkan melintas dalam mata uang Yuan Tiongkok. Sistem “Tol Yuan” ini bukan hanya manuver ekonomi untuk mendanai militer mereka, tetapi juga tantangan langsung terhadap dominasi dolar AS. Dampaknya terasa hingga ke meja makan warga Amerika; harga bensin melonjak melampaui $4 per galon, yang kemudian memicu inflasi harga pangan dan kebutuhan pokok di seluruh negeri.

Tekanan ekonomi inilah yang menjadi bahan bakar bagi gerakan “No Kings”. Pada 28 Maret 2026, dunia mencatat rekor baru: antara 8 hingga 9 juta warga Amerika turun ke jalan dalam 3.300 aksi serentak di 50 negara bagian.  Ini adalah aksi protes satu hari terbesar yang pernah ada dalam sejarah Amerika Serikat.

Gerakan ini unik karena sifatnya yang lintas garis politik. Bukan hanya kelompok kiri progresif, demonstrasi ini juga diikuti oleh basis massa konservatif di wilayah pedesaan seperti Idaho dan Kansas yang merasa dikhianati oleh janji kampanye Donald Trump untuk “menghentikan perang tak berujung”.

  • Pusat Perlawanan: Minnesota menjadi titik pusat simbolis. Di bawah cuaca dingin, hampir 100.000 orang berkumpul di St. Paul, mendengarkan orasi Senator Bernie Sanders dan penampilan musik dari Bruce Springsteen yang menyanyikan lagu protes terbarunya. 10
  • Tuntutan Kolektif: Meskipun beragam, para pengunjuk rasa disatukan oleh penolakan terhadap perang yang dianggap tidak sah, kekerasan dalam penegakan hukum imigrasi (ICE), dan apa yang mereka sebut sebagai “otoritarianisme eksekutif”. 12

Apakah jutaan massa ini memengaruhi kebijakan pemerintah? Jawabannya: Ya, namun dengan cara yang kompleks.

Awalnya, Gedung Putih meremehkan aksi ini sebagai “sesi terapi bagi pembenci Trump”. Namun, tekanan publik mulai merembes ke kebijakan strategis:

  • Timeline “Dua Minggu”: Dalam pidato primetime pada 1 April, Presiden Trump secara mendadak mengumumkan bahwa misi di Iran akan selesai dalam “dua atau tiga minggu”. Para analis melihat ini sebagai upaya meredam kemarahan publik menjelang pemilihan sela (midterm).
  • Eskalasi versus De-eskalasi: Meskipun menjanjikan akhir perang, Trump tetap menggunakan retorika keras dengan mengancam akan membom Iran kembali ke “Zaman Batu” jika mereka tidak menyerah. Kontradiksi ini menunjukkan adanya perdebatan internal di kabinet antara kelompok hawk yang menginginkan perang total dan desakan politis untuk segera keluar dari konflik.
  • Konsesi Domestik: Di dalam negeri, tekanan demo telah memaksa pemerintah federal untuk melonggarkan operasi ICE di lokasi sensitif seperti sekolah dan rumah sakit sebagai bagian dari negosiasi anggaran untuk menghindari kebuntuan pemerintahan (shutdown).

Situasi per April 2026 berada dalam kondisi kebuntuan yang berbahaya. Di satu sisi, pemerintah membutuhkan dana tambahan sebesar $200 miliar untuk melanjutkan perang, namun Kongres yang terbelah dan rakyat yang marah membuat pendanaan ini sulit diamankan.

Para penggerak “No Kings” kini telah menetapkan target baru: 1 Mei 2026. Mereka menyerukan pemogokan umum nasional (General Strike) dengan slogan “Tanpa Kerja, Tanpa Sekolah, Tanpa Belanja”. Jika ancaman ini terwujud, Amerika Serikat akan menghadapi krisis ekonomi domestik yang jauh lebih parah daripada gangguan rantai pasokan di Selat Hormuz.

Perang melawan Iran yang awalnya direncanakan sebagai “kemenangan cepat” telah berubah menjadi ujian berat bagi ketahanan demokrasi Amerika. Demo besar-besaran yang terjadi bukan sekadar gangguan bagi pemerintah, melainkan faktor penentu yang kini mendikte kecepatan dan arah kebijakan luar negeri AS. Bagi warga dunia, pertanyaan besarnya bukan lagi kapan Teheran akan takluk, melainkan apakah stabilitas dalam negeri Amerika sanggup bertahan menghadapi tekanan perang yang kini menyentuh setiap aspek kehidupan mereka? [AF]