Ketua BPJPH Dorong Percepatan Halal sebagai ‘Turbo Growth’ Indonesia

by

JAKARTA – Label halal tak lagi sekadar simbol ketaatan beragama, melainkan telah bertransformasi menjadi “Growth Economic Engine” atau mesin pertumbuhan ekonomi global. Penegasan ini disampaikan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hassan, dalam Media Gathering yang menggarisbawahi kejelian Presiden Prabowo Subianto dalam menempatkan isu halal sebagai pilar penting pembangunan nasional.

 

Haikal Hassan, yang akrab disapa Babe Haikal, membagikan kisah pribadinya yang telah bergaul dengan isu halal sejak lama. Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi pada tahun 1992, saat ia melakukan penerbangan internasional.

 

Di kelas ekonomi, Haikal Hassan terkejut ketika seorang pramugari secara khusus menyajikan makanan hanya untuknya, sebelum troli makanan umum didorong. “Saya kan bingung, saya gak berani makan, takutnya racun barangkali,” kenangnya sambil tertawa di FX Sudirman Jakarta bersama para jurnalis, Jumat (21/11/2025).

 

Setelah bertanya, pramugari tersebut menjelaskan bahwa makanan itu adalah “special meat” atau hidangan halal yang telah mereka pesan khusus. Hal yang membuatnya semakin terkejut adalah bagaimana pihak maskapai mengetahui kebutuhannya.

 

“Saya bilang, ‘How do you know? I never declare that I’m a Muslim.’ Dia jawab, ‘We know your name, sir. Ahmad Haikal Hassan, so we guess you’re a Muslim.'”

 

Kisah tahun 1992 itu menjadi titik balik pemahamannya. Saat itu, Halal sudah dianggap sebagai customer satisfaction dan customer comfort. “Mereka sudah sampai dalam pikiran ke situ. Panteslah mereka maju,” tegasnya.

 

Bukan Sekadar Agama, tapi Ekonomi

 

Haikal Hassan menekankan bahwa saat ini dunia telah menempatkan halal sebagai standar universal yang melampaui batas keyakinan. Data riset menunjukkan negara-negara yang bukan mayoritas Muslim justru mendulang keuntungan terbesar dari industri halal.

 

“Tahu nggak negara nomor satu di dunia yang paling tinggi pendapatannya dari halal? Cina,” ungkapnya.

 

Disusul oleh Brasil, yang menjadi pemasok daging utama ke negara-negara Teluk, Singapura, dan Malaysia, dan di posisi ketiga adalah Amerika. Fenomena ini membuktikan bahwa halal telah menjadi lifestyle dan standar kualitas yang diterima secara global.

 

Berbagai negara pun memiliki definisi tersendiri mengenai halal:

1. Cina: Halal adalah turbo growth.

2. Amerika: Halal adalah symbol of health.

3. Korea: Halal adalah double clean.

4. Eropa: Halal adalah elite food.

 

Not halal, not elite,” ujarnya.

 

Dalam kunjungan ke Rusia, ia bahkan mendapati sebuah peternakan raksasa yang memotong 6.000 ekor ternak per hari, yang dengan tegas menyatakan: “Sejak pertama kali berdiri produksi, we never produce non-halal (kami tidak pernah memproduksi non-halal).” Alasannya sederhana: jika produk halal, maka setiap negara akan menerimanya.

 

Dengan potensi transaksi halal global mencapai Rp21.000 triliun, Haikal Hassan memuji visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan isu halal sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJNM).

 

“Bapak Presiden kita mengandung kata halal di dua poin, nomor dua dan nomor delapan. Berarti, ini betul-betul akan jadi cemerlang kalau, dan hanya kalau kita tertib halal,” tegasnya.

 

BPJPH sendiri kini fokus mempermudah sertifikasi halal bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Warteg, warung padang, dan sejenisnya akan difasilitasi bahkan dimudahkan dalam tempo satu kali 24 jam.

 

Tujuannya adalah agar produk lokal memiliki daya saing di tengah gempuran produk impor yang dikemas menarik, berharga murah, dan telah mencantumkan logo halal yang besar.

“Kalau kita nggak halal, gimana? Mati UMKM kita,” katanya.

 

Mengakhiri paparannya, Haikal Hassan sekali lagi menegaskan posisi halal di era modern: Halal bukan soal agama, katanya halal adalah symbol of health, symbol of clean, symbol of quality. “Semoga halal punya kontribusi yang cukup signifikan untuk mencapai pertumbuhan delapan persen ekonomi,” tutupnya.