Agar Rumah Tangga Harmonis

by
Foto: kyma.com.

Dalam menempuh perjalanan rumah tangga, dinamika dan tantangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Maka dari itu, sebagai pasangan mesti memiliki sikap positif sebagai modal untuk mengarunginya.

Wartapilihan.com, Jakarta – Menurut Cahayadi Takariawan selaku konsultan keluarga, paling tidak, ada lima sikap positif yang harus dimiliki oleh setiap pasangan suami istri, agar bisa mendapatkan kehidupan berumah tangga yang langgeng, harmonis, bahagia dan penuh cinta. Yaitu 5 K berupa (1) Komitmen, (2) Kesejiwaan, (3) Kepercayaan, (4) Keterbukaan, (5) Keseimbangan.

Pasangan suami istri, tutur Cahayadi, terikat oleh komitmen, sejak mereka melakukan prosesi akad nikah, untuk bersama-sama menjalani kehidupan berumah tangga sesuai ajaran agama. Hendaknya komitmen ini selalu diperkuat dan diperjelas sehingga menjadi ikatan sakral yang tidak mudah dirusak dan diurai oleh keduanya.

“Pertama, komitmen untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada kebahagiaan yang didapatkan dalam pelanggaran, kemaksiatan dan kejahatan. Kebahagiaan hidup hanya bisa didapatkan dengan menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Maka pasangan suami istri harus berkomitmen untuk saling menguatkan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Menegakkan ibadah di dalam rumah tangga, melaksanakan sunnah, menjauhi hal dilarang Allah. Ini semua adalah komitmen yang harus terus menerus dibangun dan dikuatkan dalam keluarga,” kata Cahayadi, Senin, (10/9/2018).

Komitmen pun ada pada keinginan untuk bersama-sama meraih keberkahan dalam kehidupan. Pasalnya, keberkahan hidup berumah tangga adalah pondasi penting untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera.

“Jika hidup dalam keberkahan, pasti akan selalu bahagia. Namun jika mengejar kebahagiaan, belum tentu mendapat keberkahan. Maka pasangan suami istri harus berusaha untuk selalu mendapatkan keberkahan dalam hidup berumah tangga. Dengan keberkahan itulah, mereka bisa melakukan banyak kebaikan bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa,” tegasnya.

Suami dan istri juga harus selalu berkomitmen untuk menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Di antara cara menghadirkan kebahagiaan antara suami dan istri adalah saling setia, saling menjaga, saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi, saling mencintai, saling menjaga satu dengan yang lain.

“Jika suasana “saling” ini selalu dihadirkan secara bersama-sama oleh suami dan istri, akan mampu memproduksi kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan komitmen ini, kedua belah pihak selalu berusaha melakukan hal terbaik untuk pasangan,” tukas Penulis Buku Serial “Wonderful Family” ini.

Lebih lanjut Cahayadi menganjurkan, pasangan suami istri hendaknya berusaha untuk mencapai kesejiwaan. Yang dimaksud dengan kesejiwaan adalah tercapainya suasana nyaman dalam interaksi, karena dilandasi saling mengenal, saling mengerti, dan saling memahami dengan baik. Kesejiwaan pasangan suami dan istri adalah sebuah proses, dimana mereka berdua selalu berusaha untuk selalu mendekat semakin dekat.

“Mereka menciptakan bonding yang kuat sehingga ikatan di antara suami dan istri tidak akan bisa diganggu oleh siapapun. Kesejiwaan adalah terajutnya hati, perasaan, pikiran antara suami dan istri yang membuat mereka saling mengerti dan saling memahami.” Terang Cahayadi.

Kepercayaan juga harus dimiliki pasangan suami. Dalam sebuah hubungan pernikahan, menurut dia, kepercayaan adalah keniscayaan. Tidak mungkin anda membangun rumah tangga bahagia tanpa adanya rasa saling percaya satu dengan yang lain.

“Jika suami dan istri diliputi rasa curiga dan syak wasangka terhadap pasangan, mereka akan berada dalam suasana ketertekanan dan penderitaan. Mengapa suami dan istri merasa nyaman baik saat bersama maupun saat terpaksa berpisah sementara? Itu karena mereka berdua saling percaya. Tanpa keperccayaan, tidak mungkin mewujudkan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan,”

Keterbukaan juga menjadi kunci, karena jika keduanya saling menutup diri, atau lebih banyak menutup diri, membuat proses pengenalan akan terhambat.

“Jika suami dan istri saling membuka diri, akan membuat kesejiwaan cepat terwujud, dan membuat mereka saling mengenali dengan baik. Suami dan istri merasa nyaman karena yakin tak ada yang disembunyikan oleh pasangan,” imbuhnya.

Terakhir, suami istri harus selalu menjaga keseimbangan dalam segala sesuatu. Misalnya, keseimbangan perhatian antara bekerja dengan mengelola rumah tangga, keseimbangan antara mencari nafkah dengan pendidikan anak, keseimbangan antara prestasi di tempat kerja dengan kebaikan keluarga, dan lain sebagainya.

“Jangan sampai tenaga, waktu dan perhatian habis di tempat kerja sehingga ketika di rumah semuanya tinggal hal-hal sisa. Jangan sampai pula terlalu fokus mengurus manajemen rumah tangga namun tidak memiliki perhatian dalam menghasilkan nafkah untuk keluarga. Semua harus seimbang, karena masing-masing memiliki ukuran yang pas untuk bisa mendapatkan kebahagiaan,” pungkas Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014” ini.

 

Eveline Ramadhini