Lebih lanjut lagi dari segi aplikasinya, orang yang mengerjakan sholat dengan baik, semestinya berperilaku baik juga, dengan karakteristik diantaranya: suka membantu kaum dhuafa, memberi makan orang miskin, dan seterusnya. Kalau aplikasi atau amalannya tidak demikian, misalnya enggan membantu orang miskin, bersifat kikir, dan perilaku negatif lainnya, maka orang yang sholat itu, dalam pandangan dan penilaian Allah niscaya akan celaka. Perhatikanlah makna ayat yang mengingatkan kita tentang hal ini: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. Al-Maa’uun, 107: 4-6). Sikap dan sifat Riya itu sendiri ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di mata manusia (masyarakat).
Dalam konteks makanan halal, misalnya lagi, bukan hanya halal secara material, dari sisi eksoteris; tetapi secara esoteris juga harus halal cara mendapatkannya, dan halal pemanfaatannya, sebagai aspek muamalah. Yakni makanan halal yang dimiliki juga dimanfaatkan untuk kebaikan, seperti untuk membantu memberi makan orang yang kelaparan, kaum dhuafa dan fakir-miskin Sebagaimana dimaksud dalam Al-Quran surat Al-Maa’uun yang telah dijelaskan di atas. Memahami urgensi “Halal is My Life” ini, maka kita sebagai orang beriman, harus mengamalkannya dengan sepenuh hati. Mulai dari diri pribadi, lalu menyampaikan, mengingatkan dan mengajak kepada para anggota keluarga yang menjadi tanggung-jawab kita bersama:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim, 66: 6). Berikutnya, hal ini juga harus di perluas kepada masyarakat lingkungan, dan seterusnya. Sehingga pola hidup halal itu dapat terus berkembang semakin meluas. Sebagai umat Muslim harus memulainya, dari diri sendiri, sejak saat ini juga. Perhatikanlah makna ayat yang memerintahkan: “Dan bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun, 64: 16). Yaitu bertaqwa, menaati semua perintah Allah, secara maksimal, sampai batas kemampuan yang dimiliki.
Hal ini telah diperintahkan pula dalam sabda Nabi saw, “Apabila aku memerintahkan suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kesanggupanmu.”
Dr. Ma’rifat Iman/Ahmad Zuhdi.

