Ketika Negara Jatuh Miskin: Siklus Besar Utang yang Mengancam Tatanan Dunia

by

HOW COUNTRIES GO BROKE
AVID READER PRESS
An Imprint of Simon & Schuster, LLC.
1230 Avenue of the Americas
New York, NY 10020
Copyright © 2025 by Ray Dalio

JAKARTA, WARTAPILIHAN – Ekonom dan investor kawakan Ray Dalio melalui bukunya, “How Countries Go Broke: The Big Cycle”, menyajikan analisis mendalam tentang siklus utang besar (Big Debt Cycle) yang secara historis berulang kali membawa negara-negara ke ambang kebangkrutan, bahkan mengubah tatanan dunia. Dalio, yang telah lebih dari 50 tahun berkecimpung di pasar global, berargumen bahwa dinamika utang ini, meskipun tampak kompleks, sejatinya berjalan secara mekanistis dan dapat diidentifikasi melalui pola-pola yang telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian utama. Bagian pertama menguraikan konsep dasar Siklus Utang Besar, mulai dari siklus utang jangka pendek (sekitar 6 tahun) yang terakumulasi menjadi siklus utang jangka panjang (sekitar 80 tahun). Dalio menjelaskan bahwa utang, meskipun berfungsi sebagai stimulan ekonomi, pada akhirnya menciptakan kewajiban pembayaran yang dapat menghambat pengeluaran di masa depan, memicu sifat siklus ini. Puncaknya adalah ketika jumlah utang dan kewajiban pembayaran menjadi tidak berkelanjutan dibandingkan dengan pendapatan dan aset yang ada. Dalam kondisi ini, bank sentral dihadapkan pada dua pilihan: mencetak uang secara masif (devaluasi) atau membiarkan krisis gagal bayar yang besar terjadi. Sejarah menunjukkan, bank sentral selalu memilih mencetak uang, yang pada akhirnya merendahkan nilai mata uang dan aset utang.

Dalio juga mengkritik lembaga pemeringkat kredit yang hanya menilai risiko gagal bayar, bukan risiko hilangnya nilai utang. Padahal, bagi pemegang utang, devaluasi sama berbahayanya dengan gagal bayar. Ia menekankan pentingnya memahami empat indikator utama risiko utang: utang relatif terhadap pendapatan, beban pembayaran utang relatif terhadap pendapatan, tingkat suku bunga nominal relatif terhadap inflasi dan pertumbuhan pendapatan, serta utang dan beban pembayaran utang relatif terhadap cadangan.

Bagian kedua buku ini memaparkan sembilan tahapan arketipikal yang mengarah pada kebangkrutan pemerintah dan bank sentral. Tahapan ini dimulai dengan akumulasi utang sektor swasta dan pemerintah. Ketika sektor swasta mengalami krisis utang, pemerintah turun tangan dan semakin terperosok dalam utang. Ini menyebabkan krisis utang pemerintah di mana permintaan pasar bebas terhadap utangnya tidak sebanding dengan penawaran. Penjualan utang pemerintah secara besar-besaran menjadi lampu merah yang signifikan, memicu pengetatan moneter, pelemahan ekonomi, tekanan terhadap mata uang, dan penurunan cadangan devisa.

Pada tahapan krisis, bank sentral dipaksa untuk mencetak uang dan membeli obligasi untuk menjaga suku bunga tetap rendah dan melonggarkan kredit, sebuah tindakan yang disebut Dalio sebagai “monetisasi utang” atau “quantitative easing” (QE). Namun, jika suku bunga terus naik, bank sentral bisa merugi karena biaya pembayaran liabilitasnya melebihi pendapatan dari aset utang yang dibeli. Hal ini dapat memicu “spiral kematian” utang, di mana bank sentral terpaksa mencetak lebih banyak uang untuk menutupi kerugian, yang selanjutnya mendevaluasi mata uang dan memicu resesi atau depresi inflasi. Tahap akhir adalah restrukturisasi dan devaluasi utang, yang meskipun menyakitkan, pada akhirnya mengurangi beban utang dan menciptakan landasan bagi siklus baru.

Dalio membandingkan kasus Jepang yang, meskipun memiliki kapasitas untuk melakukan “deleveraging indah” (deleveraging yang seimbang antara restrukturisasi deflasi dan stimulus moneter inflasioner), justru melakukan sebaliknya selama dua dekade, mengakibatkan deflasi berkelanjutan dan stagnasi ekonomi. Ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk AS dan Tiongkok.

Bagian ketiga meninjau kembali Siklus Utang Besar sejak 1945, dengan fokus pada Amerika Serikat sebagai negara mata uang cadangan utama dunia. Dalio menyoroti bagaimana AS telah melalui berbagai fase kebijakan moneter: dari sistem terkait emas (MP0) hingga kebijakan moneter berbasis suku bunga (MP1), dan kemudian kebijakan moneter dengan monetisasi utang (MP2 dan MP3). Ia mengamati bahwa setiap siklus utang jangka pendek cenderung berakhir dengan tingkat utang yang lebih tinggi daripada sebelumnya, karena pembuat kebijakan selalu berupaya mengatasi resesi dengan melonggarkan kredit.

Dalio juga membahas empat kekuatan besar lainnya yang membentuk Siklus Besar Keseluruhan: siklus ketertiban dan kekacauan politik internal, siklus ketertiban dan kekacauan geopolitik eksternal, bencana alam (kekeringan, banjir, pandemi), dan inovasi teknologi. Kelima kekuatan ini saling berinteraksi, menciptakan gelombang naik dan turun dalam kedamaian dan kemakmuran, serta konflik dan depresi. Dalio mengklaim bahwa dunia saat ini, terutama AS dan Tiongkok, berada di Tahap 5 dari Siklus Besar, yang ditandai dengan utang yang berlebihan, disfungsi politik internal, konflik geopolitik yang meningkat, dampak bencana alam yang parah, dan kemajuan teknologi yang revolusioner.

Bagian terakhir buku ini menatap ke depan, memberikan pandangan Dalio tentang masa depan berdasarkan analisis indikator dan prinsip-prinsip yang telah dipaparkannya. Ia menilai bahwa risiko utang jangka panjang pemerintah AS sangat tinggi saat ini, dengan tingkat utang dan pembayaran utang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, risiko jangka pendek dinilai rendah karena inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang moderat serta sektor swasta yang relatif sehat. Dalio mengusulkan “Solusi 3% Tiga Bagian” untuk AS, yaitu memangkas defisit anggaran hingga 3% dari PDB melalui kombinasi pemotongan belanja, peningkatan pajak, dan pemangkasan suku bunga. Ia berargumen bahwa pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve akan menjadi tuas paling efektif untuk mengurangi beban utang.

Dalio juga memperingatkan tentang perpecahan politik internal di AS yang semakin mendalam, mirip dengan periode sebelum Perang Dunia I dan II. Konflik geopolitik antara AS dan Tiongkok juga semakin intensif, meskipun Dalio tidak memprediksi perang militer langsung dalam waktu dekat. Ia melihat adanya “perang” lain, termasuk perang ekonomi dan teknologi, yang sedang berlangsung.

Meskipun Dalio mengakui ketidakpastian di masa depan, ia percaya bahwa memahami Siklus Besar dapat memberikan keunggulan dalam menavigasi periode perubahan dramatis yang akan datang. Ia menekankan bahwa teknologi, khususnya kecerdasan buatan, akan terus menjadi kekuatan pendorong utama dalam peningkatan produktivitas, namun dampaknya mungkin tidak cukup untuk mengimbangi tekanan dari utang, konflik, dan perubahan iklim. Dalio menutup dengan pesan penting: “Jika Anda tidak khawatir, Anda perlu khawatir—dan jika Anda khawatir, Anda tidak perlu khawatir.” Artinya, kesadaran akan risiko adalah langkah pertama menuju perlindungan.