Refleksi Hardiknas: Menagih Janji Pendidikan yang Membahagiakan dan Mandiri

by

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada hari ini, 2 Mei 2026, menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen bangsa untuk menengok kembali akar filosofis pendidikan Indonesia.

 Wartapilihan.com, Jakarta– Di tengah laju zaman, pemikiran tokoh legendaris Ki Hadjar Dewantara kembali disorot sebagai kompas utama dalam membenahi arah pendidikan nasional.

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Pemerintah, aktivis pendidikan, hingga masyarakat luas diajak untuk merenungkan kembali ajaran Ki Hadjar yang berorientasi pada kemanusiaan yang utuh.

Hakikat Pendidikan: Melahirkan Manusia Bahagia

Bagi Ki Hadjar Dewantara, inti dari pendidikan bukanlah sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) atau persiapan mencari nafkah. Tujuan tertingginya adalah melahirkan manusia yang bahagia.

“Beliau mencita-citakan pendidikan tertinggi adalah Taman Pamong,” ujar Dr. Adian. Konsep ini menitikberatkan pada hadirnya sosok guru yang mampu menjadi murabbi atau pengasuh yang baik—orang-orang yang memiliki kemampuan untuk ngemong (mengasuh dengan kasih sayang).

Pendidik dalam pandangan ini diharapkan mencapai tahapan makrifat, yakni mereka yang memahami hakikat realitas serta mengerti betul maksud dan tujuan dari setiap tindakan yang dikerjakan.

Kritik Terhadap Model Pendidikan Barat

Menarik untuk menilik kembali pidato pendirian Taman Siswa tahun 1922 di Yogyakarta. Kala itu, Ki Hadjar telah memperingatkan bahaya model pendidikan ala Eropa atau Barat yang cenderung hanya melatih aspek fisik dan intelektual semata.

Model pendidikan seperti itu, menurut Dr. Adian, berisiko hanya mencetak lulusan yang mengejar ijazah demi menjadi pegawai atau buruh, yang pada akhirnya menciptakan ketergantungan bangsa Indonesia terhadap bangsa Barat.

Lebih jauh lagi, sistem yang mengutamakan intelektualisme tanpa pondasi karakter kuat diprediksi akan melahirkan dua “kemurkaan”:

  1. Kemurkaan Diri: Lahirnya sikap individualisme yang akut.
  2. Kemurkaan Benda: Dominasi paham materialisme dalam kehidupan masyarakat.

“Jika individualisme dan materialisme ini sudah mengakar, maka akan timbul pertengkaran yang merusak ketentraman di tengah masyarakat kita,” tegasnya.

Menuju Manusia yang Beriman dan Mandiri

Sebagai penutup refleksi, Dr. Adian mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa pendidikan ke depan harus berlandaskan pada nilai-nilai spiritualitas dan integritas.

Visi pendidikan nasional harus konsisten dalam melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mandiri. Dengan kembali ke khitah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, diharapkan pendidikan Indonesia mampu menjadi motor penggerak kedamaian dan kesejahteraan bangsa.

Disarikan dari Youtube adianhusainiTV: https://youtu.be/Fs_fWd1qcFA