Di tengah status darurat sampah yang menghantui Kota Depok, usulan sebuah gerakan revolusioner dari sektor pendidikan mulai menyemai harapan. Gerakan ini digagas dan diusulkan oleh sebuah kelompok tani dari Urban Farming Center Cipayung, yaitu Kelompok Tani Terpadu Karya Bersama Pondok Jaya.
Wartapilihan.com, Depok– Melalui konsep “Tunas Agri Depok” atau yang juga dikenal dengan “Agri-Spark”, generasi muda kini dipersiapkan tidak hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai agen perubahan lingkungan yang mampu mengolah limbah menjadi berkah di rumah mereka sendiri.
Program ini bukan sekadar kegiatan berkebun biasa. Ini adalah integrasi strategis antara ketahanan pangan perkotaan (urban farming) dengan pengelolaan sampah hulu-ke-hilir yang menyasar pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.
Filosofi Permakultur: Menutup Siklus Limbah
Inti dari program ini adalah filosofi Permakultur—sebuah sistem desain yang meniru pola ekosistem alam yang berkelanjutan. Dalam konteks Depok yang padat, filosofi ini diterjemahkan menjadi sistem pertanian tanpa lahan yang cerdas.
“Sampah organik kantin tidak lagi dibuang ke TPA Cipayung yang sudah penuh, melainkan masuk ke kandang biokonversi Maggot BSF,” tulis dokumen konsep tersebut. Maggot BSF (larva lalat tentara hitam) bertindak sebagai mesin pengurai alami yang super cepat, mengubah sisa makanan menjadi pupuk organik (kasgot) dan pakan ikan berprotein tinggi dalam hitungan hari. Inilah wujud nyata dari target Zero-Waste di lingkungan sekolah.
Kurikulum Berjenjang: Efek Bola Salju Kesadaran
Program ini disusun secara sistematis agar selaras dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), memastikan bahwa setiap aktivitas memiliki tujuan karakter yang jelas:
- Jenjang PAUD (Eksplorasi Sensorik): Anak-anak diajak mengenal alam melalui permainan (play-based). Mereka belajar mencintai tanah dan warna-warni sayuran melalui stimulasi indra.
- Jenjang SD (Praktik & Tanggung Jawab): Fokus pada pembentukan kebiasaan. Siswa bertanggung jawab atas “Taman Vertikal” mereka sendiri, belajar bahwa setiap tanaman butuh perhatian konsisten.
- Jenjang SMP (Sains Terapan): Mulai masuk ke teknologi tinggi namun aplikatif. Siswa mempelajari sistem Akuaponik (integrasi ikan dan sayur) serta biokonversi sampah menggunakan Maggot BSF.
- Jenjang SMA (Agripreneurship): Siswa didorong untuk melihat pertanian sebagai peluang bisnis. Mereka belajar mengolah hasil panen, seperti Belimbing Dewi ikon Depok, menjadi produk bernilai tambah seperti sirup atau selai dengan kemasan ramah lingkungan.
Kolaborasi Pentahelix: Kunci Keberlanjutan
Sadar bahwa perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian, program ini mengedepankan model kolaborasi Pentahelix. Hal ini melibatkan sinkronisasi antara tiga kedinasan utama: Dinas Pendidikan (kurikulum), DLHK (pengelolaan lingkungan), dan DKPPP (teknis pertanian).
Dukungan dari komunitas lokal seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) dan akademisi dari universitas ternama di Depok memberikan fondasi riset dan praktik yang kuat. Melalui kemitraan ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi menjadi laboratorium hidup yang memberikan dampak langsung pada lingkungan sekitar.
Menumbuhkan Pahlawan Lingkungan dari Rumah
Dengan membekali anak-anak keterampilan urban farming dan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace), mereka akan menularkan kebiasaan ini ke rumah masing-masing. Seorang anak yang tahu cara memilah sampah untuk pakan maggot di sekolah, akan menjadi penggerak bagi orang tuanya untuk melakukan hal yang sama di rumah.
“Inilah efek bola salju yang kita harapkan,” ungkap Ketua Poktan Karya Bersama, sebagai penggagas program tersebut. Dari satu sekolah, kesadaran ini akan menular ke tetangga, RT, RW, hingga akhirnya menciptakan masyarakat Depok yang cerdas pangan dan peduli lingkungan.
Program Tunas Agri Depok membuktikan bahwa solusi untuk masalah besar seperti darurat sampah dimulai dari hal kecil: sebuah benih yang ditanam oleh tangan-tangan mungil di sekolah, yang nantinya akan tumbuh menjadi peradaban yang lebih hijau bagi Kota Depok.
Tentang Program: Tunas Agri Depok adalah program edukasi pertanian terpadu berbasis urban farming dan pengelolaan sampah organik yang dirancang khusus untuk sekolah-sekolah di wilayah perkotaan padat penduduk.
Apakah gagasan baik ini akan gayung bersambut? Tentu saja kalangan birokrasi dari Disdik, DKP3, dan DLHK sangat ditunggu menyambutnya. Semoga…
Abu Faris (Praktisi Urban Farming, Fermaculture Design Certified)

