Naik Gunung, Mengenal Diri

by

“Kemarin aku menjadi pintar, karenanya aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, aku ingin mengubah diriku sendiri.” –Jalaluddin Rumi.

Wartapilihan.com, Jakarta —Usia tua ataupun muda, naik gunung dapat dijadikan hobi yang layak untuk mengisi waktu liburan yang panjang. Untuk hindari penat di kota serta merasakan udara segar gunung, tak jarang orang-orang memutuskan naik gunung bersama teman, kolega, bahkan keluarga.

Salah satunya dilakoni oleh seorang mahasiswa, Azam Rofiullah. Ia naik gunung karena dapat merenung lebih banyak disebabkan suasana alam yang menenangkan, sehingga dapat lebih mengenal diri-sendiri. Naik gunung, menurutnya, bukan hanya untuk pamer agar bisa dipandang orang lain ketika sampai di puncak, tetapi lebih dari itu.

“Manfaat terbesarnya, ya, untuk mengenali diri kita sendiri. Dengan mendaki gunung, kita bisa tahu sifat asli kita. Bisa tahu batasan kita, bisa tahu seberapa baik kita mengatur sesuatu, atau seberapa jauh toleransi kita,” ujarnya kepada Warta Pilihan.

Hal senada dikemukakan oleh Syanmil, Bunga maupun Ikhsan. Syanmil mengatakan, naik gunung dapat membuat seorang merasakan menjadi manusia kembali, “Mengenali diri sendiri dan teman seperjalanan,” ungkapnya.

Suatu hadits dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam mengatakan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Hadits tersebut menunjukkan betapa pentingnya mengenali diri kita sendiri, termasuk keburukan maupun kebaikan diri. Pasalnya, hanya dengan mengetahui keburukan diri, kita bisa memperbaikinya.

Seseorang dapat mengetahui keburukan diri manakala diuji oleh sebuah ujian. Seperti para pendaki yang telah berpengalaman di atas yang menyebutkan, ada keburukan seperti keegoisan yang terlihat ketika naik gunung bersama, atau justru sebaliknya, seperti keinginan berbagi maupun toleransi dengan kadar yang berbeda.

Edmund Hillary, orang pertama yang berhasil sampai di puncak gunung Everest tahun 1953 mengatakan, “Bukanlah gunung yang kutaklukkan, tetapi diriku-sendiri.” Ketika naik gunung mesti melatih fokus yang ekstra, yakni satu tujuan yang dituju sejak awal. Maka, tidak hanya kondisi fisik yang prima, tetapi juga kondisi psikis dan mental sangat dibutuhkan ketika naik gunung.

Alam ini hanya merupakan manifestasi dari diri manusia. Gunung merupakan simbol ujian yang mesti ditaklukkan oleh diri, yang Ustadz Zamzam A Jamaludin, pimpinan Majelis Thariqah Kadisiyah, Depok, pernah mengatakannya sebagai “Gunung ego”. Setiap manusia secara niscaya memiliki egonya sendiri, dan manusia bertugas untuk menaklukkan gunung egonya masing-masing. Maka, tak heran Thomas Bien mengungkapkan, “Mereka yang mengusahakan untuk menyembuhkan diri sendiri dapat menyembuhkan dunia!”

Eveline Ramadhini