Pernahkah kita bertanya, makhluk apa yang paling berjasa di lautan? Tuna, duyung atau Coral?
Wartapilihan.com, Bogor– Bukan. Yang paling berjasa justru yang tak kasat mata, phytoplankton. Mahluk kecil ini menyerap cahaya matahari, melakukan fotosintesis, menghasilkan oksigen dan menciptakan energi. Dari phytoplankton lah dimulai aliran kehidupan laut.
Dalam rantai makanan energi mengalir dari phytoplankton ke zooplankton, lalu ke ikan ikan kecil, lanjut ke ikan besar, sampai ke predator puncak. Tapi dari 10.000 kalori energi yang dihasilkan phytoplankton, tidak lebih dari satu kalori yang sampai ke paus. Semakin panjang rantai makanan, semakin banyak yang hilang. [Odum, 1971]
Namun, laut menyimpan kebijaksanaan. Paus biru yang raksasa tak memburu ikan besar. Ia makan langsung krill, makhluk kecil hasil rantai pertama. Alam mengajari kita efisiensi.
Jasa phytoplankton tak berhenti di sana. Phytoplankton merupakan produsen utama asam lemak omega-3 rantai panjang seperti DHA (Docosahexaenoic Acid) dan EPA (Eicosapentaenoic Acid).
Melalui jalur biosintesis enzimatik, phytoplankton mengubah asam α-linolenat (ALA) menjadi EPA dan DHA melalui tahapan desaturasi dan elongasi . Kemampuan ini hanya dimiliki oleh sebagian mikroalga laut, terutama kelompok dinoflagellata dan diatom. [Guschina & Harwood, 2006; Napier et al., 1999]
DHA sangat penting bagi perkembangan otak dan retina, terutama pada masa kehamilan dan awal kehidupan bayi. Konsumsi cukup DHA oleh ibu hamil terbukti meningkatkan berat badan lahir, mengurangi risiko kelahiran prematur, dan mendukung perkembangan kognitif anak. [Innis, 2007; Koletzko et al., 2008]
Ikan-ikan yang kita konsumsi, seperti salmon dan tuna, sebenarnya hanya menjadi ‘penyimpan’ DHA dan EPA karena mereka memakan zooplankton yang sebelumnya mengkonsumsi phytoplankton. Maka bila dasar rantai ini terganggu, dampaknya akan menjalar hingga ke piring makan kita [Arts et al., 2001].
Sayangnya, manusia kerap lupa. Kita mencemari laut dengan logam berat, pestisida, mikroplastik, dan limbah industri. Kita rusak ekosistem tempat phytoplankton hidup. Maka, bukan hanya ikan yang hilang. Tapi juga makanan otak anak-anak kita.
Ancaman serius muncul juga dari praktik manusia yang merusak ekosistem laut. Limbah industri, tumpahan minyak, dan akumulasi mikroplastik telah terbukti menurunkan produktivitas dan keanekaragaman phytoplankton.
Belum lagi dampak penambangan besar-besaran, baik di darat maupun eksplorasi laut dalam, yang membawa sedimen, logam berat, dan bahan kimia ke perairan. Ini bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga masalah gizi nasional dan kualitas generasi penerus bangsa. [GESAMP, 2015; IPCC, 2023]
Jika phytoplankton punah, hilang sudah sumber utama DHA dan EPA. Maka, persoalan laut tak lagi sekadar soal ekologi. Ia menjadi penyebab pudarnya masa depan bangsa.
Tidak boleh ada pertukaran antara pembangunan ekonomi dan kerusakan ekologis yang berdampak pada masa depan anak-anak kita. Menambang emas atau nikel, tidak boleh dibayar dengan hilangnya kecerdasan generasi Indonesia. Karena ketika phytoplankton punah, yang hilang bukan hanya plankton, tapi juga fondasi gizi dan peradaban.
Mari belajar dari laut. Gunakan energi kita pada yang esensial. Jangan boros. Jangan rakus. Jangan rusak sumber kehidupan hanya karena kita lalai. Karena ketika kita meracuni laut, sebenarnya kita sedang meracuni generasi kita sendiri.
Kita sedang bicara tentang laut. Tapi tidak hanya tentang ikan. Kita bicara tentang otak dan kecerdasan anak kita. Tentang masa depan bangsa yang bisa maju, atau hancur, tergantung pilihan dan sikap kita hari ini.
Dr. Ir. Agus Somamihardja (Pegiat Pangan Lokal, Alumni IPB University C-20)

