Lombok, Pulau Seribu Masjid

by
Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram, NTB. Foto: Ulfa Forjim.

Masjid merupakan artefak penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kolektif masyarakat di Lombok, dalam semua aspek. Masjid menjadi tanda bagi keberadaan kolektif masyarakat Sasak, dari tingkatan dusun, desa dan kota sebagai ummat muslim.

Wartapilihan.com, Mataram –Lombok dijuluki “Pulau Seribu Masjid”. Julukan ini bermakna bahwa di Lombok sangat banyak masjid sehingga menjadi karakter khas yang membedakan dengan derah lain. Hal itu diperkuat dengan 518 desa-desa Lombok yang memiliki 3.767 masjid besar dan 5.184 masjid kecil.

Masjid merupakan artefak penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kolektif masyarakat di Lombok, dalam semua aspek. Masjid menjadi tanda bagi keberadaan kolektif masyarakat Sasak, dari tingkatan dusun, desa dan kota sebagai ummat muslim. Tanpa masjid, maka kehidupan kolektif seperti kehilangan pusat orientasi ruang dan tidak semua kegiatan seolah tidak punya rujukan dan makna apapun.

Islam datang di pulau Lombok dan diterima oleh masyarakat Sasak Lebung, karena dianggap kompatible dengan ideologi Lomboq (lurus) dan pencarian kebenaran Sak Sha (yang satu) yang selama ini mereka cari. Tentunya tidak serta merta tetapi melalui proses transformasi bertahap yang sangat damai.

Mengapa etnis Sasak Lombok seluruhnya identik dengan Islam? Padahal di daerah lain yang jauh lebih dahulu Islam tidak demikian. Penelusurannya bisa dari aspek budaya, juga dari nama Lomboq (lurus) dan Sasak (sak sha = yang satu). Konon cikal bakal orang Lombok dulu adalah para pendatang dari luar berideologi Lomboq (lurus) yang senantiasa berupaya untuk menemukan kondisi ideal dimana satu kebenaran yang paling benar untuk pedoman kehidupan mereka.

Melihat pada adat istiadat yang masih ada, artefak budaya, cerita-cerita dan peninggalan yang masih ada, kendati sekarang orang Sasak seluruhnya beragama Islam, namun bisa dipastikan sebelumnya mereka berasal dari masyarakat mitis-animisme. Orang Sasak lama (= Sasak lebung) membangun mitos Dewi Anjani karena ketergantungan pada gunung Rinjani sebagai pusat orientasi.

Emile Durkheim dalam ‘The Elelmentary Forms of the Religious Life’, bahwa system representasi pertama yang diciptakan manusia untuk menggambarkan dunia dan dirinya berasal dari yang religious. Yakni dengan mentransendenkan wilayah ide-ide secara spesifik bersifat religious. Representasi religious adalah representasi kolektif yang mengungkapkan realitas-realitas kolektif. Ritus-ritus yang lahir di tengah kelompok manusia seperti Sasak Lebung ini bertujuan melahirkan, mempertahankan atau menciptakan bentuk mental tertentu. Karenanya agama-agama primitiv sangat kaya dengan elemen-elemen sosial.

Sebelum maenjadi Islam, orang-rang Sasak Lebung percaya’ bahwa ruang kehidupan dipengaruhi oleh kekuatan alam, yang dipersonifikasikan kepada Dewi Anjani di Gunung Rinjani yang menjadi pusat rujukan. Ia dianggap melindungi kehidupan di Pulau Lombok.

Gunung Rinjani dilihat sebagai ‘rumah’ kehidupan yang harus diteladani dan diikuti dalam keseharian. Nilai ini melekat kuat, sehingga aturan-aturan tata letak/ ruang dan lainnya – semua mengacu pada Dewi Anjani dan Gunung Rinjani. Orientasi wilayah untuk penataan ruang dan juga nilai-nilai dalam menentukan hierarki ruang di pulau Lombok saat itu dikenal dengan nama “ Ineun Tetaok” (induk ruang/tempat).

Raja Karang Asem yang Hindu memang hanya ingin menguasai tanah-tanah bermata air untuk dapat pamor Rinjani dan Segara Anak sebagai “Ineun Tetaok Beleq” ,kemudian menguasai banyak sumber-sumber mata air besar sebagai “Kemali”, tidak berupaya meng-hindu-kan orang Sasak sehingga tidak ada yang tertarik untuk menganut Hindu.
Kosmologi Sasak Lebung diturunkan dalam objek gunung Rinjani dan danau Segara Anak sebagai orientasi ruang. Kemudian diturunkan menjadi tatanan nilai berkaitan tempat pemukiman, sampai kemudian dijadikan norma dan nilai.

Kosmologi Sasak Lebung dengan lingkungan hidup di Lombok menghasilkan pengembangan konsep ruang sebagai orientasi dan nilai untuk acuan menata ruang alamiah menjadi ruang budaya mitis.

Mitos “Ineun Tetaok” diciptakan untuk menjaga nilai-nilai di dalam tatanan ruang, sebagai penanda wilayah atau orientasi ruang. Ia mewakili kekuatan alam yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Di lingkungan kecil penandanya pohon beringin besar, atau bukit batu didalam ‘Tetaok’ (ruang) yang didekatnya ada Kemali atau mata air jernih. Gunung Rinjani merupakan ‘Ineun Tetaok Beleq’ (induk ruang besar) pada tatanan Desa, Dasan atau Bale Langgak. Dewi Anjani dianggap bersemayam di Gunung Rinjani.

Setelah masyarakat Sasak Lebung menjadi Islam, maka orientasi ruang di Lombok berubah. Ineun tetaok ditransformasikan menjadi “paer”, yang dalam kamus Kawi-jawa CF Winter Sr dan R.Ngabehi Ranggawarsita, artinya dari ‘pahera pangentosan’ atau penantian dan ‘pahyaran panggenan’ atau tempat tinggal. Jadi maknanya adalah tempat tinggal (ruang) selama masa penantian (waktu). Paer adalah ruang dan waktu selama menanti di dunia keberadaan untuk kehidupan sementara waktu , sebelum menuju ke tujuan yaitu kehidupan yang abadi.

Tanpa masjid, maka kehidupan kolektif seperti kehilangan pusat orientasi ruang dan semua kegiatan seolah tidak punya rujukan dan makna apapun. Dengan demikian, masjid menjadi representasi budaya masyarakat Sasak di Lombok yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Zuhdi/Taufan