Thursday, October 1, 2026
Home Artikel Dari Riak Bengawan Solo ke Meja Makan: Nostalgia Ikan, Titik Kritis Halal,...

Dari Riak Bengawan Solo ke Meja Makan: Nostalgia Ikan, Titik Kritis Halal, dan Refleksi Dr. Adian Husaini

0
31

Menelisik pesan tersirat di balik gurauan seuntai ikan Rp 50 ribu di Desa Kuncen: tentang sungai yang menua, titik kritis kehalalan pakan, dan adab menjaga makanan yang thayyib.

Wartapilihan.com, Bojonegoro—Pagi di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, selalu menghadirkan aroma tanah lembap dan riak air sungai purba yang membelah tanah Jawa: Bengawan Solo. Di beranda sebuah rumah bersahaja, dengan latar lukisan kaligrafi hijau dan lemari kayu jati kuno, Dr. Adian Husaini duduk santai mengenakan kemeja biru muda dan kopiah rajut cokelat.

Tangan kanannya terangkat tinggi, menggenggam seutas tali rafia hijau. Dari tali itu tergantung untaian ikan air tawar segar hasil tangkapan nelayan sungai fajar tadi. Ikan terbesarnya—seekor ikan berkumis berkulit kelabu keperakan berdada putih montok yang tampak seperti ikan jambal/patin liar atau rengkik khas Bengawan—menggantung berat, diapit oleh beberapa ekor ikan sungai lainnya seperti bader dan keting.

Lewat sebuah unggahan di media sosial, intelektual Muslim dan pendidik yang sehari-hari akrab dengan mimbar kajian serta buku-buku tebal pemikiran peradaban itu membagikan potret tersebut dengan nada kelakar yang hangat:

“Nikmatnya di kampung, pagi-pagi sudah dapat ikan sungai Bengawan Solo… Segini harganya Rp 50 ribu. Kerjaan rutin waktu kecil: nyari ikan di Bengawan Solo. Berenang. Main bola. Sayangnya, bakat alam itu tidak berkembang, karena tidak ada coach yang melihat potensi saya!!!”

Tawa kecil pembaca seketika pecah membaca seloroh tentang “bakat alam yang luput dari pantauan pelatih”. Namun, di balik humor ringan itu, seuntai ikan seharga Rp 50.000 tersebut sejatinya membuka pintu lorong waktu: membawa ingatan melompat sejauh lima puluh tahun silam, ke dekade 1970-an, ketika sang cendekiawan masih berkejaran di tepian bengawan tanpa alas kaki.

Kenangan Emas 1970-an: Bengawan Solo yang Menghidupi

Bagi anak-anak bantaran sungai di Padangan era 1970-an, Bengawan Solo bukan sekadar bentang hidrologi; ia adalah arena bermain, gelanggang olahraga, sekaligus “pasar swalayan alamiah” gratis.

Ketika Adian kecil tumbuh, sungai terpanjang di Pulau Jawa ini masih berdenyut dalam keaslian ekosistemnya. Tatkala musim kemarau tiba dan debit air surut, bantaran sungai memunculkan hamparan pasir putih-kelabu (wedhèn) yang luas dan bersih. Di sanalah lapangan bola alam membentang tanpa batas. Anak-anak desa bermain sepak bola telanjang kaki hingga menjelang azan Maghrib, lalu serentak menceburkan diri ke air sungai yang kala itu masih sejuk, bening di tepian berarus tenang, dan aman diselami tanpa rasa gatal di kulit.

Menangkap ikan (nggogo atau meraba liang batu dengan tangan kosong, memakai seser, jala, maupun kail sederhana) adalah kecakapan wajib bocah tepian sungai. Bengawan Solo setengah abad lampau merupakan lumbung protein raksasa dengan keanekaragaman hayati air tawar yang menakjubkan:

  • Ikan Rengkik (Hemibagrus nemurus) & Baung: Ikan primadona berkumis panjang bertekstur daging kenyal, lembut, dan kaya gurih alami yang kelak menjadi ikon kuliner khas Bojonegoro.
  • Ikan Jendil & Patin Liar: Perenang arus deras yang berbobot mantap, menghuni palung-palung sungai (kedung) yang dalam.
  • Ikan Bader (Tawes) & Putihan: Berkilau keperakan di bawah terik matahari, melimpah ruah dan mudah dipancing hanya dengan umpan lumut sawah atau pelet singkong.
  • Ikan Sili (Macrognathus maculatus): Ikan eksotis bertubuh ramping serupa belut bertotol yang menandakan dasar sungai yang masih sehat dan berpasir alami.
  • Ikan Keting, Wagal, dan Melem: Menyempurnakan harmoni sungai yang seolah tiada henti membagikan rezeki kepada siapa saja yang mau melempar kail.

Saat musim pladu—fenomena perubahan debit air mendadak di awal musim penghujan saat ikan mabuk alami oleh endapan lumpur hulu—masyarakat tumpah ruah ke tepian sungai dengan serok dan tangguk. Semua orang pulang membawa ember penuh ikan segar tanpa kekhawatiran racun kimia.

Dinamika Setengah Abad: Luka Lingkungan Sang Bengawan

Melompat lima dekade ke masa sekarang, potret Bengawan Solo menyajikan kontras yang memilukan sekaligus ironis. Arus yang dahulu menjadi taman bermain alami kini menanggung beban modernisasi yang teramat berat.

Perbandingan wajah Bengawan Solo dalam 50 tahun terakhir:

IndikatorEra 1970-an (Masa Kecil Dr. Adian)Kondisi Hari Ini (Dekade 2020-an)
Kualitas AirAlami, fluktuasi hanya dipengaruhi endapan lumpur organik musiman; aman untuk mandi dan cuci.Kerap tercemar limbah industri hulu (limbah ciu/alkohol Bekonang, tekstil Solo Raya, limbah domestik perkotaan).
Bantaran SungaiBersih, tertutup vegetasi rumput gelagah, rumpun bambu ori, dan hamparan pasir (wedhèn).Dipenuhi tumpukan sampah plastik anorganik, erosi tebing, dan maraknya penambangan pasir mekanik ilegal.
Keanekaragaman IkanMelimpah; ikan-ikan pemilih habitat seperti rengkik, sili, dan wagal mudah ditemukan di setiap jengkal sungai.Populasi ikan endemik menurun drastis; rengkik kian langka dan mahal; mulai terinvasi spesies asing invasif (seperti ikan sapu-sapu/pleco).
Interaksi Sosial AnakSentral kegiatan: berenang, main bola di pasir, belajar membaca arus air dan sifat alam.Sangat minim; anak-anak menjauhi sungai akibat polusi air, sedimentasi lumpur pekat, dan pergeseran gawai.

Kondisi tercemarnya Bengawan Solo kini bahkan kerap memicu fenomena “ikan mabuk” bukan lagi karena adukan lumpur alami (pladu), melainkan akibat anjloknya kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) tercekik limbah kimia. Ikan-ikan endemik yang membutuhkan air bersih dan arus beroksigen tinggi kian terdesak ke kantong-kantong sungai tertentu.

Ikan, Titik Kritis Halal, dan Edukasi Umat: Perspektif Dr. Adian Husaini

Kehadiran seuntai ikan di tangan Dr. Adian Husaini sejatinya bukan sekadar obrolan kuliner atau romantisme masa kecil. Bagi seorang cendekiawan Muslim, sekaligus tokoh pendidikan Islam yang tekun mengkampanyekan pentingnya cara pandang Islam (Islamic worldview) dalam kehidupan sehari-hari, urusan makanan adalah pintu gerbang pembentukan adab dan peradaban.

Dalam pandangan fikih klasik, status kehalalan ikan sepintas tampak sederhana dan tuntas. Berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah: adapun dua bangkai itu adalah ikan dan belalang…” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Secara dzatiyah, ikan tidak membutuhkan proses penyembelihan syar’i sebagaimana hewan ternak darat. Namun, dalam konteks modernitas yang sarat teknologi pengolahan dan degradasi lingkungan, Dr. Adian senantiasa mengajak umat untuk tidak berhenti pada label fikih formalistik. Konsep yang digariskan Al-Qur’an adalah perpaduan utuh antara dua kata: Halal dan Thayyib (QS. Al-Baqarah: 168).

Dari sudut pandang edukasi halal kontemporer, ikan sungai menghadapi sejumlah titik kritis (critical control points) yang patut dicermati masyarakat:

a. Status Lingkungan Hidup dan Fikih Al-Jallalah

Ikan yang hidup di lingkungan tercemar ekstrem menyentuh ranah hukum al-jallalah (hewan yang mengonsumsi kotoran atau najis secara dominan). Apabila suatu perairan dijadikan pembuangan limbah najis, bangkai, atau kotoran manusia hingga meresap dan mengubah bau, rasa, maupun warna daging ikan, mayoritas ulama memakruhkan bahkan mengharamkan konsumsinya sampai ikan tersebut dikarantina (istibra’) dalam air bersih beberapa hari. Hal ini menegaskan bahwa kesucian sungai memiliki korelasi langsung dengan keabsahan ibadah pangan seorang Muslim.

b. Aspek Thayyib: Bebas dari Racun dan Bahaya Kimia

Prinsip dasar syariat menetapkan kaidah agung:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah & Malik).

Ikan yang terpapar limbah logam berat (seperti merkuri, timbal, kadmium) atau senyawa karsinogenik dari buangan pabrik tekstil dan industri hulu kehilangan predikat thayyib-nya. Makanan yang secara medis membahayakan kesehatan organ tubuh dan mengancam keberlangsungan generasi masa depan (hifzh an-nafs dan hifzh an-nasl) jelas bertentangan dengan maksud utama pensyariatan hukum Islam (Maqashid as-Syari’ah).

c. Kemurnian Pakan: Keunggulan Ikan Liar Sungai

Di tengah maraknya pakan ikan budidaya komersial yang kerap dicampur tepung tulang dan daging hewan (Meat and Bone Meal/MBM) yang diragukan kehalalan penyembelihannya, ikan tangkapan liar Bengawan Solo justru menawarkan keunggulan fitrah. Ikan-ikan ini bertahan hidup dengan memakan lumut sungai, serangga air, cacing, dan mikroorganisme alami. Keaslian rantai makanan alamiah ini membebaskannya dari syubhat pakan industri rekayasa, asalkan habitatnya tetap terjaga dari polusi kimiawi.

d. Titik Kritis Pengolahan Kuliner Modern

Ikan yang pada asalnya suci dan halal dapat berubah menjadi syubhat atau bahkan haram tatkala masuk ke dapur. Dalam tradisi kuliner ikan sungai, titik kritis sering kali bersembunyi pada:

  • Bahan penghilang bau amis: Penggunaan arak masak (seperti angciu, mirin, atau fermentasi beralkohol lainnya) yang tidak halal.
  • Bumbu penyedap dan marinasi: Ekstrak perasa gurih, hidrolisat protein nabati/hewani, dan kecap yang memanfaatkan media mikrobial atau asam amino dari sumber yang belum bersertifikat halal.
  • Minyak dan peralatan: Penggunaan minyak goreng bekas yang telah terkontaminasi bahan non-halal (cross-contamination).

Melalui keteladanan Dr. Adian Husaini, edukasi halal dibumikan bukan sebagai beban hukum yang kaku, melainkan sebagai bentuk kesadaran spiritual, kebersihan lahiriah, dan kepedulian sosial. Memilih ikan yang segar, sehat, dan diproses dengan benar merupakan wujud syukur hamba kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Berkah yang Tersisa dan Makna di Balik Rp 50.000

Melihat seuntai ikan segar di tangan Dr. Adian seharga Rp 50.000 di Desa Kuncen pada masa kini melahirkan dua lapis perasaan: syukur sekaligus peringatan.

Secara ekonomi, nilai lima puluh ribu rupiah untuk sekumpulan ikan sungai liar berukuran besar adalah berkah kemurahan rezeki desa yang tak ternilai. Di kota-kota metropolitan, seporsi mangut rengkik atau lodeh patin bengawan berkualitas serupa bisa bernilai ratusan ribu rupiah di restoran premium. Fakta bahwa nelayan lokal Kuncen masih mampu mendaratkan ikan-ikan tangkapan liar ini membuktikan bahwa Bengawan Solo, meski terluka oleh pencemaran, masih memiliki daya lenting (resilience) kehidupan yang luar biasa. Sungai legendaris ini tetap setia memelihara anak-cucunya.

Namun, unggahan itu juga mengusung pesan reflektif yang sunyi. Gurauan tentang “bakat berenang dan sepak bola yang tak dipantau pelatih” menyiratkan hubungan organik manusia masa lalu dengan alam semesta. Generasi dahulu ditempa oleh riak arus, pasir kasar, dan ketangkasan berburu ikan—sebuah pendidikan karakter berbasis alam bebas (nature-based character building) yang melahirkan fisik tangguh, daya juang gigih, dan kepekaan rasa.

Dari Desa Kuncen, seuntai ikan seharga Rp 50.000 itu bukan sekadar santapan sarapan yang gurih di atas wajan penggorengan. Ia adalah saksi bisu perjalanan waktu setengah abad: sebuah pengingat akan pentingnya menjaga amanah ekologis dan kesucian pangan, agar kelak anak-cucu Bojonegoro di masa mendatang tetap dapat menikmati lezatnya ikan rengkik yang benar-benar halal lagi thayyib, seraya merasakan hangatnya pelukan air Bengawan Solo.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)

Dukung Jurnalisme cerdas & bijak, https://sociabuzz.com/warta_pilihan/tribe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here