Oleh: Azka Sabila, Dara, Dwi Meilinda Ros, dan Tediansya
(Mahasiswa Universitas Pamulang)
Sudah mengirimkan puluhan lamaran kerja tetapi belum kunjung mendapat panggilan wawancara?
Bisa jadi kendalanya bukan pada nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau minimnya pengalaman, melainkan pada surat lamaran kerja yang diajukan. Sebagai salah satu dokumen pertama yang ditinjau oleh perekrut, kualitas surat lamaran memegang peranan krusial dalam menentukan nasib pelamar ke tahap seleksi berikutnya.
Data dari survei Loker.id tahun 2024 menunjukkan fenomena yang memprihatinkan: sebanyak 65 persen lamaran kerja mahasiswa gugur di tahap awal akibat penulisan surat yang tidak formal. Mayoritas kesalahan bersumber dari penggunaan bahasa yang tidak baku, struktur yang tidak beraturan, serta penyampaian kalimat yang bertele-tele. Padahal, waktu yang dimiliki perekrut sangat terbatas.
“HRD hanya membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 10 detik untuk memutuskan apakah sebuah surat lamaran menarik atau tidak,” demikian pesan pengingat yang kerap diabaikan para pencari kerja pemula.
Untuk menghindari penolakan instan, berikut adalah tiga kesalahan fatal dalam surat lamaran kerja mahasiswa yang harus segera dibenahi:
1. Penggunaan Bahasa Non-Baku dan Terlalu Umum
Banyak mahasiswa yang masih terjebak menggunakan gaya bahasa kasual atau kurang spesifik saat menyapa perekrut. Contoh kekeliruan yang sering ditemukan antara lain penulisan “Yth. Bapak HRD”, “Saya mau ngelamar kerja”, atau “Soalnya saya cocok banget”.
Gaya bahasa seperti ini dinilai kurang profesional. Untuk memperbaikinya, pelamar wajib menerapkan kaidah berikut:
- Salam Pembuka yang Jelas: Sebutkan nama perusahaan dan posisi yang dilamar secara spesifik. Contoh: “Yth. Manajer Human Resources PT Maju Bersama”.
- Pilihan Diksi Profesional: Gunakan kalimat formal seperti, “Saya bermaksud mengajukan lamaran pekerjaan untuk posisi…”, alih-alih menggunakan kata “mau ngelamar”.
- Hindari Singkatan dan Bahasa Percakapan: Bersihkan surat dari kata-kata seperti “nggak”, “banget”, “dll”, atau “dsb”. Bahasa yang baku mencerminkan profesionalitas dan bentuk penghormatan kepada instansi yang dituju.
2. Struktur Surat yang Tidak Beraturan
Surat lamaran kerja yang ideal wajib mengacu pada struktur baku yang terdiri dari tiga bagian utama: Pembuka, Isi, dan Penutup. Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang melompati bagian pembuka dan langsung masuk ke inti pesan tanpa menyertakan identitas diri yang jelas.
Agar informasi penting dapat terbaca oleh HRD dalam hitungan detik, pastikan urutan dokumen memenuhi standar berikut:
- Bagian Pembuka: Mencantumkan tempat dan tanggal penulisan surat, lampiran, perihal, serta alamat tujuan secara lengkap.
- Bagian Isi: Paragraf pertama berisi sumber informasi lowongan kerja. Paragraf kedua memuat identitas singkat serta poin-poin kualifikasi, keterampilan, maupun pencapaian yang relevan dengan posisi yang dilamar.
- Bagian Penutup: Berisi pernyataan harapan pelamar, ucapan terima kasih yang tulus, serta pembubuhan tanda tangan.
3. Kalimat Bertele-tele dan Tidak Efektif
Prinsip efektivitas kalimat melarang penggunaan kata-kata yang mubazir atau terkesan berlebihan (lebay). Contoh format yang salah dan sering dipakai: “Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan penuh rasa hormat dan antusias yang sangat besar sekali bermaksud untuk…”
Ganti kalimat berbelit tersebut dengan format yang langsung tertuju pada inti pembahasan, padat, dan mudah dipahami.
- Contoh yang Benar: “Dengan hormat, berdasarkan informasi lowongan kerja yang saya dapatkan, saya bermaksud mengajukan diri untuk mengisi posisi Staf Pemasaran di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin.”
Kesimpulan: Asah Keterampilan Sejak di Bangku Kuliah
Surat lamaran kerja bukanlah sekadar dokumen formalitas pengantar CV, melainkan representasi tertulis dari kualitas diri seorang calon tenaga kerja. Keterampilan menyusun surat formal ini merupakan kompetensi wajib yang harus dikuasai sebelum menyandang status lulusan.
Mulailah mengubah kebiasaan penulisan sejak dini. Tinggalkan gaya bahasa informal, lalu latih kemampuan menyusun kalimat yang efektif dan terstruktur. Ingat, satu lembar surat lamaran yang dipersiapkan dengan baik dan benar dapat membuka pintu peluang karier yang lebih luas di masa depan.

