Paradoks Menara Gading Sekuler: Menakar Izzah Santri dan Disorientasi Pendidikan Islam di Era AI

by

Banyak santri dan pelajar Muslim menaruh kebanggaan yang jauh lebih besar ketika berhasil menembus perguruan tinggi sekuler dibandingkan saat mereka diterima di universitas Islam. Fenomena psikologis dan sosiologis ini memicu pertanyaan mendasar: apa yang salah dengan persepsi dan institusi pendidikan Islam kita?

DEPOK — Sebuah pemandangan kontradiktif kerap berulang setiap tahun menjelang tahun ajaran baru. Di berbagai pondok pesantren dan sekolah Islam, pengumuman kelulusan santri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) umum atau kampus sekuler disambut dengan selebrasi yang meriah. Spanduk-spanduk besar dibentangkan, ucapan selamat bertebaran di media sosial, dan ada kepuasan mendalam yang terpancar dari wajah para pendidik maupun orang tua.

Namun, di balik kegembiraan itu, tersimpan sebuah paradoks sosiologis yang sunyi: mengapa penerimaan santri di Universitas Islam Negeri (UIN) atau kampus swasta Islam papan atas sering kali tidak memicu histeria kebanggaan yang sama? Mengapa institusi yang bertahun-tahun mendidik mereka tentang kesucian ilmu agama seolah menempatkan kelulusan di kampus non-keagamaan sebagai puncak pencapaian tertinggi?

Pertanyaan-pertanyaan kritis inilah yang dibedah secara mendalam oleh Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus pakar pendidikan Islam, Dr. Adian Husaini, dalam Serial Kuliah Spesial bertajuk “Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan” yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Pondok Pesantren At-Taqwa Depok. Dengan pisau analisis yang tajam, ia menguliti akar masalah psikologis, sosiologis, hingga disorientasi epistemologis yang sedang melanda dunia pendidikan Islam di tanah air.

1. Ilusi Prestise dan Hegemony Materialisme

Menurut Dr. Adian Husaini, kebanggaan semu yang menjangkiti para pelajar Muslim terhadap kampus sekuler berakar pada cara pandang keduniawian (worldview sekuler) yang telah mengaburkan esensi hakiki dari aktivitas mencari ilmu. Kampus-kampus sekuler dinilai memiliki daya pikat luar biasa karena menawarkan tiga hal utama: prestise sosial, jaminan karier yang mapan, serta fasilitas akademis yang mutakhir.

“Ada asumsi implisit yang tertanam di benak masyarakat kita bahwa kesuksesan hidup diukur dari seberapa cepat seseorang mendapatkan pekerjaan pasca-kuliah dan seberapa besar materi yang bisa dikumpulkan,” ungkap Dr. Adian.

Namun, di balik gemerlap status sosial tersebut, ada tantangan besar yang jarang disadari oleh para santri dan orang tuanya: klaim netralitas nilai (sekularisme). Di lingkungan akademik sekuler, sains dan ilmu pengetahuan modern sering kali dilepaskan sepenuhnya dari nilai-nilai ketuhanan dan wahyu.

Jika seorang santri memasuki ekosistem ini tanpa fondasi keimanan yang kokoh dan kejelasan adab, mereka sangat rentan mengalami krisis identitas. Proses desantrisasi secara perlahan akan terjadi, di mana ilmu pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai sarana ibadah (taqarrub ilallah), melainkan sekadar instrumen pragmatis untuk bersaing di pasar tenaga kerja global.

2. Tantangan Disrupsi AI: Ketika “Pintar Otak” Saja Tak Lagi Cukup

Membawa diskusi ini ke dalam konteks masa depan, Dr. Adian menghubungkan fenomena kebanggaan kampus sekuler dengan badai disrupsi Artificial Intelligence (AI). Selama berabad-abad, perguruan tinggi sekuler—dan sayangnya diikuti oleh sebagian kampus Islam—mengandalkan fungsi transfer informasi dan pelatihan kognitif sebagai komoditas utama mereka.

Namun, di era kecerdasan buatan, fungsi-fungsi kognitif tersebut telah didelegasikan kepada mesin. AI kini mampu menulis kode pemrograman dengan lebih presisi, menganalisis data finansial secara kilat, mendiagnosis penyakit medis, hingga merancang struktur arsitektur yang kompleks.

“Jika institusi pendidikan kita hari ini masih bangga hanya karena berhasil mencetak manusia-manusia yang pintar otaknya secara teknis-sekuler demi memenuhi kebutuhan industri, maka lulusan kita sedang berjalan menuju ketidakpastian massal. Mereka akan sangat mudah digantikan oleh teknologi,” tegas Dr. Adian.

Kampus sekuler yang mendewakan keahlian praktis tanpa jangkar spiritualitas yang kuat hanya akan melahirkan generasi yang canggih secara digital namun rapuh di bawah tekanan moral dan eksistensial. Oleh karena itu, kebanggaan yang hanya bersandar pada nama besar universitas atau janji-janji prospek materi menjadi tidak relevan lagi di era yang menuntut kualitas kemanusiaan yang unik (human-centric values).

3. Otentisitas Pemikiran Mohammad Natsir: Model Pendidikan Tanpa Gelar

Untuk mendekonstruksi obsesi masyarakat modern terhadap gelar akademis dan nama besar kampus umum, Dr. Adian Husaini menyodorkan sebuah alibi sejarah yang sangat kuat melalui sosok Mohammad Natsir.

Tokoh intelektual terkemuka, Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus pendiri DDII ini adalah antitesis dari dogma keberhasilan modern. Natsir tidak pernah mengecap bangku kuliah formal di perguruan tinggi Barat maupun sekuler. Pendidikan formal tertingginya hanyalah lulusan Algemeene Middelbare School (AMS) di Bandung—sebuah sekolah setingkat SMA pada zaman kolonial Belanda.

Meski demikian, sejarah mencatat Mohammad Natsir sebagai raksasa pemikiran abad ke-20. Ia menguasai berbagai bahasa asing secara otodidak, menulis karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan internasional, disegani oleh para pemimpin dunia, bahkan dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari universitas-universitas terkemuka di luar negeri seperti Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

“Pak Natsir tidak pernah kuliah, tapi kualitas pemikirannya melampaui para doktor yang menempuh pendidikan bertahun-tahun di menara gading sekuler,” ujar Dr. Adian dengan nada reflektif.

Keteladanan Natsir membuktikan bahwa kehebatan seorang tokoh tidak ditentukan oleh lembaran ijazah atau prestise universitas tempatnya belajar. Kunci kehebatan sejati terletak pada kemandirian berpikir (independent thinking), kedalaman adab, integritas moral, serta kecintaan yang tulus untuk mengabdi pada ilmu dan kemaslahatan umat.

4. Dekonstruksi Pendidikan Islam: Memulihkan Adab dan Martabat

Mengapa kampus-kampus Islam hari ini seolah kehilangan tajinya dan gagal menjadi magnet kebanggaan bagi santrinya sendiri?

Dr. Adian melayangkan kritik otokritik yang tajam. Ia mengamati banyak institusi pendidikan tinggi Islam yang terjebak dalam arus “sekularisasi terselubung”. Demi mengejar akreditasi formal, pengakuan global, dan metrik-metrik keduniawian, mereka menduplikasi mentah-mentah model kurikulum kampus sekuler. Akibatnya, ilmu-ilmu agama sering kali diletakkan di pinggiran, hanya diposisikan sebagai formalitas atau pelengkap etis belaka.

Untuk memutus rantai disorientasi ini, Dr. Adian menawarkan draf dekonstruksi dan rekonstruksi pendidikan Islam yang bertumpu pada tiga pilar utama:

A. Mengutamakan Adab Sebelum Ilmu (The Restoration of Adab)

Pendidikan Islam harus memprioritaskan penataan jiwa, pemahaman tujuan hidup, dan pembentukan karakter mulia sebelum menjejalkan berbagai disiplin keilmuan. Ketika fenomena the loss of adab (hilangnya adab) berhasil diperbaiki, mahasiswa tidak akan lagi melihat ilmu hanya sebagai komoditas yang diperdagangkan di pasar tenaga kerja, melainkan sebagai sarana untuk mengenal penciptanya dan memimpin dirinya sendiri menuju kebaikan.

B. Integrasi Ilmu yang Hakiki (Anti-Dichotomy)

Menghilangkan sekat artifisial antara “ilmu umum” dan “ilmu agama”. Di era kecerdasan buatan, sains, teknologi, teknik, dan matematika harus diletakkan di bawah payung pandangan hidup Islam (Islamic worldview) dan dipandu oleh wahyu. Dengan demikian, perkembangan teknologi akan membawa maslahat bagi manusia, bukan kerusakan moral maupun ekologis.

C. Membangun Percaya Diri (Izzah) Islam

Kampus-kampus Islam harus berani keluar dari bayang-bayang standar metrik sekuler. Mereka harus fokus membuktikan secara empiris bahwa proses pendidikan mereka mampu melahirkan manusia-manusia yang tangguh (resilient), kreatif, adaptif, serta memiliki integritas moral tinggi—kualitas-kualitas manusiawi yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh kecerdasan buatan ataupun dicetak oleh sistem pendidikan sekuler yang dingin.

Kesimpulan: Alarm Keras bagi Pendidikan Islam

Kebanggaan pelajar Muslim yang bergeser ke arah kampus-kampus sekuler sejatinya adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan Islam. Ini adalah cerminan dari kegagalan kita dalam menanamkan nilai Izzah—rasa bangga dan mulia dengan identitas keislaman.

Di era Kecerdasan Buatan yang disruptif ini, universitas Islam tidak boleh lagi sekadar mengekor di belakang narasi besar yang didikte oleh dunia sekuler. Sudah saatnya institusi pendidikan Islam kembali pada khittah-nya yang asli: melahirkan generasi “Mohammad Natsir modern”. Generasi yang mandiri secara pemikiran, kokoh berakar pada adab, tidak silau oleh gemerlap semu nama besar menara gading sekuler, dan siap memimpin peradaban dunia dengan solusi-solusi nyata yang berlandaskan iman. [AF]

Disarikan dari https://www.youtube.com/live/D0j3e0jhXZE?si=WmlHryIz4nbqwJAF