Psikologi Pernikahan

by

Dalam pernikahan, pendidikan anak di keluarga merupakan unsur yang sangat penting. Menurut Muhammad Iqbal PhD, Ketua Asosiasi Psikologi Islam DKI Jakarta, ada korelasi positif antara hubungan ayah dan anak. Pertama, ayah yang terlibat dalam proses tumbuh kembang anaknya akan memiliki anak yang cenderung minim masalah dibandingkan dengan anak yang dalam proses tumbuh kembangnya tidak didampingi oleh sosok ayah.

Wartapilihan.com, Depok– Kedua, anak yang didampingi oleh ayah dalam proses tumbuh kembangnya memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dan memiliki sedikit masalah terkait perilaku.

Ketiga, ayah yang terlibat langsung dalam membacakan buku cerita kepada anak akan memiliki kegiatan special dengan anaknya, tertarik dengan pendidikan anaknya, mengambil peran yang sama dengan ibu dalam mengasuh anak, serta akan memiliki anak yang lebih berprestasi di sekolah.

Keempat, anak laki-laki yang memiliki ketelibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya akan cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan dengan kendali emosi yang cukup baik saat anak tersebut dewasa.

Kelima, anak perempuan yang dalam proses tumbuh kembangnya didampingi oleh ayahnya akan memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang lebih baik ketika dewasa kelak.

Penelitian yang dilakukan oleh Volling, Mohoney, dan Raur (2009), yang dikemukakan dalam Spetjiningsij (2014), menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan anak dipengaruhi sisi religious orang tuanya. orang tua yang religious akan mendorong anak-anaknya mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, sehingga memengaruhi muncul perilaku-perilaku positif, missal seperti self control yang baik, suara hati (hati nurani) yang baik, serta problem-problem perilaku internal dan eksternal yang lebih sedikit.

Meyangkut psikologi pernikahan, salah satu yang menyebabkan awetnya rumah tangga adalah soal kesehatan mental suami istri. Bila kesehatan mental terganggu, maka bisa menyebabkan perceraian atau keruntuhan keluarga. Misalnya, pasangan terkena narkoba atau napza dan lain-lain. Dadang Hawari (2007) menyebutkan ada 13 gangguan mental dan perilaku akibat mengkonsumsi napza. Pertama, meninggalkan ibadah, padahal semula rajin. Kedua, berbohong padahal semula jujur. Ketiga, membolos padahal semula rajin. Keempat, meninggalkan rumah (minggat), Kelima, bergaul bebas (seks bebas atau perzinahan). Keenam, menjual barang, mencuri dan tindak criminal. Ketujuh, prestasi belajar merosot (drop out). Kedelapan, melanggar disiplin, padahal semula taat. Kesembilan, merusak barang-barang rumah tangga. Kesepuluh, mengakali dan melawan orang tua. Kesebelas, pemalas (enggan merawat diri). Kedua belas, suka mengancam, melakukan tindak kekerasan dan berkelahi. Ketiga belas, sering mengalami kecelakaan lalu lintas.

Menurut Kartono (2014), temperamen orang tua, terutama ayah yang agresif, meledak-ledak suka marah dan sewenang-wenang seta bertindak criminal tidak hanya akan mentransformasikan efek dari temperamennya, melainkan juga menimbulkan iklim yang mendemoralisasi secara psikis, sekaligus merangsang reaksi emosional yang sangat impulsif kepada anak-anaknya.
Dalam era digital ini, internet perlu mendapat perhatian. Disamping internet memiliki dampak positif kepada keluarga (meningkatkan ilmu pengetahuan dll),tapi juga menimbulkan dampak negatif.

Diantara dampak negatifnya, adalah : pertama, menyebabkan kecanduan, terutama permainan games online yang bisa mengakibatkan gangguan pada konsentrasi, emosi, dan prestasi anak. Kedua, banyak anak yang melalaikan tugas sekolah atau belajar karena sibuk dengan gadget, missal media social dan games. Ketiga, konten pornografi akan lebih mudah diakses, terutama anak. Keempat, komunikasi dan interaksi antar keluarga menjadi berkurang. Ada rasa enggan dan malas untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar sehingga kepedulian social mereka pun rendah, Kelima, menimbulkan rasa malas untuk berolah raga, sehingga tubuh tidak fit dan mudah terserang penyakit. Keenam, menjadi sumber konflik dalam keluarga, terutama aktifitas di media social. Misal pertemanan yang memunculkan rasa cemburu diantara pasangan suami istri. Ini bisa berujung pada perselingkuhan dan perceraian. Ketujuh, intimasi (intimacy) dalam keluarga menjadi berkurang.

Untuk menghindari perceraian dan rumah tangga utuh, maka perlu ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga ini bisa terbagi menjadi enam. Pertama, ketahanan spiritual. Ketahanan spiritual terkait kemampuan keluarga dalam meningkatkan keyakinan beragama dalam bentuk menjalankan ibadah dan menjalankan ajaran agama. Kedua, ketahanan fisik. Ketahanan fisik yaitu kemampuan kemampuan keluarga dalam menjaga kesehatan fisik. Anggota keluarga yang sakit akan berdampak pada ketahanan keluarga, baik secara ekonomi maupun kenyamanan psikologis.

Ketiga, ketahanan psikologis keluarga. Ketahanan psikologis, yakni kemampuan anggota keluarga untuk mengelola kesehatan mentalnya, baik mengelola emosi, stress, motivasi hidup, interaksi dengan anggota keluarga, mengambil keputusan hingga mengelola konflik- sehingga diharapkan anggota keluarga dapat berkembang dan menjalankan fungsinya dengan baik. Banyak ditemukan kasus perceraian yang terjadi karena adanya komunikasi dan kesehatan mental pasangan yang bermasalah.

Keempat, ketahanan ekonomi. Ketahanan ekonomi, yakni kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan pangan, sandang, papan, maupun hiburan.

Kelima, ketahanan social. Yakni kekuatan keluarga dalam menerapkan nilai, budaya dan norma dalam masyarakat. Ketahanan social meliputi cara sebuah keluarga berinteraksi dengan lingkungan social.

Keenam, ketahanan komunikasi. Komunikasi merupakan kunci utama dalam menyelesaikan persoalan keluarga. Pada prinsipnya, setiap keluarga akan menghadapi berbagai ancaman, hambatan, tantangan dan gangguan. Oleh sebab itu kemampuan komunikasi anggota keluarga sangatlah penting untuk menjaga keutuhan keluarga. (NH, dikutip dari Buku Psikologi Keluarga karya Muhammad Iqbal, PhD, Gema Insani, 2019).

Nuim Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *