Penistaan Agama Potensi Disintegrasi Bangsa

by
foto:istimewa

Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman mengapresiasi putusan JPU yang menuntut terdakwa pendeta Abraham selama 5 tahun.

Wartapilihan.com, Jakarta- Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa penistaan agama Pendeta Abraham Ben Moses alias Saifuddin Ibrahim berupa hukuman pidana penjara selama 5 tahun patut diapresiasi. Hal itu disampaikan Pedri Kasman dalam keterangan pers yang diterima Wartapilihan.com, Selasa (24/4).

“Keberanian JPU telah memberi harapan pada masyarakat agar sang terdakwa dihukum berat. Tindakan ugal-ugalan melakukan penistaan terhadap suatu agama oleh siapapun sangat penting diberi hukuman seberat-beratnya. Karena tindakan tersebut berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sebuah tindakan yang sangat tidak Pancasilais,” ujar Pedri.

Tuntutan dibacakan dalam persidangan kemaren di Pengadilan Negeri Tangerang sekitar pukul 13.30 hingga 15.00 WIB. JPU menuntut pada Majelis hakim untuk menyatakan bahwa terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 28 ayat 2 dan pasal 45A ayat 2 UU ITE.

Ia berharap kepada Majelis Hakim yang dipimpin Muhammad Damis dapat memutus perkara dengan seadil-adilnya dan memberi hukuman berat pada terdakwa.

“Agar menjadi efek jera bagi terdakwa dan pelajaran untuk semua pihak. Sesuai pasal 45A ayat 2 UU Nomor 19 tahun 2016, hakim dapat memutus hukuman pidana penjara hingga 6 tahun,” tegasnya.

Berikut bunyi pasal 45A ayat 2 UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 5 tahun. Hal itu, karena perbuatan tersebut menimbulkan adanya ketersinggungan antar umat beragama,” kata Jaksa Penuntut Umum, Muhammad Airlangga.

Atas tuntutan tersebut, Moses maupun kuasa hukumnya tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan lantaran beberapa alasan. Maxie yang merupakan kuasa hukum Moses menyampaikan dalam persidangan, bahwa mereka tak mengajukan eksepsi lantaran belum menerima berkas tuntutan secara lengkap.

“Masih kita pelajari dan ikuti prosesnya,” katanya, singkat.

Sebagai informasi, Moses dijerat dengan pasal 28 ayat (2) UU ITE yang diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE. Pada pasal itu diatur pula ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Ia ditangkap atas dasar tiga postingannya, yaitu postingan tanggal 12 November 2017 berjudul Sayembara 11, postingan tanggal 24 November 2017 berjudul Dongeng 15, dan postingan berjudul Alasan 17 dan video berdurasi 4 menit 25 detik.

Sidang akan dilanjutan pada hari Rabu tanggal 2 Mei 2018 jam 10.00 WIB dengan agenda Pembelaan (pledoi) dari Penasehat Hukum Terdakwa.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *