Oleh: Meidyna Nur Aisyah
Dalam beberapa tahun terakhir, pusat perbelanjaan ikonik seperti Pasar Tanah Abang dan berbagai mall besar di Indonesia mengalami perubahan lanskap operasional yang drastis. Pemandangan kios yang mulai sepi berbanding terbalik dengan keramaian aktivitas perdagangan yang kini berpindah ke layar ponsel melalui fenomena live shopping.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran fundamental dalam cara konsumen berinteraksi dengan pasar. Digitalisasi ritel melalui platform seperti TikTok Live dan Shopee Live telah menetapkan standar baru dalam efisiensi belanja yang sulit dikejar oleh pola toko konvensional. Kondisi ini menjadi ancaman eksistensial bagi jutaan UMKM dan tenaga kerja di sektor ritel yang tidak segera beradaptasi.
Akar Masalah: Efisiensi vs. Biaya Operasional
Meskipun aktivitas jual beli di pasar fisik mulai terlihat kembali menjelang Lebaran 2026, volume pengunjung belum sepenuhnya kembali ke masa kejayaan sebelum pandemi. Beberapa faktor utama yang memicu pergeseran ini meliputi:
- Struktur Biaya yang Tidak Seimbang: Toko fisik terbebani oleh biaya operasional tinggi, seperti sewa kios, perawatan, dan tenaga kerja yang sulit dihindari. Sebaliknya, model e-commerce dan video commerce menawarkan efisiensi rantai pasok yang jauh lebih unggul.
- Persaingan Harga yang Agresif: Harga barang di toko online sering kali jauh lebih murah karena memotong jalur distribusi perantara. Para pedagang fisik, seperti yang diungkapkan oleh pedagang di Tanah Abang, merasa sangat sulit bersaing dengan harga yang ditawarkan secara online.
- Perubahan Perilaku Konsumen: Konsumen kini lebih memilih kenyamanan belanja dari rumah. Live shopping memberikan kemudahan eksplorasi produk, interaksi langsung dengan host, serta tawaran diskon yang menarik, sehingga memberikan efisiensi waktu bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Transformasi Ekonomi Digital
Pergeseran ini mencerminkan transformasi ekonomi nasional yang masif. Laporan e-Conomy SEA 2025 memproyeksikan nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai angka Rp1.187 triliun pada tahun 2025, dengan sektor video commerce sebagai salah satu pendorong utamanya.
Solusi Strategis: Mengadopsi Omnichannel
Untuk bertahan di era disruptif ini, pedagang fisik tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional. Langkah strategis yang sangat direkomendasikan adalah penerapan sistem omnichannel—sebuah konsep gabungan antara keunggulan interaksi toko fisik dan fleksibilitas ekosistem digital.
Beberapa langkah adaptasi yang dapat dilakukan:
- Integrasi Digital: Memanfaatkan live shopping dan marketplace sebagai saluran pemasaran baru untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
- Reposisi Toko Fisik: Mengubah fungsi toko fisik menjadi ruang pamer (showroom). Di sini, konsumen tetap bisa merasakan kualitas produk secara langsung sebelum memutuskan untuk bertransaksi secara daring.
Kesimpulan
Digitalisasi adalah bentuk nyata dari transformasi struktural menuju ekonomi digital. Bagi para pelaku ritel, kunci untuk membangun daya saing dan tetap relevan adalah dengan menyatukan pengalaman interaksi fisik dengan fleksibilitas teknologi, sehingga mampu menyeimbangkan tuntutan pasar modern saat ini.
Tentang Penulis,
Meidyna Nur Aisyah
Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang
SUMBER
Idris, M. (2023). Pedagang Tanah Abang Keluhkan Harga di TikTok Shop Jauh Lebih Murah, Ini Kata Kemenkop UKM. Kompas Money. https://money.kompas.com/read/2023/09/28/211722726/pedagang-tanah-abang-keluhkan-harga-di-tiktok-shop-jauh-lebih-murah-ini-kata
Pratama, K. R. (2025). Nilai Bisnis E-commerce Indonesia Tahun 2025 Tembus Rp 1.187 Triliun. Kompas Tekno. https://tekno.kompas.com/read/2025/11/13/19150087/nilai-bisnis-e-commerce-indonesia-tahun-2025-tembus-rp-1187-triliun?page=all
Sandria, F. (2026). Ternyata Gegara Ini Pasar Tanah Abang Tak Lagi Sesak Padat Mau Lebaran. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260310151706-4-717742/ternyata-gegara-ini-pasar-tanah-abang-tak-lagi-sesak-padat-mau-lebaran

