Di mana dokumen surat dari A Hassan dalam buku yang ditulis Soekarno?
Wartapilihan.com, Jakarta – Memperingati haul Bung Karno, Megawati Institute menggelar diskusi mengenai peran Ahmad Hassan (Persis) dalam dasar-dasar keislaman Bung Karno di Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/6).
Ahmad Hassan biasa dipanggil A Hassan atau Hassan Bangil dikenal sebagai pemikir Islam radikal. Tidak heran, Prof. Syafiq Mughni membuat autobigrafi A. Hassan. Bayangkan bila buku itu ditulis sekarang, Prof. Syafiq pasti langsung di stempel radikal dan buku tersebut dilarang. “Bayangkan bila buku itu ditulis sekarang. Prof. Syafiq pasti langsung distempel radikal dan buku tersebut dilarang,” ujar Artawijaya.
Anggota Dewan Tafkir PP Persis itu menjelaskan, radikal maknanya mengakar. Jadi kalau ada istilah Islam radikal, maka maknanya Islam yang menjalankan keyakinannya dengan berpegang teguh pada akar keyakinannya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.
Menurutnya, istilah radikal tidak bermasalah, biasa saja. Jika ada umat Islam yang ngaco, tidak bisa disebut radikal melainkan ekstrem (ghuluw), seperti mudah mengkafirkan sesama muslim atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat Islam.
“Persatuan Islam (Persis) punya tradisi dialog, dalil dengan dalil, hujjah dengan hujjah. Perbedaan diselesaikan dengan dialog, bukan kekerasan. Ini harus digalakkan kembali,” sambung Penulis Sejarah Nasional di Ghazwul Fikry Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Lebih lanjut, terang Artawijaya, surat-surat Soekarno kepada A. Hassan yang terdapat di buku “Di Bawah Bendera Revolusi” yang mengumpulkan adalah A. Hassan, Soekarno kemudian meminta izin untuk menerbitkannya dan memasukkannya dalam bukunya itu.
“Anehnya, surat-surat A. Hassan kepada Soekarno, sampai hari ini tidak ditemukan. Kenapa? Apakah hilang tercecer, karena Soekarno sering berpindah-pindah tempat dalam pembuangan atau sengaja dihilangkan? Kemungkinan isi surat A. Hassan itu ajakan agar Soekarno berislam secara benar,” ungkap Artawijaya.
Artawijaya mengenang, betapapun perdebatan antara Soekarno dan A. Hassan begitu tajam dan sengit, namun persahabatan keduanya tidak pernah putus. Ketika Soekarno ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung, A. Hassan dan aktivis Persis lah yang lebih dulu membesuknya dengan membawa kacang mete kesukaan Soekarno dan buku-buku keislaman.
“Sebaliknya, ketika A. Hassan terbaring sakit di RS di Malang, tanpa sepengetahuan keluarga A. Hassan, Soekarno lah yang membayar biaya rumah sakit. Hutang budi dibayar budi, begitu cerita Soekarno,” tukas dia.
Kala itu, Soekarno pernah begitu kagum kepada Wahabi, bahkan menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud setebal 400 halaman. Lalu, Soekarno yang ketika itu sedang kesulitan ekonomi, meminta A. Hassan untuk membeli hasil terjemahannya itu. Alhasil, hubungan emosional yang baik dapat menginternalisasi nilai-nilai Islam tanpa harus tegang urat dan arogan. Menjadikan Islam rahmatan lil alamin salah satunya dengan Akhlaqul Karimah seperti dicontohkan Rasulullah SAW.
Selain Artawijaya, dalam pengajian itu hadir Wakil Ketua Umum PP Persis Dr. Jeje Zainuddin, Anggota Dewan Hisbah PP Persis & Mudir Madrasah Ghazwul Fikry Dewan Dakwah KH. Teten Romly Qomaruddien, MA dan Direktur Tamaddun Hadi Nur Ramadhan.
[Ahmad Zuhdi]