Komunikasi, Kunci Kebahagiaan Suami Istri

by

James O. Proschaska dan Carlo C. Diclemente pernah melakukan penelitian tentang apa penyebab utama pertengkaran suami istri dalam rumah tangga, ternyata penyebab utamanya adalah komunikasi.

Wartapilihan.com, Jakarta – Masalah komunikasi sering menjadi masalah utama, namun sayangnya tak banyak yang menyadari kalau permasalahan mereka berawal dari masalah komunikasi.

Tak sedikit juga pertengkaran yang berawal dari masalah komunikasi membuat renggang hubungan suami istri hingga berujung pada perceraian.

Hal itu disampaikan oleh Ummu Rochimah, Konsultan Keluarga Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Setiabudi. Ia mengungkapkan, pada dasarnya cara berkomunikasi antara suami dengan istri tentu akan berbeda pada setiap pasangan.

Ia pun mengutip perkataan Intan Savitri, M.Psi seorang psikolog dan dosen di Universitas Mercubuana Jakarta. Berdasarkan penelitiannya, keberhasilan suatu komunikasi dapat dipengaruhi oleh : 55% gesture atau bahasa tubuh; 38% intonasi; dan 7% kata-kata.

“Misal, di pagi hari di suatu rumah terlihat seorang istri yang nampak letih setelah semalaman tidak tidur karena anak rewel, demam badannya. Di sisi lain, nampak seorang suami yang sedang bersiap-siap karena harus berangkat kerja pagi-pagi sekali mengejar kereta pertama agar tidak berdesak-desakan.

Suami : “Ma, kopi papa mana? Dah kesiangan nih, bisa ketinggalan kereta nanti.”

(Ucapan yang biasa terdengar di rumah itu saat pagi hari)

Istri :(sambil rada mengantuk dan agak kesal berjalan ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya, lalu menyajikannya di meja makan dengan kondisi masih awut-awutan dan muka yang kusut,  tanpa kata-kata)

Suami : (menerima dan menyeruput kopi tanpa menoleh dan memandang istrinya serta tidak ada sepotong pun kata-kata keluar dari mulutnya)

Istri : (meninggalkan meja makan dengan wajah cemberut dan masih tanpa kata-kata)

Di dalam kamar tak lama terdengar isakan tangis yang tertahan dari sang istri, ia merasa letih dengan semua ini, letih fisik dan letih jiwa. Merasa suami tidak mengerti kondisi dirinya, merasa suami tidak mamhaminya keadaannya saat itu. Maka  airmata lah satu-satunya cara ia melepaskan kepenatan dan keletihannya saat itu. Dan, suara isakan itu pun menembus dinding kamar hingga menghampiri gendang telinga suami.

Tinggallah suami di meja makan terbengong-bengong sendiri mendengar isakan tangis istrinya. Dalam hatinya bertanya-tanya : “Apa salahku?”

Kata-kata yang keluar dalam komunikasi di atas hanyalah sebuah pertanyan : “Ma, kopi papa mana?” Sedangkan selebihnya hanya komunikasi dalam bentuk bahasa tubuh. Tapi ternyata itu memiliki efek yang cukup besar dalam keberhasilan suatu komunikasi.

Rochimah memaparkan, dalam ilmu komunikasi ada dikenal istilah komunikasi asertif yaiti suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain, ketika kita dengan tegas dan positif mengekspresikan diri kita.

“Komunikasi asertif ini adalah salah satu bentuk komunikasi yang dapat melegakan semua pihak-pihak yang terlibat,” kata Rochimah, Jum’at, (4/5/2018), di laman Keluarga.or.id.

Dalam kehidupan berumah tangga, ia menegaskan, amat sangat diperlukan kemampuan dalam melakukan komunikasi asertif ini. Komunikasi adalah sebuah keterampilan, maka jalan satu-satunya agar komunikasi memberikan hasil yang terbaik adalah dengan berlatih dan terus berlatih.

“Dalam kasus di atas, suami harus berlatih untuk mengerti bahwa komunikasi tidak selamanya dengan kata-kata, ada bahasa tubuh dan intonasi yang berperan dalam keberhasilan komunikasi. Sebagian suami ia harus melihat kondisi istri yang pastinya lelah setelah semalaman tidak tidur menemani anak yang sakit, sehingga tidak harys memaksakan istrinya untuk menyiapkan keperluannya seperti hari-hari biasanya,” ungkap dia.

Suami dalam konteks ini, semestinya melalukan kontak mata dengan istri saat menerima kopi yang disuguhkan sambil mengucapkan “Terima kasih ya Ma”. Ketika hal ini saja dilakukan, maka bisa dipastikan isakan tangis istri tidak akan terdengar pagi itu.

“Sedangkan istri harus belajar memahami bahwa seorang suami terkadang tidak mengerti bahasa kalbu, belajarlah untuk jujur mengungkapkan keadaan dan kondisi dirinya, jangan ragu untuk mengungkapkan,” tuturnya.

Ia memisalkan istri mengungkapkan ini, “Pa, hari ini buat kopi sendiri dulu ya, Mama letih semalaman ngga tidur”

Menurut Rochimah, jangan merasa khawatir bahwa ungkapan tersebut akan menjatuhkan posisi dirinya menjadi seorang istri yang tidak pandai melayani suami.

Ketika ia dengan jujur mengungkapkan kondisi dirinya saat itu, ia telah mampu menunjukkan cara komuikasi yang dapat melegakan bagi keduanya.

“Ayolah, kita mulai berlatih melakukan komunikasi yang melegakan antara suami dengan istri sehingga perjalanan rumah tangga menjadi semakin asyik untuk dinikmati,” pungkas dia.

 

Eveline Ramadhini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *