Dua Jalan Satu Muara: Diskusi Hangat Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang Hakikat Rezeki

by

Sejarah peradaban Islam tidak hanya dibangun di atas tumpukan hukum fikih yang kaku, melainkan juga dihiasi oleh dialog-dialog intelektual yang penuh kehangatan, adab, dan kedalaman spiritual.

Wartapilihan.com, Jakarta– Salah satu peristiwa paling monumental yang sering didebatkan sekaligus dikagumi adalah diskusi ilmiah antara Imam Malik bin Anas (sang guru, pendiri Mazhab Maliki) dan murid kesayangannya, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (pendiri Mazhab Syafi’i), mengenai hakikat bagaimana rezeki itu diperoleh manusia.

Kedua ulama besar ini memiliki sudut pandang yang berbeda, namun di akhir dialog, perbedaan tersebut justru melahirkan sebuah sintesis pemahaman yang indah dan saling melengkapi.

1. Latar Belakang Pandangan Kedua Tokoh

A. Versi Imam Malik: Rezeki karena Tawakal (Jalur Tajri)

Imam Malik berpendapat bahwa rezeki pada hakikatnya telah dijamin oleh Allah SWT bagi setiap makhluk hidup. Seseorang yang menaruh kepercayaan penuh (tawakal) kepada Allah dengan sebenar-benarnya akan dicukupkan rezekinya, bahkan tanpa perlu melakukan usaha fisik yang melelahkan.

Landasan utama yang dipegang oleh Imam Malik adalah sebuah hadis sahih dari Rasulullah ﷺ:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Bagi Imam Malik, fokus utama seorang hamba adalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), menjaga takwa, dan membiarkan Allah yang mengatur urusan duniawinya. Dalam istilah tasawuf, kondisi ini sering disebut sebagai makam Tajrid—sebuah kondisi di mana seseorang difokuskan untuk ibadah dan dakwah, sementara kebutuhan dunianya dipenuhi Allah melalui jalan yang tidak terduga.

B. Versi Imam Syafi’i: Rezeki karena Ikhtiar (Jalur Kasbi)

Mendengar penjelasan sang guru, Imam Syafi’i yang saat itu masih muda dan memiliki logika berpikir yang sangat kritis, mengajukan pandangan yang berbeda. Beliau menitikberatkan pada pentingnya usaha fisik (ikhtiar).

Imam Syafi’i argumen menggunakan hadis yang sama, namun dengan penekanan pada aspek bahasa dan perilaku:

“Wahai Guru, seandainya burung tersebut tidak terbang keluar dari sarangnya di pagi hari (tadghu), bagaimana mungkin ia bisa kembali dalam keadaan kenyang (taruh)? Burung itu harus mengepakkan sayapnya, terbang mencari makan, barulah rezeki itu didapatkan. Maka, manusia pun harus berusaha dan memeras keringat agar rezeki itu datang.”

Bagi Imam Syafi’i, ikhtiar adalah bagian dari syariat yang wajib dijalankan. Seseorang tidak boleh hanya berdiam diri di masjid tanpa melakukan usaha nyata. Pandangan ini merujuk pada konsep Kasbi—yaitu kewajiban menempuh hukum sebab-akibat (sunnatullah) yang berlaku di dunia ini.

2. Aksi Pembuktian dan Dialog Anggur yang Melegenda

Perbedaan pendapat ini terus membekas di benak keduanya hingga suatu hari takdir mempertemukan mereka dalam sebuah pembuktian yang unik.

Ikhtiar Imam Syafi’i di Kebun Anggur

Suatu hari, saat Imam Syafi’i sedang berjalan-jalan di luar kota, beliau melihat serombongan petani sedang sibuk memanen buah anggur. Pekerjaan tersebut cukup berat karena mereka harus memetik dan mengangkut keranjang-keranjang anggur yang besar.

Mengingat perdebatannya dengan Imam Malik, Imam Syafi’i memutuskan untuk membantu para petani tersebut memeras keringat hingga selesai. Atas bantuan fisiknya yang tulus, pemilik kebun dengan gembira memberikan upah berupa beberapa ikat buah anggur yang segar dan manis kepada Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i merasa sangat gembira. Kegembiraan beliau bukan semata-mata karena mendapatkan anggur, melainkan karena merasa teorinya tentang rezeki telah terbukti secara empiris: beliau bergerak bekerja (ikhtiar), dan hasilnya beliau mendapatkan anggur (rezeki).

Kejutan dari Tawakal Imam Malik

Dengan langkah mantap dan senyum lebar, Imam Syafi’i bergegas kembali ke halaqah (tempat belajar) Imam Malik. Beliau meletakkan beberapa ikat anggur segar tersebut di hadapan sang guru dan berkata dengan nada sedikit bangga namun tetap hormat:

“Wahai Guruku! Lihatlah anggur ini. Seandainya aku tadi hanya duduk diam di gubuk atau di masjid, tentu anggur manis ini tidak akan pernah sampai ke tanganku. Aku harus keluar, memeras keringat membantu para petani, barulah aku mendapatkan upah anggur ini. Bukankah ini bukti bahwa rezeki harus dicari dengan ikhtiar?”

Imam Malik tersenyum lebar mendengar argumen murid cerdasnya tersebut. Tanpa membantah sepatah kata pun, Imam Malik mengambil sebutir anggur yang dibawa oleh Imam Syafi’i, memasukkannya ke dalam mulut, merasakan manisnya, lalu berkata dengan tenang:

“Wahai Syafi’i… Hari ini aku sama sekali tidak keluar rumah. Aku hanya duduk diam di ruangan ini mengajarkan ilmu, berzikir, dan bertawakal kepada Allah. Di tengah hari, aku sempat terdetik di dalam hati betapa nikmatnya jika siang ini aku bisa memakan buah anggur segar. Lalu, tiba-tiba engkau datang membawakan anggur manis ini langsung ke hadapanku, bahkan menyuapkannya ke mulutku tanpa aku perlu bersusah payah. >

Bukankah ini bukti bahwa rezeki bisa datang sendiri kepada orang yang bertawakal, dikirimkan oleh Allah melalui perantaraan usahamu?”

Mendengar jawaban cerdas dan penuh hikmah dari sang guru, runtuhlah argumen mutlak Imam Syafi’i. Beliau menyadari kebenaran ucapan gurunya, lalu keduanya tertawa bersama dengan penuh kehangatan tanpa ada rasa dendam atau ingin saling menjatuhkan.

3. Integrasi Konsep: Jalur Kasbi vs Jalur Tajri

Kisah ini memberikan pelajaran teologis yang sangat dalam. Di dalam khazanah intelektual Islam (salah satunya dijelaskan dalam Kitab Al-Hikam oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari), kedua konsep rezeki ini dirumuskan secara harmonis:

Dimensi Jalur Kasbi (Ikhtiar/Usaha) Jalur Tajri (Tawakal/Jaminan Allah)
Tokoh Refleksi Imam Syafi’i Imam Malik
Prinsip Utama Menjalankan sebab-akibat (darul asbab) Bersandar penuh pada Sang Pencipta sebab (Musabbibil Asbab)
Kewajiban Bekerja keras sebagai bentuk kepatuhan pada syariat Menjaga kedekatan spiritual, ketakwaan, dan tawakal
Sifat Rezeki Didatangi (manusia mengejar rezeki) Mendatangi (rezeki mengejar manusia)

Mengapa Keduanya Benar?

Islam adalah agama yang moderat (wasathiyah). Kedua jalur ini sebenarnya adalah dua sisi dari satu koin yang sama:

  1. Bekerja adalah Syariat, Tawakal adalah Akidah: Seseorang wajib bekerja secara fisik (mengikuti konsep Imam Syafi’i) sebagai bentuk adab kita hidup di dunia fisik. Namun, secara hati dan keyakinan, kita tidak boleh menyandarkan hasil pekerjaan pada keringat kita sendiri, melainkan harus bertawakal sepenuhnya kepada Allah (mengikuti konsep Imam Malik).
  2. Kondisi Hidup yang Dinamis: Ada kalanya Allah menempatkan manusia di jalur Kasbi (seperti pedagang, buruh, profesional yang harus bekerja keras). Namun, ada kalanya Allah menempatkan seseorang di jalur Tajri (seperti para penuntut ilmu, ulama, atau pejuang agama yang rezekinya dicukupkan dari arah yang tidak disangka-sangka).

4. Teladan Adab Perbedaan Pendapat

Hikmah terbesar dari kisah ini bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah dalam berdebat, melainkan adab dalam berbeda pendapat.

  • Imam Syafi’i tidak ragu menguji pendapat gurunya dengan sopan, dan bersedia mengakui kebenaran argumen gurunya setelah melihat realitas yang terjadi.
  • Imam Malik tidak memarahi muridnya karena berbeda pandangan, melainkan menunjukkan kebenaran pandangannya dengan cara yang elegan, humoris, dan penuh kasih sayang.

Melalui kisah ini, umat Islam diajarkan untuk tidak kaku dalam memandang rezeki. Bekerjalah seakan-akan rezeki itu ditentukan oleh ushamu, namun bertawakallah seakan-akan usahamu tidak menentukan apa-apa di hadapan takdir Allah SWT.