Dunia sedang menyaksikan keretakan paling signifikan dalam aliansi transatlantik sejak berakhirnya Perang Dingin. Ketika jet-jet tempur Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi “Roaring Lion” dan “Epic Fury” ke jantung pertahanan Iran pada 28 Februari 2026, sebuah keheningan yang tidak biasa datang dari sekutu-sekutu terdekat mereka di Eropa.
Wartapilihan.com, Paris– Alih-alih memberikan dukungan militer penuh, kekuatan utama Eropa yang dipimpin oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron justru memilih jalan “pembangkangan” diplomatik. Fenomena ini bukan sekadar ketidaksepakatan teknis, melainkan pergeseran fundamental dalam cara Eropa memandang keamanan global dan kedaulatan mereka sendiri.
Sikap Prancis menjadi sorotan utama setelah Presiden Macron menegaskan bahwa Paris tidak dikonsultasikan dan tidak akan berpartisipasi dalam ofensif tersebut. Macron bahkan mengambil langkah ekstrem dengan melarang penggunaan ruang udara Prancis bagi pesawat kargo militer AS yang membawa pasokan terkait konflik Iran.
“Prediktabilitas adalah sebuah kekuatan strategis,” ujar Macron dalam kunjungannya ke Tokyo, menyindir kebijakan luar negeri Washington yang dinilai tidak terduga. Bagi Macron, visi “Otonomi Strategis” berarti Eropa harus mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa harus terseret dalam perang yang dipicu oleh agenda domestik pemimpin negara lain.
Data menunjukkan bahwa kohesi NATO berada di titik nadir. Dari 32 negara anggota, hanya sekitar 16% (termasuk Polandia, Rumania, dan Kanada) yang secara eksplisit mendukung tindakan AS-Israel. Sebaliknya, lebih dari 84% anggota lainnya memilih untuk tetap netral atau bahkan menentang secara terbuka.
- Spanyol & Italia: Perdana Menteri Pedro Sanchez melarang penggunaan pangkalan udara Moron dan pangkalan laut Rota untuk operasi terkait Iran.
- Inggris: Meskipun memberikan izin terbatas bagi penggunaan pangkalan di Chagos untuk tujuan pertahanan, Perdana Menteri Keir Starmer secara tegas menyatakan bahwa ia “tidak percaya pada perubahan rezim dari langit”.
- Negara Nordik: Presiden Finlandia Alexander Stubb menegaskan bahwa “perang di Iran bukanlah urusan NATO”.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pun harus mengakui secara terbuka bahwa aliansi tersebut tidak akan terlibat sebagai entitas kolektif, sebuah pengakuan yang memperjelas bahwa “Pasal 5” tentang pertahanan kolektif tidak berlaku dalam skenario serangan ofensif di luar wilayah aliansi.
Keengganan Eropa bukan tanpa alasan kuat. Sebagai kawasan yang secara geografis jauh lebih dekat dengan Timur Tengah dibanding Amerika Serikat, Eropa paling rentan terkena dampak domino konflik ini:
- Krisis Energi: Harga minyak Brent melonjak hingga $118 per barel segera setelah konflik pecah. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengancam stabilitas ekonomi Eropa yang masih rapuh.
- Ancaman Eksodus Massal: Iran memiliki populasi sekitar 90 juta jiwa—empat kali lipat dari populasi Suriah sebelum perang. Para ahli memperingatkan bahwa jika hanya 10% populasi Iran mengungsi, hal itu akan menciptakan gelombang 9 juta pengungsi yang dapat melumpuhkan sistem suaka Eropa dan memicu ketidakstabilan politik domestik.
Meskipun berada di pinggir lapangan dalam hal kekuatan militer, Eropa berupaya memainkan peran sebagai “Rem Diplomatik”. Kelompok E3 (Prancis, Jerman, Inggris) masih memegang memori keberhasilan JCPOA (Kesepakatan Nuklir 2015) sebagai bukti bahwa diplomasi hukum lebih efektif daripada kekuatan senjata.
Strategi yang kini didorong oleh Brussels adalah penyediaan “Off-Ramp” atau jalur keluar bagi semua pihak. Hal ini mencakup:
- Narasi “Kesepakatan” untuk Trump: Membingkai gencatan senjata sebagai “kemenangan negosiasi” bagi Gedung Putih guna menjaga reputasi politik Washington.
- Misi Maritim Netral: Mengusulkan pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz melalui misi independen seperti Operation Aspides, yang terpisah dari komando militer AS.
- Bantuan Kemanusiaan: Mengalokasikan €458 juta untuk menstabilkan kondisi warga sipil di wilayah terdampak guna mencegah krisis migrasi yang lebih luas.
Perang Iran 2026 mungkin akan tercatat dalam sejarah sebagai katalisator yang mengubah wajah NATO selamanya. Kepercayaan publik Eropa terhadap Amerika Serikat dilaporkan merosot hingga 47% dibandingkan tahun 2024.
Eropa kini berdiri di persimpangan jalan: terus bergantung pada payung keamanan Amerika yang semakin tak menentu, atau mempercepat pembangunan kekuatan pertahanan mandiri. Bagi para pemimpin seperti Macron, pilihan itu sudah jelas. Namun bagi aliansi Barat secara keseluruhan, perpecahan ini adalah luka dalam yang akan membutuhkan waktu bertahun-tahun—atau bahkan dekade—untuk sembuh. [AF]

