HILIRISASI INDUSTRI AGRO BERBASIS KELAPA SAWIT DAN USULAN PENGEMBANGANNYA

by

Oleh: Dr. Ir. Zulfiandri, MSii)

Hilirisasi menjadi salah satu tema utama  dalam program pemerintah Kabinet Indonesia Maju, selain makan bergizi gratis bagi siswa di Indonesia.  Sebagai Negara agro maritime, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, baik sumberdaya pertanian, kelautan dan pertambangan. Sumebr daya alam yang berlimpah belum memberikan efek bagi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Pengelolaan sumber daya alam (material) selain membutuhkan input yang lain, seperti pendanaan (modal), teknologi (mesin), manusia (man). Selama ini pengelolaan sumberdaya alam ini dilakukan oleh pengusaha-pengusaha besar. Efisiensi menjadi kunci kenapa pengelolaan dalam skala besar menjadi pilihan dalam era pemerintahan sebelum ini. Besar harapan rakyat agar focus pengelola (kelembagaan) untuk hilirisasi industri terutama industri agro dikembangkan oleh industri kecil dan menengah (IKM).

Hilirisasi yang bisa dan layak dikelola oleh IKM adalah hilirisasi kelapa sawit (oleokimia). Produk-produk hilirisasi sawit dalam bentuk bio surfaktan, asam lemak, amina lemak (fatty amine) layak untuk didorong agar industri yang lebih hilir lagi bisa diproduksi di Indonesia, karena banyak industri di Indonesia yang tergantung dengan turunan dari CPO tersebut. Industri deterjen, sabun, farmasi, industri polimer, bahan anti korosif dan berbagai produk sejenis menggunakan produk hilir sawit dari asam lemak dan amina lemak. Namun sayangnya sebagian besar kita impor dari negara lain, bahkan untuk fatty amine (amina lemak)< menurut data statistic untuk amins lemak 100% kita impor dari negara lain, yang notabene tidak memiliki lahan sawit.

Indonesia Sebagai Pengekspor Oleokimia

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, namun masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan komoditas ini. Saat ini, Indonesia masih berfokus pada ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO), padahal terdapat peluang besar dalam pengembangan produk turunan kelapa sawit yang dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi neraca ekspor nasional, salah satunya oleokimia.

Potensi sumber daya oleokimia di Indonesia tersebar hampir merata di pulau-pulau besar, terutama di Sumatera dan Kalimantan, yang menjadi sentra utama perkebunan kelapa sawit. Sebagai negara dengan potensi sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran dominan dalam industri oleokimia global. Data ekspor menunjukkan bahwa Indonesia merupakan eksportir terbesar produk oleokimia dengan nilai ekspor mencapai USD 2,54 miliar, mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama di pasar dunia. Malaysia menyusul di peringkat kedua dengan nilai ekspor sebesar USD 1,4 miliar. Keberhasilan kedua negara ini didukung oleh produksi kelapa sawit yang melimpah sebagai bahan baku utama industri oleokimia. 

Sumber daya yang melimpah yang kita miliki, bagi Indonesia menjadi sebuah peluang besar untuk mengembangkan industri hilir kelapa sawit secara lebih luas. Pemanfaatan produk turunan seperti asam lemak, amina lemak gliserin, surfaktan dan produk turunan lainnya dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, juga memperkuat daya saing industri nasional di pasar internasional. Berikut adalah data produksi oleokimia dunia yang menggambarkan kontribusi Indonesia dalam industri ini.

Tabel 1 Ekspor Oleo kimia dari Negara produsen

NegaraPeringkat EksporEkspor (USD 000)
Indonesia12,540,802.00
Malaysia21,400,233.40
Belanda3602,733.40
Belgia4295,107.40
India6203,186.00
Spanyol7110,254.60
Argentina8107,679.20
Filipina1229,177.00
Peru1722,208.60
Ukraina2117,707.00

 Sumber: International Trade Centre (ITC) – Trade Map (www.trademap.org) (2024)

Nilai ekspor oleokimia menunjukkan kontribusi yang signifikan dari berbagai negara, dengan dominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Indonesia menjadi eksportir terbesar dengan nilai ekspor mencapai USD 2,54 miliar, mengokohkan posisinya sebagai pemain utama dalam pasar global. Malaysia mengikuti di peringkat kedua dengan nilai ekspor sebesar USD 1,4 miliar. Keberhasilan kedua negara ini didukung oleh produksi kelapa sawit yang melimpah sebagai bahan baku utama oleokimia. Di posisi ketiga, Belanda mencatat nilai ekspor sebesar USD 602,73 juta, menunjukkan perannya sebagai salah satu hub perdagangan utama di Eropa. Belgia menempati peringkat keempat dengan nilai ekspor sebesar USD 295,11 juta, juga memperkuat peran negara-negara Eropa dalam rantai pasok oleokimia.

India berada di peringkat keenam dengan nilai ekspor USD 203,19 juta, sedangkan Spanyol dan Argentina masing-masing berada di peringkat ketujuh dan kedelapan dengan nilai ekspor USD 110,25 juta dan USD 107,68 juta. Filipina, Peru, dan Ukraina masing-masing mencatat nilai ekspor yang lebih kecil, yaitu USD 29,18 juta, USD 22,21 juta, dan USD 17,71 juta, menandakan kontribusi yang lebih terbatas dibandingkan negara-negara utama.

Secara keseluruhan, pasar ekspor oleokimia didominasi oleh negara-negara Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia, yang tidak hanya memiliki nilai ekspor terbesar tetapi juga daya saing yang tinggi. Negara-negara Eropa dan lainnya memainkan peran sebagai pengekspor tambahan, mendukung distribusi global oleokimia.

Nilai impor oleokimia mencerminkan kebutuhan pasar global yang beragam. Belanda menempati peringkat teratas sebagai pengimpor terbesar dengan nilai impor sebesar USD 894,10 juta. Hal ini mencerminkan perannya sebagai salah satu pusat perdagangan oleokimia di Eropa, di mana sebagian besar impor mungkin digunakan untuk konsumsi domestik maupun ekspor kembali.

Tabel 2 Negara Pengimpor Oleo kimia

NegaraPeringkat ImporImpor (USD 000)
Belanda2894,104.20
Malaysia3622,629.00
India5477,033.00
Spanyol9288,756.20
Belgia12147,968.00
Indonesia2245,983.80
Filipina2833,674.20
Argentina566,162.40
Peru702,935.00
Ukraina801,677.80

              Sumber: International Trade Centre (ITC) – Trade Map (www.trademap.org) (2024)

Malaysia berada di peringkat kedua dengan nilai impor sebesar USD 622,63 juta. Meskipun merupakan eksportir utama oleokimia, Malaysia juga mengimpor produk ini, kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan industri domestiknya yang terus berkembang. India, sebagai salah satu konsumen besar oleokimia, menempati peringkat kelima dengan nilai impor mencapai USD 477,03 juta. Spanyol berada di peringkat kesembilan dengan nilai impor sebesar USD 288,76 juta, menunjukkan posisinya sebagai salah satu pasar penting di kawasan Eropa. Belgia, yang juga merupakan eksportir, mencatat nilai impor sebesar USD 147,97 juta di peringkat ke-12. Indonesia, meskipun menjadi eksportir utama, tetap mengimpor oleokimia sebesar USD 45,98 juta, berada di peringkat ke-22. Negara-negara lain seperti Filipina (USD 33,67 juta), Argentina (USD 6,16 juta), Peru (USD 2,94 juta), dan Ukraina (USD 1,68 juta) memiliki nilai impor yang relatif kecil, yang menunjukkan peran mereka yang lebih terbatas dalam perdagangan oleokimia global.

Secara keseluruhan, pola impor ini mencerminkan dinamika kebutuhan oleokimia di berbagai negara, dengan negara-negara Eropa dan Asia sebagai pasar utama, baik untuk memenuhi konsumsi domestik maupun untuk mendukung rantai pasok global.

Secara keseluruhan, Indonesia dan Malaysia menunjukkan daya saing tertinggi di pasar global oleokimia. Negara-negara lain, seperti Belanda dan Belgia, meskipun memiliki daya saing yang lebih rendah, tetap berkontribusi sebagai pusat perdagangan atau pemrosesan oleokimia. Daya saing ini menggarisbawahi pentingnya keunggulan bahan baku dan struktur industri dalam membentuk posisi kompetitif suatu negara di pasar global, sehingga diperlukan keseriusan dari pemerintah untuk menigkatkan hilirisasi Fatty Amine di Indonesia.

Strategi Pelibatan Industri Kecil Menengah Sebagai Aktor Hiliriasi

Sektor industri merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional karena mampu memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, serta perolehan devisa. Selain itu, industri juga berperan besar dalam membentuk daya saing nasional. Dalam konteks hilirisasi produk oleokimia, Industri Kecil dan Menengah (IKM) dapat menjadi akselerator utama mengingat jumlahnya yang besar serta potensinya yang dapat dioptimalkan. Hilirisasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan IKM sebagai bagian dari penguatan struktur industri harus dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk penyediaan dana investasi, pengembangan kompetensi internal, penyediaan fasilitas, serta akses terhadap informasi pasar.

Investasi merupakan faktor utama dalam pengembangan setiap badan usaha, termasuk industri kecil dan menengah yang berperan dalam hilirisasi produk kelapa sawit. Mengingat hilirisasi merupakan salah satu program unggulan pemerintah melalui Kementerian Hilirisasi dan Investasi, maka pemerintah perlu berperan aktif dalam mendorong investasi pada sektor ini. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) harus dijadikan sebagai investor utama untuk mendukung hilirisasi industri kecil dan menengah. Untuk memperkuat peran strategis ini, pada 24 Februari 2025, Pemerintah Indonesia meresmikan Danantara sebagai pusat keuangan dana investasi negara. Keberadaan Danantara diharapkan dapat menjadi sumber pendanaan utama bagi pengembangan industri kecil dan menengah, sehingga dapat mempercepat proses hilirisasi dan meningkatkan daya saing industri dalam skala global.

Setelah tersedianya investasi yang memadai, langkah selanjutnya adalah penguatan kompetensi sumber daya manusia. Pemerintah perlu berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas tenaga kerja di sektor industri kecil dan menengah melalui penyuluhan serta pelatihan bagi para pelaku usaha. Dalam konteks hilirisasi produk kelapa sawit, misalnya, diperlukan tenaga kerja yang andal dan kompeten agar industri dapat berjalan secara optimal. Oleh karena itu, upaya peningkatan kompetensi menjadi sangat penting. Selain memberikan pelatihan langsung, pemerintah juga dapat menjembatani industri kecil dengan tenaga ahli, baik dari kalangan profesional maupun akademisi universitas, guna meningkatkan daya saing serta inovasi dalam proses hilirisasi.

Selain kompetensi, penyediaan fasilitas juga menjadi aspek krusial dalam mendukung industri kecil dan menengah. Mengingat keterbatasan modal dan akses terhadap peralatan produksi, pemerintah perlu menyediakan insentif bagi IKM agar mereka dapat memperoleh mesin-mesin produksi yang lebih modern dan efisien. Insentif ini dapat diberikan dalam bentuk subsidi, skema pembiayaan khusus, ataupun penyediaan fasilitas produksi bersama di kawasan industri yang telah difokuskan untuk hilirisasi. Mesin yang digunakan pun tidak harus berkapasitas besar, melainkan cukup yang berukuran kecil namun efisien dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Selain itu, akses terhadap informasi pasar juga menjadi faktor penentu keberhasilan IKM dalam menjalankan hilirisasi produk. Pemerintah perlu memfasilitasi industri kecil agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas, baik di tingkat domestik maupun internasional. Dengan tersedianya informasi pasar yang jelas, para pelaku usaha dapat lebih mudah menyesuaikan produk mereka dengan permintaan pasar, sehingga meningkatkan peluang keberlanjutan usaha mereka.

Dengan menerapkan strategi investasi, penguatan kompetensi, penyediaan fasilitas, dan akses informasi pasar, keterlibatan IKM dalam hilirisasi produk turunan kelapa sawit diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan yang lebih merata serta meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah di pasar global. Hal ini tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


[i] Pemerhati Industri Agro dan Dosen Prodi Teknik Industri-Universitas Esa Unggul