Menggapai Derajat Tinggi: 10 Amal Ringan Berpahala Besar dalam Islam

by

Penyesalan yang paling terlambat adalah penyesalan manusia saat maut telah menjemput. Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 44, Allah SWT mengabarkan jeritan orang-orang zalim yang memohon agar diberikan sedikit saja kelonggaran waktu untuk kembali ke dunia.

Wartapilihan.com, Bogor– Mereka berjanji akan mematuhi seruan Allah dan mengikuti para rasul. Namun, Allah menegaskan bahwa itu hanyalah ungkapan penyesalan yang tidak akan direalisasikan.

Kehidupan di dunia adalah satu-satunya kesempatan untuk mengumpulkan bekal. Kelak di akhirat, tingkat kesuksesan dan tinggi-rendahnya derajat seorang hamba sangat ditentukan oleh iman dan kualitas amal salehnya.

Allah SWT berfirman:

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Menariknya, Allah SWT Maha Pengasih. Di antara sekian banyak ibadah, terdapat amalan-amalan yang jika dilihat dari bobot aktivitasnya relatif ringan, namun Allah memberikan ganjaran yang sangat besar dan berlipat ganda. Ganjaran besar ini bisa dipengaruhi oleh faktor waktu (seperti malam Lailatul Qadar) maupun faktor tempat (seperti salat di Masjidil Haram yang dilipatgandakan 100.000 kali lipat).

Selain faktor waktu dan tempat, terdapat sedikitnya 10 amalan khusus yang ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis memiliki pahala yang sangat besar:

  1. Menjaga Istiqomah Amal Rukun Islam

Amal rukun Islam—mulai dari salat lima waktu, saum Ramadhan, zakat, hingga ibadah haji—merupakan fondasi utama. Jika seorang hamba mampu menjaganya secara konsisten (istiqomah), Allah memberikan jaminan ganjaran yang sangat besar.

  1. Memberi Kemanfaatan dan Membahagiakan Sesama

Islam adalah agama sosial yang sangat menekankan interaksi antarmusia. Rasulullah SAW menegaskan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sementara itu, amalan yang paling dicintai Allah adalah membuat Muslim lain bahagia, mengangkat kesusahannya, membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.

Bahkan, dalam sebuah hadis dinyatakan:

“Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk memenuhi sebuah keperluannya, lebih aku cintai daripada beriktikaf di Masjid Nabawi selama sebulan penuh.”

  1. Istiqomah Berzikir di Segala Keadaan

Dalam Surat An-Nur ayat 37-38, Allah memuji orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli untuk tetap mengingat Allah (dzikrullah), mendirikan salat, dan membayar zakat.

Sebagai imbalannya, Allah akan membesarkan pahala mereka dan membuka pintu karunia rezeki tanpa batas (bighairi hisab). Rasulullah SAW juga mengajarkan lafaz zikir yang ringan di lisan namun berat di timbangan mizan, seperti:

  • Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil adzim.
  • Zikir keluar rumah (Bismillah, tawakkaltu ‘alallah…) yang membuat malaikat menjamin petunjuk, kecukupan, dan perlindungan dari setan.
  • Zikir empat kalimat yang dibaca tiga kali (seperti yang diajarkan kepada Juwairiyah binti Al-Haris), yang bobot pahalanya mengalahkan zikir sepanjang pagi.
  1. Konsisten Membaca Al-Qur’an

Merujuk pada Surat Fathir ayat 29-30, orang yang istiqomah membaca Kitabullah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezekinya adalah orang yang sedang mengharapkan “perniagaan yang tidak akan merugi”. Allah menjamin akan menyempurnakan pahala dan menambah karunia-Nya.

Keutamaan membaca Al-Qur’an di antaranya:

  • Tiap hurufnya diganjar 10 kebaikan.
  • Membaca 100 ayat pada suatu malam dicatat pahalanya seperti salat qiyamul lail semalam suntuk.
  • Membaca Surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an.
  • Membaca Surat Al-Mulk (30 ayat) dapat memberikan syafaat hingga pembacanya diampuni.
  1. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat At-Tawbah

Membaca dua ayat terakhir Surat At-Tawbah (“Laqad ja’akum rasulum min anfusikum…”) sebanyak 7 kali pada waktu pagi dan sore hari menjadi wasilah yang luar biasa. Allah SWT berjanji akan memberikan kecukupan bagi hamba tersebut dalam urusan kepentingan dunia maupun akhiratnya.

  1. Aktif dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Tidak “Soleh Sendiri”)

Berdasarkan Surat Al-Hajj ayat 41, hamba yang ideal adalah mereka yang ketika diberikan kedudukan di muka bumi, tidak hanya mendirikan salat dan menunaikan zakat, tetapi juga menyuruh berbuat makruf dan mencegah kemungkaran. Istilah ini digambarkan oleh Imam Ibnu Qayyim sebagai orang yang tidak “soleh sendiri”, melainkan selalu mengajak keluarga dan kerabatnya untuk berjalan menuju kesalehan bersama.

  1. Menuntut Ilmu Agama dan Mendalaminya

Mencari ilmu memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar RA bahwa berangkat di pagi hari untuk mempelajari satu ayat dari Kitabullah itu lebih baik daripada salat sunah 100 rakaat. Sementara mempelajari satu bab ilmu (baik diamalkan atau tidak) lebih baik daripada salat sunah 1.000 rakaat. Istiqomah mendatangi majelis ilmu juga dijanjikan pahala seperti ibadah haji yang sempurna.

  1. Memberikan Pinjaman dan Kelonggaran Utang

Membantu sesama yang kesulitan ekonomi melalui pinjaman memiliki dimensi pahala matematika langit yang menakjubkan. Siapa pun yang memberikan tenggat waktu kepada orang yang kesulitan membayar utang, maka setiap hari ia dihitung bersedekah senilai harta yang dipinjamkan tersebut hingga jatuh tempo. Jika setelah jatuh tempo ia memberikan kelonggaran lagi, maka setiap harinya dihitung bersedekah dua kali lipat dari nilai harta tersebut.

  1. Salat Beramaah Isya dan Subuh

Salat berjamaah secara umum bernilai 27 derajat dibanding salat sendiri. Namun, ada kekhususan luar biasa untuk salat Isya dan Subuh. Barangsiapa yang salat Isya berjamaah, maka seolah-olah ia salat setengah malam. Dan barangsiapa yang menyempurnakannya dengan salat Subuh berjamaah, maka ia seolah-olah mengerjakan salat semalam suntuk.

  1. Bekerja Keras Mencari Rezeki Halal

Bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari nafkah tanpa meninggalkan kewajiban pokok (salat dan zakat) dikategorikan sebagai jihad fisabilillah. Rasulullah SAW menegaskan bahwa jika seseorang keluar rumah untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, menghidupi kedua orang tuanya yang sudah tua, atau untuk menjaga harga diri agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah.

Catatan Kritis: Kehadiran Hati vs. Talbis Iblis

Dalam sesi diskusi, muncul sebuah poin penting mengenai esensi zikir dan zikir pagi-sore. Merujuk pada pandangan Imam Ibnu Taimiyah, ditegaskan bahwa dua lafaz zikir yang sama persis bisa memiliki nilai pahala yang jauh berbeda.

Satu ucapan Subhanallah yang diucapkan dengan kehadiran pikiran dan hati saat takjub melihat kuasa Allah, bisa menenggelamkan pahala ribuan lafaz zikir yang diucapkan secara lisan saja tanpa kehadiran akal. Zikir yang sesungguhnya adalah zikir yang menyentuh perasaan dan menggetarkan hati.

Di sisi lain, umat Islam diingatkan untuk berhati-hati terhadap fenomena Talbis Iblis (tipu daya iblis yang mencampuradukkan kebaikan dan kebatilan). Menonton tontonan yang mengandung maksiat atau melakukan kemungkaran dengan dalih “untuk mengambil hikmah atau zikir” adalah bentuk kekeliruan. Menjaga kesucian niat dan cara beribadah sesuai tuntunan adalah kunci utama agar amal saleh kita diterima dan membuahkan ganjaran raksasa di sisi-Nya.

Disarikan dari Tausyiah Malam Minggu Ust. Farhat Umar, 14 Juni 2026