Pagi itu, sehari setelah Kemerdekaan RI yang ke-80, saya bertemu dengan ketua himpunan alumni IPB kota Depok, Kang Akso Diana, di kediamannya di Gang Haji Ibeng, Pitara Depok. Silaturahmi ini memiliki banyak tujuan.
Wartapilihan.com, Depok— Pertama, menjenguk Sang Ketua yang baru saja keluar dari rumah sakit. Kedua, sekaligus mengantar teman dari KTNA Depok, Kang Feri, yang sedang mencari pemasok madu murni. Untuk urusan madu, Kang Akso memang orang yang tepat untuk dihubungi.
Ia menemui kami masih menggunakan tongkat, dengan lutut kanannya yang masih dibalut. Meski terlihat lelah dan terkadang meringis, senyum khasnya langsung mengembang saat melihat kami. Kami saling bertanya kabar dan ia menceritakan lika-liku pengobatan pada kaki kanannya.
Diagnosis penyakitnya cukup berliku. Awalnya, dikira hanya keseleo biasa. Setelah diurut, sakitnya sempat mereda, tetapi kemudian semakin mengganggu. Setelah diperiksa oleh dokter ortopedi, ia didiagnosis pengapuran. Namun, hasil rontgen menunjukkan tidak ada gejala pengapuran. Mencari pendapat kedua, ia menemui dokter ortopedi lain. Hasil MRI scan akhirnya menemukan gangguan yang sebenarnya, yaitu robeknya ligamen pada lutut kanan. Tindakan operasi pun dilakukan dan semoga ia segera pulih.
Obrolan kami berlanjut ke isu-isu pemberdayaan dengan berbagai dinamikanya. Kami bertiga memiliki satu visi yang sama, yaitu ingin berkontribusi memberdayakan petani.
Saya sendiri, bersama beberapa teman alumni IPB, sedang membangun kemitraan budidaya Kacang Koro Pedang. Kami menyiapkan benih, petani yang menanam, dan hasilnya akan kami beli. Semua sudah tertulis dalam perjanjian kemitraan. Kacang koro ini berpotensi menjadi alternatif bahan baku tempe, kecap, susu nabati, hingga tepung untuk bahan kue.
Sementara itu, teman kami dari KTNA, Kang Feri, sudah beternak kelinci sejak kecil. Hobi ini terus ia tekuni hingga sekarang. Ia menjelaskan dengan detail potensi kelinci sebagai sumber makanan hewani dan kotorannya yang sangat bagus untuk pupuk organik. Memang sudah ahlinya ahli perkelincian.
Tentu saja, Kang Akso juga menceritakan seluk-beluk bisnis perlebahan dan permaduan. Berbagai inovasi terus dilakukan dan berbagai penelitian terus dikembangkan. Tak heran, sederet penghargaan bergengsi sudah menjadi langganan bagi Kang Akso.
Akhirnya, kolaborasi menjadi topik utama pembicaraan kami. Insya Allah, ini akan menjadi kolaborasi yang menjanjikan, dan semangat untuk memberdayakan lebih banyak orang dapat terwujud. Aamiin YRA.
Kusnadi (Praktisi Urban Farming, Alumni IPB, F-25)

