Satu hal paling mendasar yang kita lakukan sejak detik pertama lahir ke dunia hingga akhir hayat adalah bernapas. Namun, pernahkah kita menghitung berapa banyak “tagihan” yang seharusnya kita bayar atas udara yang kita hirup setiap hari?
Wartapilihan.com, Depok– Secara medis dan biologis, seorang manusia dewasa dalam kondisi istirahat menghirup sekitar 11.000 liter udara per hari. Dari jumlah tersebut, tubuh kita menyerap sekitar 550 liter oksigen murni (O2) setiap 24 jam. Pada saat yang sama, proses metabolisme tubuh melepaskan sekitar 450 hingga 500 liter karbon dioksida (CO2) kembali ke udara.
Bayangkan jika oksigen sebanyak itu harus dibeli dalam tabung medis—harganya bisa mencapai jutaan rupiah per hari. Beruntung, alam menyediakannya secara gratis melalui mekanisme luar biasa yang disebut fotosintesis.
Pabrik Oksigen Bumi dan Karbon Dioksida
Di planet Bumi, organisme fotosintetik—seperti tumbuhan darat, alga, dan sianobakteri—adalah kelompok mahkluk hidup yang memegang kunci kelangsungan napas kita. Melalui bantuan cahaya matahari, klorofil pada tumbuhan mengolah molekul air (H2O) dan melepaskan O2 ke atmosfer, sembari menyerap CO2 beracun untuk diubah menjadi karbohidrat.
Memang ada pengecualian mikroba tertentu, seperti mikroorganisme anaerob (misalnya clostridium atau beberapa jenis arkea) yang dapat hidup tanpa oksigen, atau bakteri sulfur yang melakukan fotosintesis anoksigenik tanpa menghasilkan . Namun bagi mayoritas makhluk hidup di Bumi—termasuk manusia—oksigen adalah harga mati.
Pertanyaannya: Sebagai makhluk yang dikaruniai akal budi, apa kontribusi nyata kita untuk menjaga ketersediaan oksigen tersebut?
Belajar dari Benalu
Selama ini kita mengenal benalu (Loranthaceae) sebagai simbol parasit yang merugikan. Benalu menempel di batang pohon inang dan menghisap air serta mineral menggunakan organ khusus bernama haustorium.
Namun, jika dilihat dari kacamata fisiologi tumbuhan, benalu adalah hemiparasit (parasit setengah). Kendati menumpang hidup, benalu tetap memiliki klorofil. Artinya, benalu tetap memproses , melakukan fotosintesis, dan melepaskan oksigen kembali ke alam tempatnya menumpang.
Ini adalah ironi yang menampar kita. Benalu yang predikatnya parasit saja masih memberikan sumbangsih oksigen bagi lingkungan sekitarnya. Lantas, bagaimana dengan kita? Jika manusia hanya terus menghirup ratusan liter , membuang limbah , lalu menebang pohon dan merusak ruang hijau tanpa pernah menanam kembali, bukankah posisi kita jauh lebih buruk daripada benalu?
Langkah Kecil dari Pekarangan Rumah
Menjaga kelangsungan fotosintesis tidak selalu harus menunggu aksi besar seperti reboisasi hutan ribuan hektar. Sebagai makhluk berakal, kita bisa memulainya dari lingkungan paling dekat melalui aktivitas berkebun.
Melalui langkah sederhana seperti:
- Menanam tanaman hias atau sayuran di pekarangan maupun pot kecil.
- Merawat pohon di sekitar tempat tinggal agar daun-daunnya tetap subur memproses udara kotor.
- Memanfaatkan lahan sempit dengan teknik vertical garden atau hidroponik.
Dengan berkebun, kita bukan hanya mempercantik tempat tinggal atau memanen hasil tanam, melainkan aktif berinvestasi pada pasokan udara segar bagi diri sendiri dan sesama.
Mari Bertindak!
Napas yang kita hirup hari ini adalah hasil kerja keras daun-daun di luar sana. Jangan biarkan diri kita menjadi “parasit sejati” yang hanya bisa mengambil tanpa pernah memberi kembali pada alam.
Mulailah hari ini. Ambil satu bibit tanaman, tancapkan ke dalam tanah, dan rawatlah. Satu pot tanaman di teras rumah Anda mungkin terlihat kecil, tetapi bagi atmosfer Bumi, itu adalah pabrik oksigen baru yang sangat berarti.
Jangan mau kalah sama benalu—mari menanam dan memberi napas bagi Bumi!
Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)

