Di Balik Layar Mesin AI: Mengapa Jutaan Buku Fisik Dipotong, Dipindai, lalu Dihancurkan?

by

Sebuah penelusuran tentang raksasa teknologi yang “memburu” buku-buku cetak demi memberi makan AI—serta perdebatan hukum, etika, dan nilai spiritual di baliknya.

Wartapilihan.com, Jakarta– Bayangkan sebuah gudang tertutup. Suara mesin pemotong hidrolik (guillotine cutter) berdentum keras. Jilid-jilid buku tebal—sebagian besar edisi langka—dipotong paksa tepat di bagian punggungnya.

Dalam hitungan detik, lembaran kertas yang terpisah disedot mesin pemindai industri berkecepatan tinggi. Melalui teknologi Optical Character Recognition (OCR), tulisan tangan dan ketikan manusia itu diubah menjadi data digital.

Lalu, ke mana perginya fisik buku-buku tersebut?

Dilempar ke mesin pencacah, didaur ulang, atau dilebur jadi bubur kertas (pulped). Buku-buku itu hancur secara permanen dan tak akan pernah bisa dibaca lagi oleh mata manusia.

Kelihatan seperti adegan film distopia fiksi ilmiah? Sayangnya, ini 100% kenyataan di industri teknologi hari ini.

Pemberitaan CNBC Indonesia pada 30 Juli 2026 berjudul “Korban Baru AI, Sedot Isi Buku Langka Sampai Hancur Tak Bisa Dibaca” sempat bikin heboh media sosial. Banyak yang ngira ini cuma judul heboh (clickbait). Namun, penelusuran dokumen pengadilan dan laporan investigasi internasional membuktikan satu hal: fenomena ini nyata terjadi.

Plot Twist ‘Project Panama’: Skandal Rahasia di Ruang Sidang

Awal terkuaknya praktik pemusnahan buku ini berasal dari Pengadilan Distrik AS di California. Dalam gugatan hak cipta (class-action lawsuit) sepanjang tahun 2025–2026, dokumen internal raksasa AI bocor ke publik.

Salah satu fakta paling mengejutkan datang dari Anthropic—perusahaan di balik AI populer, Claude. Mereka ternyata menjalankan proyek rahasia berskala masif dengan nama sandi Project Panama.

Memo internal Anthropic yang dibuka di persidangan menyebutkan secara gamblang:

“Project Panama is our effort to destructively scan all the books in the world. We don’t want it to be known that we are working on this.”

(Project Panama adalah upaya kami untuk memindai secara destruktif seluruh buku di dunia. Kami tidak ingin publik tahu bahwa kami sedang mengerjakan ini.)

Demi proyek ini, korporasi AI memborong jutaan buku fisik dari pasar sekunder, pedagang buku bekas, hingga bekerja sama secara diam-diam dengan penyedia basis data seperti ISBNdb.

Kenapa Industri AI “Kehausan” Buku Bekas?

Di era internet yang serba ada, kenapa perusahaan teknologi paling canggih justru berburu kertas cetakan lama? Jawabannya ada pada dua krisis besar yang dialami model bahasa besar (Large Language Models / LLM):

A. Bahaya “AI Slop” & Krisis Data Bersih

Internet saat ini sudah tercemar oleh apa yang disebut para ahli sebagai AI Slop—jutaan artikel, konten blog, dan unggahan otomatis yang dibuat oleh AI itu sendiri.

Jika AI generasi baru dilatih pakai data buatan AI sebelumnya (synthetic data), performa AI justru bakal “cacat” atau mengalami degradasi parah (dikenal sebagai model collapse).

Buku-buku cetak terbitan sebelum tahun 2022 dianggap sebagai “tambang emas data murni”. Teksnya ditulis manusia, melewati proses penyuntingan berlapis, kaya akan struktur bahasa, dan dijamin bebas dari racun data AI.

B. Menghindari “Pintu Terkunci” di Internet

Banyak situs web, media berita, dan perpustakaan digital sekarang memasang benteng (web scraper block) agar AI tidak bisa mengambil data mereka secara gratis. Membeli buku fisik secara massal lewat perantara (middlemen) jadi jalan pintas paling praktis buat korporasi AI.

Destructive Scanning: Kenapa Harus Dihancurkan?

Buat kita, menghancurkan buku rasanya brutal dan miris. Tapi dari kacamata bisnis dan efisiensi, pemindaian destruktif (destructive scanning) adalah pilihan paling cepat dan murah.

Membalik halaman buku satu per satu tanpa merusak jilidnya memakan waktu lama dan biaya tenaga kerja yang mahal. Dengan memotong punggung buku:

  • Lembaran kertas lepas bisa langsung dimasukkan ke pemindai otomatis (industrial automatic document feeder).
  • Ribuan halaman beres diproses hanya dalam hitungan menit.
  • Begitu teksnya masuk ke komputer, bentuk fisik buku dianggap tidak berharga lagi. Memusnahkannya adalah cara paling hemat tempat penyimpanan (storage).

Celah Hukum & Jeritan Penjual Buku Bekas

Gimana bisa praktik ini lolos secara hukum? Industri AI memanfaatkan celah hukum di Amerika Serikat bernama Doktrin Penjualan Pertama (First-Sale Doctrine).

Di bawah hukum hak cipta AS:

Siapa pun yang membeli buku fisik secara sah punya hak penuh atas barang tersebut. Pemilik baru bebas menjual kembali, mewarnai, memotong, bahkan memusnahkannya.

Pengadilan menilai memindai buku yang dibeli secara sah untuk melatih AI tergolong fair use (penggunaan wajar) atas fisik barang.

Namun, dampak lapangannya bikin prihatin. Pedagang buku bekas di AS dan Eropa melaporkan adanya lonjakan pesanan borongan dalam jumlah raksasa dari pembeli misterius. Masalahnya, buku-buku langka, edisi terbatas, dan literatur yang sudah tidak dicetak lagi (out-of-print) ikut tersedot dan hancur selamanya.

“Stok buku cetak langka yang jumlahnya tinggal sedikit di dunia ini akhirnya lenyap begitu saja dari peredaran publik,” keluh seorang pedagang buku bekas di Eropa.

Reality Check: Mitos vs Fakta Sebenarnya

Supaya tidak terjebak dalam kepanikan moral (moral panic), yuk cek perbandingannya secara obyektif:

Sudut Pandang Persepsi Populer / Isu Heboh Reality Check & Fakta Lapangan
Jenis Buku Dikira manuskrip kuno ratusan tahun yang dihancurkan. Sebagian besar adalah buku bekas umum abad ke-20. Namun risikonya, edisi terbatas yang tersisa sedikit ikut musnah tanpa disengaja.
Keberadaan Teks Menganggap ilmu di dalam buku itu hilang lenyap selamanya. Isinya berhasil diubah jadi data digital, tapi disimpan di server privat korporasi, bukan untuk perpustakaan publik.
Tujuan Pemindaian Dianggap kejahatan perusakan buku murni. Destructive scanning sebenarnya standar industri arsip/perpustakaan untuk digitalisasi cepat. Bedanya: Perpustakaan melakukannya untuk akses publik, sedangkan AI untuk kepentingan komersial rahasia.

Sisi Etika & Spiritual: Biar Nggak Cuma Canggih, Tapi “Berkah”

Pemusnahan buku demi keuntungan komersial AI memicu pertanyaan mendalam: Bagaimana kita menghargai ilmu pengetahuan?

Dalam artikel opini “Menjaga Barokah di Era AI” oleh WaalidPerfume, diingatkan bahwa ilmu tidak cuma dihitung dari seberapa canggih hasil akhirnya, tapi juga dari keadaban proses mendapatkannya.

  • Adab Terhadap Ilmu (Adab al-‘Ilm): Sejarah mencatat pemusnahan buku fisik selalu menyisakan trauma—seperti Tragedi Pemusnahan Perpustakaan Baghdad tahun 1258. Ketika buku dihancurkan hanya demi memberi makan algoritma komersial yang tertutup, ada nilai penghormatan terhadap ilmu yang tercederai. Imam Syafi’i pernah menegaskan: “Ilmu adalah apa yang bermanfaat, bukan sekadar apa yang dihafal.”
  • Tanggung Jawab Kita Sebagai Konsumen: Kita sering kali cuma menikmati kepraktisan AI buat bikin tugas atau cari jawaban instan. Namun, QS. Al-Maidah ayat 2 mengingatkan untuk tidak saling tolong-menolong dalam perbuatan yang merugikan. Mengonsumsi teknologi tanpa peduli asal-usul datanya bisa bikin kita jadi konsumen yang pasif dan acuh.

Terus, Kita Harus Gimana?

AI adalah alat yang sangat canggih dan berguna, tapi jangan sampai bikin kita kehilangan daya kritis dan nilai moral. Ini beberapa langkah nyata yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda:

  1. Dukung Data Transparency: Pilih dan dorong platform AI yang terbuka soal sumber data latihannya (open datasets) serta menerapkan prinsip Ethical AI.
  2. Rawat & Hargai Buku Fisik: Di tengah gelombang pemusnahan kertas, menjaga perpustakaan pribadi atau koleksi buku di rumah adalah tindakan nyata menyelamatkan warisan literasi manusia.
  3. Gunakan AI Secara Bijak & Kritis: Jadikan AI sebagai alat bantu (tools) untuk belajar dan berkarya, tanpa menelan mentah-mentah hasil jawabannya.

Keberkahan dan nilai dari ilmu pengetahuan tidak diukur dari seberapa cepat algoritma menjawab pertanyaan kita, melainkan dari seberapa bijak kita menghormati proses, manusia, dan media di balik ilmu itu sendiri.

Abu Faris (Praktisi Digital Marketing-Urban Farming-Permaculture Designer Certified)

Dukung Jurnalisme cerdas & bijak, https://sociabuzz.com/warta_pilihan/tribe