Nutri-Grade: Strategi Baru Redam Krisis Gula dan Beban Diabetes di Indonesia

by

Oleh Melati Nurul Fadillah

Indonesia tengah menghadapi alarm keras krisis konsumsi gula. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes melonjak menjadi 10,9%, sebuah kenaikan signifikan dari angka 6,9% satu dekade silam. Salah satu tersangka utamanya adalah lonjakan konsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang meroket hingga 15 kali lipat sejak 1996.

Kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan individu, melainkan beban sistemik bagi negara. BPJS Kesehatan setiap tahunnya harus menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membiayai penyakit katastropik yang dipicu oleh komplikasi diabetes.

Lampu Lalu Lintas Gizi Menyikapi hal tersebut, wacana penerapan label Nutri-Grade muncul sebagai instrumen manajemen kesehatan preventif di hulu. Sistem ini mengadopsi model Singapura yang telah berlaku sejak Desember 2022, di mana produk minuman diklasifikasikan ke dalam tingkatan A, B, C, dan D berdasarkan kadar gula serta lemak jenuh per 100ml.

  • Grade A: Paling sehat (kandungan gula 0-1 gram).
  • Grade D: Paling tidak sehat (kandungan gula di atas 10 gram).

Strategi ini bertujuan memberikan edukasi instan kepada masyarakat. Konsumen tidak lagi perlu membaca tabel informasi nilai gizi yang rumit di belakang kemasan; cukup dengan melihat label di depan, mereka dapat langsung menilai dampak kesehatan produk tersebut. Bahkan, di Singapura, produk dengan Grade D dilarang melakukan promosi iklan secara bebas.

Mendorong Reformulasi Industri Selain mengedukasi konsumen, Nutri-Grade dirancang untuk memaksa industri bertransformasi. Agar produk mereka tidak mendapatkan sentimen negatif dari label Grade D, produsen terdorong melakukan reformulasi untuk menurunkan kadar gula demi meraih peringkat yang lebih baik.

Langkah promotif dan preventif ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Kesehatan di bawah Budi Gunadi Sadikin yang lebih menekankan pada pencegahan daripada pengobatan. Payung hukumnya pun telah tersedia melalui PP No. 28 Tahun 2024, yang nantinya akan diperkuat dengan rencana penerapan cukai MBDK pada 2025.

Tantangan Implementasi Meski menjanjikan, transisi menuju wajib Nutri-Grade menghadapi sejumlah tantangan nyata. Pelaku UMKM memerlukan dukungan lebih untuk menanggung biaya reformulasi produk dan penggantian desain kemasan. Selain itu, pemerintah perlu mengantisipasi mispersepsi publik yang mungkin menganggap Grade B sudah sepenuhnya sehat tanpa memperhatikan porsi konsumsi.

Oleh karena itu, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kampanye gizi seimbang yang masif dan berkelanjutan. Nutri-Grade bukanlah solusi tunggal, melainkan alat kendali yang memberikan kekuasaan bagi konsumen untuk memilih masa depan kesehatan yang lebih baik.

 

Tentang Penulis,

Melati Nurul Fadillah

Mahasiswa Jurusan Manajemen, Universitas Pamulang