Menemukan Kembali Hak Hidup Sehat: Integrasi Etika Permakultur dan Spiritualitas dalam Kehidupan Modern

by

Di tengah kepungan krisis iklim global, polusi, dan laju urbanisasi yang kian menjauhkan manusia modern dari akar alamiahnya, sebuah gerakan penyadaran sunyi sedang tumbuh dari tanah-tanah subur nusantara.

Wartapilihan.com, Jakarta — Gerakan ini bukan sekadar tentang bercocok tanam organik, melainkan sebuah manifesto kebudayaan untuk merebut kembali hak hidup sehat, menegakkan kebaikan (thayyib), dan merestorasi adab manusia terhadap bumi.

Dua inisiatif, Bumi Langit di Yogyakarta yang dipelopori oleh Iskandar Waworuntu dan Kebun Kumara di Situ Gintung oleh generasi muda kota, menjadi potret nyata bagaimana prinsip permakultur berpadu harmonis dengan nilai-nilai spiritualitas serta kebutuhan riil masyarakat urban.

Memaknai Kembali Konsep Islam, Khalifah, dan Ketentuan Thayyib

Bagi Iskandar Waworuntu, pendiri Bumi Langit Institute, perjalanan hidupnya mencari makna terdalam mengantarkannya pada sebuah kesadaran esensial dalam tradisi Islam: pentingnya menekankan aspek thayyib (kebaikan/kemurnian) sebagai acuan hidup modern.

“Makanan itu masalah yang paling esensial untuk dikawal lagi. Bagaimana caranya kita bisa merebut kembali hak kita untuk bisa sehat? Bagaimana thayyib itu bisa ditegakkan kembali pada zaman ini—zaman di mana kita sedang mengalami krisis kemuliaan, krisis kebaikan, krisis barang yang thayyib,” ujar Iskandar penuh keprihatinan.

Menurutnya, konsep pangan tidak bisa dilepaskan dari kesatuan antara aspek halal dan thayyib. Manusia modern dituntut untuk sangat berhati-hati menyikapi asal-usul dari apa pun yang bersentuhan dengan tubuh, terutama apa yang dikonsumsi. Ia mempertanyakan klaim Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam) jika pemeluknya sendiri telah berhenti menjadi rahmat bagi tubuh mereka sendiri dengan memasukkan makanan yang merusak kesehatan.

Dalam perspektif spiritual ini, manusia ditempatkan sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) di muka bumi. Peran kehalifahan ini diukur dari bagaimana manusia membangun hubungan yang adil dan penuh adab dengan elemen-elemen alam: tanah, air, matahari, angin, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.

Hukum Alam: Kemanfaatan, Eksploitasi, dan Ilusi Keuntungan Finansial

Iskandar menegaskan bahwa Allah SWT tidak menciptakan satu pun makhluk di bumi ini secara sia-sia; semua memiliki fungsi dan manfaat. Tanda dari sebuah kebaikan atau ketatanan alamiah adalah kemampuannya untuk terurai dalam kemanfaatan. Sebaliknya, masalah lingkungan muncul ketika sesuatu tidak lagi dapat terurai, yang berakar dari perilaku manusia yang berlebih-lebihan (israf).

Krisis modernitas terjadi ketika penemuan dan eksplorasi ilmiah dikomandani oleh semangat industri demi kepentingan dagang dan akumulasi uang semata. Di sinilah terjadi eksploitasi, yang pada prinsipnya sama dengan kezaliman dan kerusakan (fasad). Eksploitasi ditandai dengan mengambil sesuatu melebihi batas atau mengambil yang bukan menjadi hak manusia dari alam maupun manusia lainnya.

Ketika ditanya mengenai keberlanjutan ekonomi dari model kehidupan ini, Iskandar memberikan jawaban reflektif:

“Kalau kita mau membangun sebuah kebaikan, tidak boleh niatnya cari untung duit. Karena kita sudah menjadi perangkap dari sebuah sistem di mana keuntungan finansial menjadi sebuah keharusan. Dan itu awal dari sebuah bencana karena kita akan selalu berkompromi.”

Ia percaya bahwa jika Indonesia mampu menjadi produsen dari kemuliaan yang thayyib—yang secara sosial berkeadilan (socially just) dan ramah lingkungan (environmentally sound)—maka kebaikan tersebut akan dicari dengan sendirinya oleh orang banyak, sebagaimana tradisi luhur masyarakat Nusantara terdahulu.

Permakultur: Jembatan Etika dan Desain Kehidupan Berkelanjutan

Secara konseptual, Iskandar melihat permakultur memiliki keselarasan total dengan nilai-nilai Islami. Dari segi etimologi, perma berarti permanen (berketetapan) dan kultur berarti kehidupan. Permakultur mengajarkan manusia untuk membaca pola kondisi alamiah bagaimana sebuah makhluk hidup di alam bebas.

Etika dasar permakultur sangat sederhana namun mendalam:

  • Peduli Bumi (Earth Care)
  • Peduli Manusia (People Care)
  • Berbagi Adil (Fair Share)

Salah satu prinsip penting permakultur adalah menanggapi perubahan secara kreatif. Bumi dan alam akan terus berevolusi menghadapi fenomena seperti perubahan iklim (climate change) atau pemanasan global (global warming). Namun, agar manusia dapat bertahan hidup di dalamnya, manusialah yang harus mengubah perilakunya. Menurut Iskandar, menghadapi pemanasan global sebagai masalah eksternal harus dimulai dengan menyelesaikan masalah internal terlebih dahulu, yaitu memperbaiki perilaku kita terhadap tubuh sendiri.

Langkah konkret ini diwujudkan Iskandar dengan memilih tinggal di Bumi Langit, sebuah kawasan perbukitan yang awalnya dianggap tidak subur dan gersang. Alih-alih membeli tanah yang sudah bagus lalu berisiko merusaknya, ia memilih memulihkan tanah yang rusak melalui pengelolaan air, integrasi ternak, serta pembuatan kompos yang dicacah sempurna untuk merestorasi kesuburan tanah.

Kebun Kumara: Menjawab Dahaga Masyarakat Urban akan Alam

Jika Bumi Langit bergerak pada tatanan filosofis-rural, Kebun Kumara yang berlokasi di Pulau Situ Gintung 3, Tangerang Selatan, hadir sebagai jawaban konkret atas terputusnya hubungan masyarakat kota dengan alam.

Dipelopori oleh pasangan suami istri yang menggabungkan kecintaan pada alam dan dunia pendidikan, Kebun Kumara mengubah lahan yang tadinya merupakan tempat pembuangan sampah liar menjadi kebun sayur organik yang produktif dan lestari. Di lahan kota, setiap jengkel tanah bernilai sangat berharga; satu bedeng kecil bahkan mampu menghasilkan 1,5 kilogram selada segar dalam siklus panen 30 hari.

Kehadiran kebun belajar ini dilatarbelakangi oleh kejenuhan masyarakat urban terhadap rutinitas perkantoran, kemacetan Jakarta, dan tingginya ketergantungan anak-anak pada gawai (gadget). Melalui berbagai pelatihan bercocok tanam, Kebun Kumara mengedukasi generasi muda dan orang tua bahwa tanah bukanlah kotoran yang menjijikkan, melainkan sumber kehidupan.

Penyertaan sistem edukasi dalam penghijauan tengah kota ini dinilai krusial agar masyarakat dapat terlibat langsung dan memahami peran mereka dalam memitigasi perubahan iklim melalui perubahan gaya hidup sehari-hari.

Keagungan Ilahi dalam Sehelai Daun

Pada akhirnya, baik permakultur di pedesaan maupun urban farming di perkotaan bermuara pada satu kesadaran spiritual yang sama: alam adalah media paling nyata untuk menyaksikan keagungan dan cinta kasih Ilahi. Surga di dalam berbagai literatur agama selalu diibaratkan sebagai keindahan alam.

Berada di tengah alam, melihat bunga mekar, dan menyaksikan benih yang disemai tumbuh menjadi tanaman produktif adalah sebuah proses pembelajaran batin yang mendalam. Proses ini secara radikal mengajarkan manusia modern tentang nilai-nilai yang mulai langka: kesabaran, kepasrahan, keikhlasan, dan kepekaan. Dan hidup di lingkungan urban, bukanlah sebuah alasan untuk memutus hubungan suci tersebut.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)