Granada bukan sekadar kota di kawasan Andalusia ; kota ini adalah saksi bisu dari sejarah panjang peradaban Islam yang pernah bertakhta selama hampir 800 tahun di Semenanjung Iberia.
Wartapilihan.com, Granada, Spanyol— Sebagai benteng pertahanan terakhir umat Muslim sebelum jatuhnya kekuasaan Islam di Spanyol pada akhir abad ke-15 , Granada menyimpan kekayaan arsitektur, sejarah, dan dinamika sosial-budaya yang unik.
Kreator konten Aziza Francienne membagikan perjalanannya menyusuri sudut-sudut paling bernilai sejarah di Granada. Perjalanan diawali dengan menumpangi kereta selama kurang lebih tiga jam dari Stasiun Sevilla menuju Stasiun Granada. Tiket kereta ini disarankan untuk dipesan secara online terlebih dahulu sebelum keberangkatan.
Alcaicería dan Calderería Nueva: Lorong Pasar Kuno dan Pertemuan Lintas Budaya
Setibanya di Granada, destinasi pertama yang dikunjungi adalah Alcaicería. Pada masa kejayaannya, Alcaicería merupakan salah satu pasar terbesar di Granada dan Eropa yang menjadi bagian penting dari Jalur Sutra (Silk Road). Pasar ini menjadi titik temu komoditas berharga dari Tiongkok, Asia Tengah, hingga benua Arab. Hingga kini, arsitektur pasar ini tetap dipertahankan dengan gaya khas Timur Tengah yang menyerupai grand bazaar di Turki maupun Maroko.
Di lorong-lorong Alcaicería, pengalaman sensorik berpadu dengan kehangatan warganya. Mulai dari keharuman olahan kacang almond dan biji bunga matahari segar beraroma vanila khas Andalusia , hingga toko-toko peninggalan komunitas Muslim yang menjual pernak-pernik dan suvenir.
Tidak jauh dari sana, kawasan Calderería Nueva menjadi pusat ekonomi tempat bertemunya pedagang dari berbagai belahan dunia seperti Maroko, Suriah, Palestina, hingga mualaf asli Spanyol. Di sini, wisatawan dapat menemukan beragam suvenir dan aksesoris khas—seperti kuciran atau aksesori buatan tangan—dengan kisaran harga sekitar 7 Euro sebagai bentuk dukungan terhadap usaha komunitas lokal. Kawasan ini juga menjadi surga wisata kuliner halal, salah satunya adalah restoran Suriah Castillo de Alepo yang menyajikan hidangan nasi pulao dan daging khas Timur Tengah kaya rempah.
Mosaik Spiritual di Mezquita Mayor de Granada dan Kawasan Albayzín
Perjalanan berlanjut menuju kawasan Albayzín (Albaicín), tempat berdirinya Mirador de San Nicolás. Kawasan perbukitan ini dahulunya merupakan permukiman padat komunitas Muslim yang menampung sekitar 40.000 jiwa serta memiliki lebih dari 30 bangunan masjid.
Di kawasan bersejarah ini pula berdiri Mezquita Mayor de Granada (Masjid Agung Granada). Berbeda dengan situs peninggalan era pertengahan, masjid ini baru diresmikan pada awal tahun 2000-an. Keberadaannya digagas oleh para mualaf Spanyol sejak dekade 1970-an yang tergerak menghidupkan kembali tempat ibadah umat Islam di Granada setelah berabad-abad. Penggalangan dana pun dilakukan secara global hingga mendapat dukungan dari berbagai tokoh dunia.
Kini, Masjid Agung Granada tidak hanya berdiri sebagai pusat peribadatan dan tempat berkumpulnya wisatawan Muslim mancanegara , tetapi juga menawarkan pemandangan langsung (viewpoint) yang memesona ke arah kompleks Istana Alhambra secara cuma-cuma.
Kemegahan Istana Alhambra: Puncak Kejayaan Dinasti Nasrid
Puncak dari penjelajahan di Granada adalah mengunjungi Kompleks Istana Alhambra. Nama Alhambra berasal dari bahasa Arab Al-Hamra yang berarti “Sang Merah”, merujuk pada warna bata dinding bangunannya. Kompleks seluas 10 hektar ini mencakup kawasan benteng pertahanan, pemukiman, benteng, hingga istana pemerintahan Dinasti Nasrid. Karena kuota pengunjung Istana Nasrid sangat dibatasi, wisatawan wajib memesan tiket masuk secara online jauh-jauh hari.
Didampingi Michael T. Manwel—seorang pemandu wisata dan mahasiswa asal Indonesia yang mendalami bidang restorasi seni di Spanyol —eksplorasi berfokus pada Istana Nasrid (Palacios Nazaríes):
- Meshwar (Mexuar): Ruangan tempat Sultan duduk dan menerima para duta besar atau tamu negara.
- El Cuarto Dorado: Area halaman berarsitektur menawan yang digunakan untuk bersantai.
- Salón de los Embajadores: Ruang aula utama tempat pengambilan keputusan politik penting pada era kesultanan.
Sesuai dengan syariat seni rupa Islam, interior Alhambra sama sekali tidak menampilkan figur manusia atau hewan. Seluruh dinding dan langit-langit dihiasi oleh seni ukir geometri yang rumit, motif flora, serta kaligrafi Arab berupa potongan ayat Al-Qur’an dan ukiran kalimat syahadat.
Di luar area istana, pengunjung dapat menikmati keindahan Generalife dan taman-taman (The Gardens of the Seven Heavens) , yang dirancang oleh arsitek Muslim masa lalu dengan mengadopsi teknik tata air Romawi untuk menggambarkan keasrian taman surga.
Pengaruh Bahasa, Informasi Pendidikan, dan Kuliner Khas
Dampak dari 800 tahun peradaban Islam di Spanyol juga meninggalkan jejak mendalam pada bahasa dan kuliner lokal. Beberapa kosakata bahasa Spanyol diserap langsung dari bahasa Arab:
- Ojalá (semoga) berasal dari kata Insya Allah.
- Almohada (bantal/selimut) berasal dari kata Al-Mukhada.
Selain narasi sejarah, terdapat fakta menarik mengenai biaya pendidikan perguruan tinggi di Spanyol bagi mahasiswa internasional yang menguasai bahasa Spanyol. Melalui skema beasiswa (Beca), biaya kuliah untuk program studi tertentu dapat sangat terjangkau, yaitu hanya berkisar 17 Euro.
Sebelum mengakhiri perjalanan di Granada, mencicipi kudapan manis tradisional bernama Pionono adalah sebuah keharusan. Dessert khas Granada ini memiliki tekstur lembut berbahan dasar kue bolu yang disiram sirup dan diberi lapisan krim karamel (custard) bakar di atasnya.
Tips Praktis dan Referensi Perjalanan ke Granada
Bagi wisatawan Indonesia yang berencana mengunjungi Granada, berikut beberapa tips praktis dan panduan anggaran:
- Pemesanan Tiket Komuter & Destinasi: Selalu pesan tiket kereta dan tiket masuk Alhambra secara online terlebih dahulu untuk mengamankan slot kunjungan.
- Komunikasi: Berbicaralah bahasa Inggris secara perlahan agar lebih mudah dipahami warga lokal yang mayoritas berbahasa Spanyol.
- Alas Kaki: Gunakan sepatu berjalan yang nyaman karena medan kota Granada didominasi jalanan menanjak dan berkerikil.
- Kewaspadaan: Tetap waspada terhadap barang bawaan di tempat umum untuk menghindari risiko pencopetan.
- Pemandu Lokal: Memanfaatkan jasa pemandu wisata lokal atau aplikasi jasa pemandu berbahasa Indonesia dapat sangat membantu navigasi dan pemahaman sejarah secara mendalam tanpa terkendala bahasa.
Perjalanan ke Granada dapat disaksikan secara lengkap melalui video “Keliling kota PALING ISLAM di Spanyol – Granada, Andalusia”.
Link: https://youtu.be/_QOExkQZSgY?si=whMf0oZBnN-gN0QA

